#KencanSeminggu bersama Datsun Go+ Panca ituh..

Minggu lalu, saya dikontak MPM AUTO.
Mereka menawarkan untuk meminjami saya sebuah mobil Datsun Go+ Panca, seri keluaran terbaru dari Datsun, untuk #KencanSeminggu.

MPM AUTO sendiri adalah sebuah dealer mobil yang menggawangi penjualan mobil bermerek Nissan dan Datsun di Indonesia.

Daaan inilah mobil Datsun Go+ Panca dari MPM AUTO.

image

Mobil Datsun Go+ Panca bergigi manual.
Cukup ringan dan udah ada teknologi Power Steering. Oke banget buat pemula yang belajar nyetir mobil dan beralih dari penggunaan motor ke mobil.

Datsun Go+ Panca juga berkapasitas lumayan besar. Ada 3 baris kursi di dalam mobil ini, dimana baris kedua dana baris ketiga bisa dilipat bila membutuhkan ruang penyimpanan bagasi yang lebih luas.
Kapasitas ruang bagasi awalnya sih 48 liter, tapi cukup dengan melipat kursi baris ketiga, bisa langsung dibengkakkan jadi 347 liter.

Yang saya suka itu bentuk kursi dan sandaran kepalanya. Di mobil saya, sandaran kepala rada kurang pas gitu. Tapi di Datsun Go+ Panca ini entah kenapa rasanya bentuk kursinya pas sama punggung.
Mereka sih mengklaim bahwa kursi ini sudah didesain sebagai Spinal Seat. Dimana beban pada tubuh akan diminimalkan, sehingga mengurangi aktivitas otot dan kelelahan.

Sebenarnya ada 5 pilihan warna Datsun Go+ Panca. Tapi dari MPM AUTO memberikan warna putih ke saya.
Ini 5 macam pilihan warna lainnya.

Yang unik juga, kursi depan mobil ini tersambung panjang. Hahaha.
Seru.
Lumayan bisa buat tempat naruh dompet atau tas gitu. Secara emak-emak ya. Suka rempong banyak bawaan..

Selama seminggu ditemenin Datsun Go+ Panca ini kesana-sini, saya lumayan terkesan. Untuk mobil di target segmennya, mobil ini lumayan ringan, berbody luar dengan bentuk lumayan keren, dan AC nya dingiiin hahaha.
Ini penting ya buat di jalanan Jakarta yang suka super gerah.

Pengen test drive mobil Datsun? Bisaa..
Ke MPM AUTO aja.
Coba tanya-tanya ke twitternya di @MPMAuto.
Atau isi formulir di websitenya ini : http://mpm-auto.com/test-drive

Rana dan Termometer Digital ituh..

image

Daku beli termometer VinMed ini tahun 2012. Waktu itu Rana sedang demam tinggi dan mulai gampang memberontak. Setelah browsing sana-sini, nemu beberapa merek termometer digital yang katanya cepet banget keluar hasilnya. Kok ya Rangga nemunya yang merek VinMed ini di apotek Mahakam.
Harganya sekitar 400ribuan waktu itu.
Gak tau deh sekarang harganya berapa..

Rana semalam demam tembus 38.
Penyebabnya entah apa.
Gak pilek gak batuk.
Cuma kok sehari sebelumnya pup sampe 5 kali.
Diare?
Mmm.. Kayaknya bukan juga melihat tekstur pupnya.

Semalam abis pulang meeting, berusaha cek suhu Rana pake termometer digital VinMed yang tinggal dimasukin ke kuping, dan cuma butuh 1 detik buat tahu suhu badan.
Rana kesal, dan berusaha menutup kupingnya ketika emaknya minta ijin memasukkan termometer ke kupingnya. Hahaha.
Setelah gagal nego berkali-kali akhirnya dipeluk kenceng-kenceng sampe anaknya gak bisa gerak deh biar termometer masuk lubang kuping. 😑

Tadi pagi abis sahur, daku mau cek lagi suhu Rana.
Anaknya masih tidur.
Tidur lelap.
Sampe mulutnya terbuka.
Kesempatan baik, langsung ambil termometer dan berusaha masukin ke lubang kuping.
Eh.. Baru kena cupingnya dikit, tiba-tiba anaknya nutup kuping pake tangan dan langsung duduk nangis sambil teriak :
“Udah! Gak Au! Udah!”

Lhaaaaa.. :mrgreen:
Hahahaha..
Kok anaknya langsung siaga 1 gitu yaaa hahaha…

Akhirnya daku peluk paksa deh.
Sambil minta ijin, daku masukin termometer ke kuping kiri Rana.
Sedetik kemudian hasilnya keluar, daku tunjukkan ke Rana yang masih mewek.

“Wah lihat. Suhu Rana tiga enam koma enam. Tuh lihat angkanya..”

Rana yang mewek sejenak terdiam melihat angka yang tertera di layar termometer.
Lalu masih sambil lanjut mewek, Rana bilang:
“Satu lagi.. Huhuhu… Satu lagi.. Yang kanan.. Yang kanan.. Huhuhu.. ”

Lho?
Hahahahaha..
Kok malah nagih minta lagiii..
Hahaha..
:lol:

Nastar Lebaran ituh..

Ketika kecil, hampir di setiap lebaran di Sidoarjo.
Di tempat Eyang Putri dan Eyang Kakung dari pihak Ibu berada.

Dulu, waktu kecil, saya inget banget deh, sering diajak Tante dan Eyang Putri bikin nastar.
Hahaha..
Ya saya sih gak bisa masaaaaak..
Gak ngerti cara bikinnya.
Cuma biasanya saya akan ditawari untuk berperan serta dalam ritual pembuatan nastar.

Biasanya Tante dan Eyang Putri sudah menyiapkan adonannya, saya bertugas membentuk bulatan-bulatan nastar, menyelipkan selai nanas (bikinan sendiri lho) ke tiap bulatan adonan lalu mengoleskan mentega di atasnya, dan menaburkan irisan keju kraft.
Lalu ada kue keju kering.
Ada kue coklat.
Banyaaaak…

Eyang bener-bener pake keju Kraft.
Menurut Eyang sih cuma itu yang enak buat kue-kue bikinan beliau.
Ya saya mana ngerti soal bikin kue kan.
Manggut-manggut ajalah kalau beliau ngomong begitu.

Setelah itu Tante dan Eyang Putri akan membawa loyang-loyang adonan ke dalam oven.
Dan saya akan setia menanti di depan oven sampai bosan, dan akhirnya memilih bermain keluar rumah.
Hahaha..
Ya emangnya kue nastar matang di dalam oven cuma 5 menit gitu..
Hahaha…

Dan Eyang Putri itu masakannya enak-enaaak.
Berkali-kali Ibu saya usul ke Eyang untuk membuat catering, tapi Eyang malas-malasan menganggapi usul itu.
Gak lupa selalu ada opor ayam dan bistik daging tersedia dalam jumlah besar di meja makan rumah Sidoarjo.

Sejak saya SMP, saya mulai malas membantu Tante dan Eyang Putri.
Dan tetap saja makanan-makanan itu setia tersaji untuk anak cucu beliau.
:’)

Menjelang Pengumuman PilPres kemarin, di antara nonton video-video 60 DETIK AJA BUAT KAMU YANG MASiH BINGUNG, saya nyasar nemu video soal “JADIKAN RAMADHAN ISTIMEWA” dari Kejumooo.
Trus, entah kenapa, saya rasanya nelangsa nonton video itu..

Link: http://www.youtube.com/watch?v=BTfE2fuuFTc

Tiba-tiba ingat sama rumah dimana saya biasa melewati lebaran tiap tahun sejak kecil, selama 30 tahun, tak akan saya kunjungi lagi.
Karena Eyang Putri di awal tahun ini meninggal.
Menyusul Eyang Kakung yang sudah menghadap Allah SWT 12 tahun lalu.
Dan rumah tersebut akan dijual karena kondisinya sudah rusak dan tidak ada yang menempati lagi.

Ah, mendadak saya kangen betul membikin nastar bareng Tante dan Eyang Putri.
Saya kangen kue-kue toples lebaran bikinan Eyang Putri.
Saya kangen mengotori tangan saya dengan adonan kue, dengan selai nanas, tepung terigu, dengan irisan keju..

Mungkin.. Mungkin ini saatnya saya belajar masak kali ya.. :|
Apalagi liat resep-resepnya Chef Marinka di www.kejumooo.com kok kayaknya gampang-gampang bikinnya.
Tuh kayak nastar keju Kraft disini.
Kayaknya gak susah deh.

 

Ah, jadi makin kangen sama nastar bikinan Eyang.
Al Fatihah untuk Eyang Putri.
Semoga beliau tenang di sisi-Nya.

Trik Menghadapi “GAK AU!”-nya Rana ituh..

Makin ke sini makin ngerti cara menyiasati Rana yang lagi masuk fase serba “GAK AU!” ke semua-semuanya..
Dikasih pilihan yang menghindari jawaban “mau” atau “gak mau”.

Misalnya, semalem…

Me: “Rana mau roti gak? Ini ada roti lapis..”
Rana: “GAK AU!”
Me: “Ini rotinya ada warna coklat dan warna kuning. Rana mau yang coklat atau yang kuning?”
Rana: “..Okat..”
Me: “Oh coklat.. Silakan..”
Rana: *ambil roti lapis coklat*

Yay!
*ngakak*
*merasa sukses memanipulasi*

—————-
Update. 25 Juli 2014.

Contoh lain, ketika mau mandi.

Me: “Rana, mandi yuk..”
Rana: “Gak Au!”
Me: “Eh, Rana mau mandi sama gajah? Mau gajah kuning atau gajah merah?”

Dan daku mengeluarkan beberapa gajah plastik berwarna-warni dari toples.
Rana terdiam. Memandang gajah-gajah mininya.

Rana: “Ajah Elah..” (red ~ gajah merah)
Me: “Gajah merah? Oke. Gajah merah harus mandi. Rana mandiin gajah merah pakai apa? Pakai gayung merah atau gayung kuning?”

Daku masuk kamar mandi, mengambil gayung merah dan gayung kuning (yang ukurannya kecil dan biasanya dipakai Rana untuk menyiram dirinya sendiri).
Daku acungkan ke Rana dari dalam kamar mandi.

Rana: “Uning. Unya Anya!”
Me: “Betuuulll.. Punya Ranaaa..”

Dan bocahnya lari ke dalam kamar mandi.
Yes!
Langsung tutup pintu.
Dia terjebak!
Hahahahaha!

“GAK AU!”-nya Rana ituh..

image

Itu foto Rana, di sekolah yang baru.
Melirik curiga semua orang yang baru dilihatnya. 😅😅
Termasuk gurunya.

Mulai awal bulan Juli ini, Rana masuk ke sekolah dekat rumah.
Putik Cinere.
Jarak sekolahnya cuma 5 menit dari rumah kalau naik mobil.
Lumayan berasa surga setelah berbulan-bulan nganter Rana masuk kelas di Rumah Main Cikal yang lokasinya di FX Senayan.

Nah, Rana sepertinya sedang masuk fase waspada orang asing. Bersamaan juga masuk fase hobi ngomong “GAK MAU!” di setiap kesempatan.
Perlu adu silat lidah berkelit kesana kemari dan ngobrol panjang lebar sampai dia akhirnya mau bergerak sesuai arahan.

Misalnya mau ngajak Rana masuk pendopo sekolah nih..

Me: “Rana masuk pendopo yuk. Bu Guru mau mendongeng..”
Rana: “GAK AU!”
Me: “Gak mau? Hmmm.. Kalau lepas sepatu mau gak?”
Rana: “GAK AU!”
Me: “Hmmm.. Kalau gitu mau lepas sepatu yang kanan dulu atau yang kiri dulu?”
Rana: “Atu anan..”
Me: “Oh sepatu kanan.. Oke yuk dilepas..”
Rana: “GAK AU!”
Me: “Oke. Mama lepas sepatu dulu kalau gitu ya. Mama lepas sepatu yang kiri dulu deh.. (sambil lepas sepatu di tangga pendopo)”
Rana: “(melihat kaki emaknya. Lalu melihat kaki sendiri) Epas atu anan aja..”
Me: “Oh mau lepas sepatu kanan aja.. Boleh..”

Rana melepas sepatu kanan pelan-pelan.

Me: “Mama lepas sepatu kanan ah.. Ikut Rana ah..”
Rana: “Epas atu kiri.. (dia melepas sepatu kirinya)”
Me: “Waaah! Sudah lepas semua! Horeee!”
Rana: “Oleee…”
Me: “Sekarang kita bisa masuk pendopo..”
Rana: “GAK AU!”

Daan masih panjang lagi..
😑😑😑😅😅😅

Menurut buku-buku sih, fase ini fase penting. Karena mulai muncul kesadaran diri mereka bisa menolak sesuatu. Dan anak sedang giat-giatnya asik melakukan kebiasaan barunya, menolak sesuatu. Katanya sih fase ini akan berlalu. Tinggal sabar-sabar aja ngadepinnya..
Hahaha.
*fiuh*

Aku jadi pengen pukpuk gurunya Rana besok kalo udah harus ditinggal sendiri masuk kelas. Hahaha..
Yang sabar ya, Buuuu..