Captain Jack Pre Launch Album SomeThink About
November 30, 2005 @ 11:34 pm | 25 yang kebangetan
Captain Jack band present :
“SomeThink About Ourself”
Accoustic Show With :
|
Media Conference
Pre Launch AlbumSome Think About
|
“SomeThink About Ourself”
Accoustic Show With :
|
Media Conference
Pre Launch AlbumSome Think About
|
*dapet dari milis DRS. What a shame..*
Date: Thu, 24 Nov 2005 03:25:37 -0800 (PST)
From: tersenyum
To: imc-jakarta@lists.indymedia.org
Subject: [Indymedia-jakarta] Tragedi Akademik paling memalukan
Tragedi Akademik paling Memalukan
Senin, 23 November 2005, sekitar pukul 11.15-an, di hall Universitas Islam Negeri (IAIN Sunan Kalijaga) Yogyakarta, saya kira bisa dibilang sebagai “insiden akademik yang paling memalukan tahun ini”. Dalam diskusi publik “Refleksi Sosial Agamawan terhadap Kenaikan Harga BBM di Indonesia” itu hadir sebagai pembicara Prof. DR. Musa Ansyari, Ustadz Ja’far Umar Thalib, dan DR. George Junus Aditjondro. Sedang Prof. DR. Mochtar Mas’ud tidak bisa hadir.
Seperti biasa, ketiga pembicara memberi paparan awal sebagai pengantar diskusi. Dua akademisi, Musa dan Aditjondro, melengkapi paparan dengan makalah lengkap beserta data-data. Aditjondro dengan makalah “Disandera Kabinet Pedagang Migas: Membongkar Kepentingan-kepentingan Domestik dan Internasional di Balik Kenaikan Harga BBM di Indonesia”, dan Prof. Musa dalam kapasitasnya sebagai representasi Departemen Komunikasi dan Informatika memberi dalih lewat “Latar Belakang dan Kebijakan Mengenai BBM”. Sedang Ja’far melisankan semua paparannya, tentu dengan perspektif agama Islam.
Pada saat sesi tanya jawab, ada 5 penanggap dari floor yang dengan segera direspon balik oleh ketiga pembicara, dimulai dari Musa, Ja’far dan terakhir Aditjondro. Musa senderung defensif dan membela pemerintah. Memang itulah wilayahnya. Tak menjadi soal. Ja’far menjawab dengan pendekatan norma2 agama seperti laiknya ustadz yang baik. Nah, ketika respon balik inilah Aditjondro mencoba memberi perluasan cakupan persoalan dengan membeberkan banyak (kemungkinan) praktik konspirasi dalam banyak kasus bisnis militer dalam industri perminyakan di Indonesia. Hingga ihwal dugaan Prabowo yang memiliki dua kaki di Laskar Jihad dan kelompok Nasrani dalam konflik Maluku untuk menjaga keberlangsungan bisnis minyaknya di sana. Semua dipaparkan dengan runtut beserta dukungan data dan argumentasi yang masuk akal. Beberapa kali respon riuh dari audiens menimpali paparan Aditjondro ini. Juga ketika itu Aditjondro dengan cukup panjang memberi perspektif Islam dari garis pemikiran Arkoun (dan pemikir Islam progresif lain) untuk dibumikan dalam menyikapi problem sosial di tanah air. Juga tentang resistensi Gus Dur, dan lainnya deh…
Nah, ketika sesi kedua akan dibuka oleh moderator inilah, tiba-tiba Ja’far meminta waktu untuk bicara kembali. Di sinilah awal “tragedi” itu terjadi. Ja’far langsung membuka responsnya dengan: “Kita telah mendengarkan gosip gaya ibu-ibu PKK dari intelektual bernama doktor George Aditjondro”. Audiens segera terhenyak. Mereka kaget. Suara Ja’far lambat laun makin keras, intonasinya kian tegas, jarinya sesekali menunjuk-nunjuk, juga mengepalkan tangan kanannya. Audiens segera merespons dengan melontarkan kata2: “Bubar saja! Sudah tidak kondusif!” Atau “Huuuu, payah!”, “Tidak intelek!” dan lainnya. Sementara beberapa pendukung Ja’far berteriak: Allahu Akbar, Allahu Akbar!!
Moderator yang suaranya mungil tak digubris Ja’far.
Sebaliknya Ja’far kian tak terkontrol. Bicaranya kemana-mana!
Antara lain, “Siapa yang mendalangi kerusuhan Maluku? Gereja!!! Pendeta Damanik-lah dalang kerusuhan di sana!”
“Gus Dur Jangan Dipercaya! Gus Dur Adalah Presiden Paling Sinting dalam Sejarah Indonesia!!!”
“Siapa yang Teriak-teriak itu, Marilah Berkelahi dengan Saya Setelah Acara Ini!”, teriaknya lantang sembari berdiri dan tangan kanannya menggebrak meja.
Diskusi betul2 kalang kabut. Mahasiswa UIN yang kemungkinan berbasis organisasi PMII (Perhimpunan Mahasiswa Islam Ind yang berafiliasi ke NU) berteriak riuh-rendah. Wajar, wong Gus Dur dilecehkan. Anak2 buah Ja’far demikian juga. Mereka teriak dan menuding agar mahasiswa jangan kabur (seperti mau menantang berkelahi). Untung saja belum ada kursi yang melayang. Dan moderator dengan segera membubarkan acara setelah Ja’far berhenti bicara, bukan menghentikan bicaranya. Musa segera merangkul Ja’far dan memisahkan diri dari moderator dan DR. Aditjondro. Ja’far masih terlibat perbincangan dengan Musa dan beberapa dosen UIN. Sementara puluhan mahasiswa/i ramai2 mendekati DR Aditjondro untuk menyalami, dan beberapa di antaranya berucap: “Saya mendukung Anda, Pak!” Beberapa malah langsung meminta nomor hape.
Silakan Anda akan memberi penilaian atas insiden tersebut. Sementara bagi saya , kasus ini kiranya telah memberi gambaran yang cukup jelas bahwa,
(beberapa) sosok pemimpin umat Islam di Indonesia belum mampu menyiapkan dirinya untuk berkomunikasi secara bi/multilateral dengan baik, dewasa, argumentatif dan apalagi ilmiah. Mereka, seperti kasus Ja’far, masih terbiasa menjadi pelakon monolog yang berbicara satu arah tanpa mengesampingkan dialog. Jangankan ketika menghadapi ilmuwan semacam DR Aditjondro, terhadap Gus Dur pun yang sesama Islam sosok Ja’far betul-betul asbun tanpa memiliki eksplanasi yang argumentatif. ustadz semacam Ja’far masih sangat patriarkhis garis pemikirannya. Dengan mengolok-olok omongan DR Aditjondro tak lebih seperti gosip ibu2 PKK, maka Ja’far dengan tegas memberi alamat bagi omongan yang dianggap tidak bermutu adalah milik perempuan. Ini memprihatinkan. Ja’far telah membuat pelecehan akademis/intelektual terhadap dua pihak, yakni kampus UIN dan sosok DR Aditjondro. Dia melecehkan konteks ruang akademik/intelektual yang dibangun di UIN, dan sekaligus terhadap DR Aditjondro yang dinafikkan seluruh kajian dan data empiriknya sebagai ilmuwan dan peneliti. kita bisa beroleh kesan teramat kuat bahwa Ja’far Umar Thalib adalah ustadz preman.
Apa boleh buat?
As per below, until the situation stabilizes, Dream Theater will not be
touring in Indonesia.
Kind regards
AlxU.S. EMBASSY WARDEN MESSAGE
November 18, 2005
U.S. Embassy Jakarta
U.S. Consulate General SurabayaWarden Message
The U.S. Embassy reminds Americans in Indonesia of the continued
serioussecurity threat to Americans and other westerners in Indonesia. The
information obtained in the November 9 raid in which Indonesian police
killed Jemaah Islamiyah (JI) terrorist Azahari Bin Husin shows that
JI-affiliated terrorists were in the advanced stages of planning
additionalattacks against westerners in Indonesia. Specifically, the police
discovered in the raid 35 bombs prepared and ready to use in attacks. Police also found a videotaped threat from a hooded terrorist who threatened specific attacks against Americans, Australians, British and Italians. The Embassy and against Americans, Australians, British and Italians. The Embassy and the Indonesian Government take these threats very seriously.
The Juliana Theory - “This Is A Lovesong…For The Loveless”
Gara-gara liat blogz Riyo yang posting his blog’s worth @ technorati, jadi pengen nyoba juga nih. Dan ternyata, maap Riyoo.. blogz gw lebih worthy dari blogz anda.. Hehe.. j/k

My blog is worth $16,936.20.
How much is your blog worth?
ANTARA MUSISI, EVENT ORGANIZERS,
DAN KERTAS BERHARGA BERGAMBAR PAHLAWAN NASIONALPunya band?
Pengen jadi pemusik?
Pengen punya kehidupan yang beda dari orang kebanyakan (jadi musisi misalnya)?Jangan deh!!Rugi!!Gak menjamin bisa hidup enak!!
Gak begitu aturan mainnya di negara ini, dan ini bisa kita liat pada hanya segelintir manusia yang bisa. Percaya gak?!
Djokdja, kota yang punya banyak koleksi musisi yang bisa dibilang keren.
Kota ini punya pemusik-pemusik dari berbagai macam genre.
Beberapa udah sukses, beberapa udah malang melintang cukup lama hingga banyak dikenal, dan sebagian besar masih luntang-lantung cari jalan buat tetap bisa bertahan di musik.Ya, yang pasti semua terus berjuang untuk mencapai apapun yang mereka inginkan dari bermusik, untuk uang, publisitas, pengakuan, pelepasan emosi, dan hal-hal lain yang menurut mereka bisa didapatkan dengan bermusik (ini tidak termasuk yang cuma buat main-main, buat hiburan, atau menggaet lawan jenis). Karena aku yakin banyak teman-teman yang setuju bahwa musik bukan semata hiburan, tapi juga merupakan way of life.
Cut the bulls**t, and lets get to the point shall we!
Ini cuma buat yang setuju sama hal ini! Yang tidak?
Terserah!!
It’s a free world, everyone have their own piece of mind…
Ada beberapa pertanyaan bro? Apa bisa jadi pemusik menjamin hidup? Apa bisa suatu saat pemusik dihargai layaknya karyawan bank, pegawai negeri, atau apalah!!Ada suatu hal yang ironis disini. Banyak teman-teman dengan potensi luar biasa, menyerah, stop main musik karena udah nggak bisa menjanjikan apa-apa lagi, jalan mereka kandas oleh kebutuhan hidup layaknya orang-orang normal, dan apa ini karena Sistem?
Karena belum ada cukup penghargaan buat siapapun yang memilih jadi pemusik, baik dari generasi terdahulu maupun sekarang?
Mau sampai kapan dunia musik kita berjalan begini, padahal beberapa tahun belakangan ini, para pendengar musik, baik yang cuma iseng, atau yang benar udah Addict tuh buuaaanyak banget…!!
Bahkan sampai rela ngorbanin banyak hal.”Lah!!”
Terus kenapa masih banyak pemusik bagus yang gugur oleh kebutuhan hidup?
Di negara yang punya rating pembajakan tinggi ini, sepertinya sulit buat pemusik dapat menggantungkan hidup dari royalti penjualan records mereka.
Lagi pula daya beli masyarakat rendah, terpaksa para musisi menggantungkan hidupnya lebih pada Gigs mereka.
Tapi inti masalahnya adalah, kenapa banyak orang yang buat acara musik nggak mau ngerti betapa berharganya musik, berapa banyak orang yang mengganggap musik itu berharga, dan bukan cuma hiburan.Event Organizing memang sebuah bisnis. Dan business is business,bro!
Tapi udah saatnya pihak-pihak EO sedikit peduli dengan Partner kerja mereka (Aku tegaskan lagi Partner, bukan sesuatu yang harus diperas dan dieksploitasi) yaitu pemusik, dengan penghargaan yang sesuai, setimpal dengan kerja pemusik.Ada beberapa kasus dimana band-band yang udah punya Record ,baik independen ataupun mayor dihargai sangat murah dan sedikit tidak manusiawi pada beberapa acara musik, hingga akhirnya EO lain yang mengadakan acara pada waktu-waktu berikutnya juga ikut-ikutan ngasih harga penawaran yang rendah, pada akhirnya menjatuhkan harga pasaran band-band yang udah punya nama, dan akhirnya dalam jangka panjang harga buat musisi-musisi djokdja kebanting abis-abisan.
Kalo band-band yang udah punya nama aja dihargai rendah, gimana nasib band-band yang masih berjuang?“okelah!”
Beberapa band yang punya modal besar bisa naik dan bertahan, yang tidak?
Gilanya lagi,akibat penawaran dari EO yang kian turun membuat beberapa band yang udah punya nama cukup besar, dengan egoisnya menurunkan harganya lebih rendah dari band-band selevel mereka, hingga terjadilah konflik tak terlihat antara band-band yang seharusnya saling dukung.Man, can u see? This suck situation is getting worse!!
Apa para pemusik harus terus bernasib seperti ini, apa lagi djokdja adalah salah satu acuan kota-kota lain dalam hal musik, bakalan semakin menyedihkan lagi kalau EO kota-kota lain sekitar djokdja juga ikut-ikutan.
Pikir sendiri apa yang terjadi? Bisa jadi musik di djokdja nggak bakal maju untuk kedepannya.Sebenarnya, hal-hal seperti ini bisa diatasin, kalau saja musisi-musisi djokdja mau sedikit meluangkan waktu buat menyatukan suara dan tetap sama-sama jaga harga dalam Riders mereka agar nggak saling merugikan, apa bisa? Yo mbooh yo?
Buat teman-teman sesama musisi yang setuju dengan hal ini, think about it bro!!
Buat yang tidak, anggap aja tulisan ini angin, dan nggak perlu dicaci maki, tiap orang bebas bersuara kan?That’s all bro’s… Ini cuma sedikit curhat, tidak kurang, tidak lebih…
Sebenernya, bentuk penghargaan apa yang paling tepat untuk sebuah kerja keras?
Tapi sebuah penghargaan. Respek serta respon.
Penghargaan dalam bentuk apa aja.
Bisa piala. Bisa piagam. Bisa uang bonus. Bisa predikat employee of the year.
Yang penting, itu sebuah penghargaan, dan disertai sebuah respek.
Bagi sebagian orang, ini menyangkut masalah profesionalitas kerja.
Bagi sebagian orang, ini menyangkut masalah harga diri.
Bagi sebagian orang, ini menyangkut konsistensi perasaan untuk terus berkarya yang dengan hasil terbaik.
Bagi sebagian orang, ini masalah pengakuan terhadap hasil kerja keras.
Contoh kasus yang simpel.
Kamu bantuin temen bikin suatu event. Kamu ikut pontang-panting cari sponsor, menghabiskan banyak waktumu di jalan untuk menyebar proposal, gak tidur 2 hari buat garap design, ngabisin banyak pulsa buat ngubungin orang-orang yang berkompeten buat melancarkan tuh event gak tau gimana caranya.
Kamu rela.
Ikhlas.
Bantuin temen, dan membuat semacam perasaan “aku berguna” tumbuh dalam diri kamu.
Jelas, kamu pengen liat tuh event sukses dan diakui banyak orang.
Kalo itu sampe kejadian, gak tau setan alas mo lewat kek, otomatis bakal ada perasaan bangga dalam diri kamu.
Kamu tau itu.
Tapi temenmu yang kamu bantuin itu, mengambil alih sebagian contact dan link (yang udah kamu bangun dengan lumayan menghabiskan banyak waktumu) tanpa permisi, mengacuhkan hampir sebagian permintaanmu (padahal buat bikin tuh event sukses), ide dan hasil kerja yang setengah jadi diambil alih tanpa konfirmasi,
dan (sepertinya)hampir tidak merespon progress yang kamu buat.
Gak masalah sih buat kamu. Toh demi suksesnya event. Tapi kalo ada redundansi informasi di pihak klien, resiko nama buruk panitia akan membayang tentunya.
Dan tentu saja resiko namamu jadi ngedrop juga ada. Gimana-gimana juga, tuh klien kenal pertama ama kamu.
“Hei, terima kasih.”
Udah, abis itu lewat.
Tanpa kesan.
Tanpa kelanjutan.
Bahkan ucapan terima kasih pun mungkin jarang kamu dapet.
“Oh, udah beres ya?”
Udah, abis itu lewat.
Tanpa kesan.
Tanpa kelanjutan.
Gak, gw yakin lu gak pengen dipuji berlebihan sampe harus bikin encore.
Bukan sanjungan yg lu pengen. Apalagi duit.
Cuma pengen event-nya sukses.
Gak perlu imbalan macem-macem. Apalagi duit dan cari muka.
Cuma sekedar penghargaan dengan respek dan respon yang baik.![]()
Dan lu bakal lebih menggila lagi dalam kerjamu.
Kayaknya susah ya ketemu orang yang punya rasa empatif dan rasa penghargaan yang baik di dunia ini?
Susah gak sih?
Gw baru tidur 4 jam dalam 37 jam terakhir.
Gw kena radang tenggorokan dalam 4 hari terakhir.
Gw demam dalam 5 hari terakhir.
Gw dah makan bubur ayam 4 hari terakhir.
Gw kena vertigo hebat 3 kali dalam 24 jam terakhir.
Gw mual banget dalam 48 jam terakhir..
Gw melemah..