Tragedi Akademik paling Memalukan

*dapet dari milis DRS. What a shame..*

Date: Thu, 24 Nov 2005 03:25:37 -0800 (PST)
From: tersenyum
To: [email protected]
Subject: [Indymedia-jakarta] Tragedi Akademik paling memalukan


Tragedi Akademik paling Memalukan


Senin, 23 November 2005, sekitar pukul 11.15-an, di hall Universitas Islam Negeri (IAIN Sunan Kalijaga) Yogyakarta, saya kira bisa dibilang sebagai “insiden akademik yang paling memalukan tahun ini”. Dalam diskusi publik “Refleksi Sosial Agamawan terhadap Kenaikan Harga BBM di Indonesia” itu hadir sebagai pembicara Prof. DR. Musa Ansyari, Ustadz Ja’far Umar Thalib, dan DR. George Junus Aditjondro. Sedang Prof. DR. Mochtar Mas’ud tidak bisa hadir.

Seperti biasa, ketiga pembicara memberi paparan awal sebagai pengantar diskusi. Dua akademisi, Musa dan Aditjondro, melengkapi paparan dengan makalah lengkap beserta data-data. Aditjondro dengan makalah “Disandera Kabinet Pedagang Migas: Membongkar Kepentingan-kepentingan Domestik dan Internasional di Balik Kenaikan Harga BBM di Indonesia”, dan Prof. Musa dalam kapasitasnya sebagai representasi Departemen Komunikasi dan Informatika memberi dalih lewat “Latar Belakang dan Kebijakan Mengenai BBM”. Sedang Ja’far melisankan semua paparannya, tentu dengan perspektif agama Islam.

Pada saat sesi tanya jawab, ada 5 penanggap dari floor yang dengan segera direspon balik oleh ketiga pembicara, dimulai dari Musa, Ja’far dan terakhir Aditjondro. Musa senderung defensif dan membela pemerintah. Memang itulah wilayahnya. Tak menjadi soal.

Ja’far menjawab dengan pendekatan norma2 agama seperti laiknya ustadz yang baik. Nah, ketika respon balik inilah Aditjondro mencoba memberi perluasan cakupan persoalan dengan membeberkan banyak (kemungkinan) praktik konspirasi dalam banyak kasus bisnis militer dalam industri perminyakan di Indonesia. Hingga ihwal dugaan Prabowo yang memiliki dua kaki di Laskar Jihad dan kelompok Nasrani dalam konflik Maluku untuk menjaga keberlangsungan bisnis minyaknya di sana. Semua dipaparkan dengan runtut beserta dukungan data dan argumentasi yang masuk akal. Beberapa kali respon riuh dari audiens menimpali paparan Aditjondro ini. Juga ketika itu Aditjondro dengan cukup panjang memberi perspektif Islam dari garis pemikiran Arkoun (dan pemikir Islam progresif lain) untuk dibumikan dalam menyikapi problem sosial di tanah air. Juga tentang resistensi Gus Dur, dan lainnya deh…

Nah, ketika sesi kedua akan dibuka oleh moderator inilah, tiba-tiba Ja’far meminta waktu untuk bicara kembali. Di sinilah awal “tragedi” itu terjadi. Ja’far langsung membuka responsnya dengan: “Kita telah mendengarkan gosip gaya ibu-ibu PKK dari intelektual bernama doktor George Aditjondro”. Audiens segera terhenyak. Mereka kaget. Suara Ja’far lambat laun makin keras, intonasinya kian tegas, jarinya sesekali menunjuk-nunjuk, juga mengepalkan tangan kanannya. Audiens segera merespons dengan melontarkan kata2: “Bubar saja! Sudah tidak kondusif!” Atau “Huuuu, payah!”, “Tidak intelek!” dan lainnya. Sementara beberapa pendukung Ja’far berteriak: Allahu Akbar, Allahu Akbar!!
Moderator yang suaranya mungil tak digubris Ja’far.


Sebaliknya Ja’far kian tak terkontrol. Bicaranya kemana-mana!
Antara lain, “Siapa yang mendalangi kerusuhan Maluku? Gereja!!! Pendeta Damanik-lah dalang kerusuhan di sana!”
“Gus Dur Jangan Dipercaya! Gus Dur Adalah Presiden Paling Sinting dalam Sejarah Indonesia!!!”
“Siapa yang Teriak-teriak itu, Marilah Berkelahi dengan Saya Setelah Acara Ini!”
, teriaknya lantang sembari berdiri dan tangan kanannya menggebrak meja.


Diskusi betul2 kalang kabut. Mahasiswa UIN yang kemungkinan berbasis organisasi PMII (Perhimpunan Mahasiswa Islam Ind yang berafiliasi ke NU) berteriak riuh-rendah. Wajar, wong Gus Dur dilecehkan. Anak2 buah Ja’far demikian juga. Mereka teriak dan menuding agar mahasiswa jangan kabur (seperti mau menantang berkelahi). Untung saja belum ada kursi yang melayang. Dan moderator dengan segera membubarkan acara setelah Ja’far berhenti bicara, bukan menghentikan bicaranya. Musa segera merangkul Ja’far dan memisahkan diri dari moderator dan DR. Aditjondro. Ja’far masih terlibat perbincangan dengan Musa dan beberapa dosen UIN. Sementara puluhan mahasiswa/i ramai2 mendekati DR Aditjondro untuk menyalami, dan beberapa di antaranya berucap: “Saya mendukung Anda, Pak!” Beberapa malah langsung meminta nomor hape.

Silakan Anda akan memberi penilaian atas insiden tersebut. Sementara bagi saya , kasus ini kiranya telah memberi gambaran yang cukup jelas bahwa,

  1. (beberapa) sosok pemimpin umat Islam di Indonesia belum mampu menyiapkan dirinya untuk berkomunikasi secara bi/multilateral dengan baik, dewasa, argumentatif dan apalagi ilmiah. Mereka, seperti kasus Ja’far, masih terbiasa menjadi pelakon monolog yang berbicara satu arah tanpa mengesampingkan dialog. Jangankan ketika menghadapi ilmuwan semacam DR Aditjondro, terhadap Gus Dur pun yang sesama Islam sosok Ja’far betul-betul asbun tanpa memiliki eksplanasi yang argumentatif.
  2. ustadz semacam Ja’far masih sangat patriarkhis garis pemikirannya. Dengan mengolok-olok omongan DR Aditjondro tak lebih seperti gosip ibu2 PKK, maka Ja’far dengan tegas memberi alamat bagi omongan yang dianggap tidak bermutu adalah milik perempuan. Ini memprihatinkan.
  3. Ja’far telah membuat pelecehan akademis/intelektual terhadap dua pihak, yakni kampus UIN dan sosok DR Aditjondro. Dia melecehkan konteks ruang akademik/intelektual yang dibangun di UIN, dan sekaligus terhadap DR Aditjondro yang dinafikkan seluruh kajian dan data empiriknya sebagai ilmuwan dan peneliti.
  4. kita bisa beroleh kesan teramat kuat bahwa Ja’far Umar Thalib adalah ustadz preman.


Apa boleh buat?

30 comments on “Tragedi Akademik paling Memalukan

  1. Hahahhahaa…!!!!!
    Berarti emang udah beken tuh IAIN ya?
    :p

    Btw, temen papaku banyak yang orang IAIN. IAIN sendiri, menurut seorang teman, terbagi jadi beberapa kalangan. Ada yang moderat, sampe ke fundamentalis.

    Nah, ada cerita, ketika seorang dosen IAIN yang moderat tersingkirkan sampe cuma jatah ngajar yang sangat minim (lupa juga cerita detilnya gimana :p) gara-gara dianggap membahayakan image universitas.
    CMIIW..

    Tapi sekali lagi, gw orang awam bab IAIN.. :p

  2. iseng ahh ngasih comment, biar blog nya tika rada rame :p
    bagi saya yg jadi fokus adalah ucapan jafar, sebuah omongan yg seharusnya tidak keluar dari seorang ustadz (atau memang tidak layak disebut ustadz)
    dan mungkin juga omongan Aditjondro. dialog kedua orang tsb menunjukkan adanya ketidakrukunan antara muslim dan nasrani.
    saya jadi teringat dg sebuah artikel yg menunjukkan bahwa seorang syaykh (wakil kaum muslim)juga bisa hidup rukun, damai dan penuh toleransi dg seorang pendeta (wakil kaum nasrani).
    kalau mau baca sendiri silahkan buka di http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/a/abdussalam/al-zaytun/toleransi3.shtml

    btw, tik, kapan qt lulus? :p

    EW

  3. Waspadalah waspadalah, kita perlu selalu MENGKAJI pandangan kita terhadap seseorang, kalau bahasa kerennnya kita harus selalu UPDATE Software kita terhadap setiap orang, karena bisa jadi Orang itu hari ini baik, belum tentu akan tetap baik

    PEACE…..

  4. Bener bener kita harus cek dan ricek dulu, jangan ambil mentah2 postingan milis yang dikutip blog nya tika.

    Memang patut disayangkan ustadz ja’far umar thalib melecehkan budaya akademis di UIN.

    TAPI

    jujur aja kalo dari sudut pandang ustadz ja’far, mungkin beliau tidak berkenan dengan logika2/pemikiran2 yang dilontarkan di forum.

    As we all know, di UIN setahuku tu memang dikembangkan budaya akademis yang memandang islam sebagai sebuah objek yang dipelajari dan dikritisi. Sehingga tentu saja tidak semua hal dalam ajaran islam akan diterima begitu saja oleh tokoh2 UIN atau mhs2 nya. Tika aja mungkin bisa kaget dan heran dgn bbrp pemikiran2 dari civitas academica UIN. CMIIW

    Jadi, amarah ustadz Ja’far menurut saya bisa dipahami. Beliau sekedar membela keyakinannya yang diikuti oleh mayoritas muslim di indonesia. Sedangkan tragedi akademik yang memalukan sesungguhnya menurutku justru dari UIN nya. Maaf bila ada yang tersinggung. And correct me if im wrong.

    (eh Tika, piye si yang kudengar malah kebalikannya jhe. Yang disingkirkan tu dosen yang fundamentalis, krn yg byk di UIN tu yg moderat –> Jaringan Islam Liberal.but CMIIW, i am awam too hahaha)

  5. Wah salah UIN-nya sendiri kok ngundang diskusi tokoh seperti Jaffar :)). Terlepas dari pro-kontra pemikiran beliau, tapi tokoh seperti beliau memang bukan tokoh akademis, yang biasa berargumentasi ilmiah macam Cak Nur atau Amien Rais. Dia orang lapangan, yang mungkin lebih baik berdebat dengan pedang. j/k :))

    Soal UIN, dari pengalaman saya justru mereka kebanyakan orang yang sangat moderat. Saya masih inget sekitar awal 2000-an, teman-teman dari UIN Suka selalu berkunjung dan berdiskusi di gereja saya waktu momen Natal ataupun Paskah. Ya tentu aja mereka tidak beribadat :D, tapi setidaknya itu mungkin peristiwa paling indah yg pernah sy alami, melihat kerukunan dan saling menghormati antar-agama.

  6. Sori, comment saya sebelumnya tentang UIN saya hapus. Sepertinya tidak begitu konstruktif buat UIN.

    Daripada mudharot dan mem-propagate isu-isu yang tidak perlu. :)

    Herman

  7. saya ngga ngga begitu peduli tetang siapa jafar umar, atau mungkin paparan di dalamnya, saya cuma prihatin terhadap kejadiannya, kenapa kita saling mencaci, menebar kebencian, menghakimi, dll di depan audiens akademis lagi? yang tidak konstruktif.. itu memalukan.. miskin intelektualis.. kampungan.. udik… apa lagi ya?

  8. ehm, yg pasti bapak ustadz ja’far itu harus lebih banyak bersabar! ehm, tidak patut menjadi pemimpin kalau abe fikir, karena doi tidak bisa menerima pendapat dari orang laen! ;)

  9. … hmmm yang nulis atikel itu (sebelum di copy-paste Tika) kebetulan teman saya sendiri… dan saya ngerti jalan pikirannya.

    Tanpa bermaksud menghakimi siapapun saya coba melihatnya dari sudut pandang lain.

    UIN dalam hal pemikiran Islamnya amat sangat moderat, bahkan lebih moderat dibanding dengan aktivis dan pemikir Islam di alamaternya Tika. Jadi tidak heran kalau mereka berani mencoba mempertemukan dua kubu yang saling berlawanan untuk mendapatkan sudut pandang masing-masing pihak. Jaman kuliah semester awal saya kerap berdiskusi bersama aktivis IAIN bahkan makan, tidur dan demo bareng -jaman saya dulu mereka salah satu motor demonstran selain UGM-

    Dengan segala hormat, George Junus Aditjondro (GJA) adalah pemikir kritis yang paparannya kerap bikin panas kuping, tidak hanya mereka yang bersebrangan -dalam hal ini jadinya Islam vs Kristen- tapi juga yang sejalan dengannya. Kebetulan sebelum kejadian beliau bersama kami dalam satu pelatihan, sehingga saya bisa cerita tentang hal ini. Selain saya juga pembaca tulisannya.

    Dengan segala hormat, Ustadz Ja’far Umar Thalib (JUT) adalah seorang patriot bagi keyakinannya. Punya dasar pemikiran kritis, meskipun -IMHO- tanpa dasar pemikiran akademis dan berbasis massa yang emosional. Bila ada rasa tidak terima dan tersinggung akan paparan GJA -apalagi kalau disampaikan dengan gaya khas GJA- amat dimaklumkan kalau berang dan siap angkat kursi.

    Jadi tidak ada yang salah, situasilah yang membuatnya menjadi mungkin.

  10. @ t4mp4h :

    :)
    waks..
    Lama sekali masnya ni gak pernah kasi comment di blogz tika..
    Wah, sampein ijin ke temennya ya mas, tulisannya di-copy paste ke blogz tika.. :)
    Mohon maap kalo ada yang ke-edit.

    Bener mas..
    Mungkin yang aku bilang di atas tuh salah. (Makanya aku bilang CMIIW..:p)
    Ternyata, papaku kenal ama George Aditjandra. Papaku sering ketemu sebagai sesama pembicara seminar gitu deh.
    Dan menurut dia, orang ini (alias Om Aditjandra) emang seorang yang cukup vokal, tapi gak cuma omong doang. Dia selalu siap dengan berbagai fakta dan data yang lengkap dan akurat. Seorang yang selalu menempatkan dirinya sebagai oposisi pemerintah. Makanya waktu jaman Pak Harto dia dikejar-kejar. Trus dia sempet bermukim di Australia.

    Sedangkan Om Ja’far ini emang beken dalam Front Pembela Islam-nya.
    Yah, kayak yang dibilang mas Topan, dia mungkin bisa dikatakan sebagai ‘orang lapangan’.

    Yang tika bilang ‘what a shame’ disini, ketika alasan rasisme dan perbedaan agama dipermasalahkan dalam menerima pendapat orang lain.
    Ini menurutku pribadi gak bisa diterima.
    Kalopun dia gak terima dengan omongan si Aditjondro misalnya, kayaknya gak perlu mengeluarkan sikap konfrontatif yang sedemikian hingga sampe bikin rusuh suasana.

    Tika orang Islam juga. Tapi sedikit gak terima ketika ada saudaraku yang seiman dengan mudah memandang remeh dan merendahkan omongan orang laen yang gak seiman dengan agama dijadikan alasan.
    (eh, panjang lebar banget gw.. :p)

    Again, CMIIW… :)

  11. @ irfan :

    (eh Tika, piye si yang kudengar malah kebalikannya jhe. Yang disingkirkan tu dosen yang fundamentalis, krn yg byk di UIN tu yg moderat –> Jaringan Islam Liberal.but CMIIW, i am awam too hahaha)

    ———————————–

    Hahaa..
    Aku juga lupa mas..
    Ntar aku survey lagi deh beritanya.. :p

  12. No comment.
    Peristiwa semacam itu hanya akan mengakibatkan perselisihan antar pihak (entah itu agama atau civitas akademika) dan memperuncingnya. Seharusnya setiap pemuka agama atau civitas akademik tahu batas-batas toleransi.
    Fuih, namanya juga diskusi. Diskusi zaman sekarang itu kebanyakan bukan untuk menyatukan perbedaan visi dan opini. Tapi justru menciptakan keributan (apalagi menyangkut SARA Lha buktine, malah tambah bersepaha to.

    *Wah, senangnya bisa comment lagi*

  13. @ Wawan :

    He..
    Iya sih.
    Malah bikin ribut. Trus diposting ke blogzku. Trus blogzku jadi berat banget omongannya..:D
    hehe..
    ___________________________________
    Seharusnya setiap pemuka agama atau civitas akademik tahu batas-batas toleransi.
    ___________________________________

    Yaaa, piye yaaa..
    Kayaknya lebih tepat kalo setiap orang harus punya batas toleransi. Hehe.. Bakal aman kayakna dunia..
    *ngayal..*

  14. DR. George Junus Aditjondro????? wong dia itu cuman bisanya koment??? minnggat bin lari bin kabur ke australia karena ngerasa diintimidasi.., AMPE SEKARANG KANNN????
    Kalau dia dapat data macem2 dari mana coba????
    Jafar Umar ??? kalau bukan Orang Muslim Yang Bela Islam so Sapa lagiiii…???

  15. mbak tika tolong dong dikasih nomer komennya jadi bisa jelas mo bales yg mana :-p

    # Anonymous said…

    Menurut saya dalam diskusi ilmiah, kita hendaknya tidak terlalu melibatkan emosi. Namanya juga ilmiah. Pake otak dong!

    menurut saya ya panitia UIn-nya yg nggak pake otak

    1. masalah BBM kok ngundang depkominfo, Georgie aditjondro, sama ustadz Jafar
    jaka sembung bawa golok
    nggak nyambung goblok

    undang dong depkeu, bappenas & departemen bidang perekonomian nah diadu sama Pakar2 & LSM bidang ekonomi yg nggak setuju kenaikan BBM

    diskusi ilmiah dari hongkong :-p

    2. georgie Aditjondro ngalor ngidul ke masalah maluku kok moderatornya nggak ngatur batasan masalah
    kemana aja tidur

    3. ustadz Jafar memang ustadz yang dikenal sebagai pemimpin pasukan di ambon mungkin karena terjun langsung ya jelas marah kok orang yang nggak jelas dari mana junjrungannya ngomong masalah ambon segala

    tolong deh kalo mo bikin diskusi ilmiah yang bener.
    peristiwa ini bisa jadi pelajaran kita di masa depan

  16. hi there,
    seperti biasa, masuk room jenis blog kayak gini, biasanya karena kesasar. iseng saya baca sepotong blog dik tikabenget dan … saya kagum dengan anda. tapi terus terang saya tidak suka setiap kali mengetahui usia seseorang. soalnya saya tiba-tiba seperti sosok yg pernah ada di jaman purba! hehehehe …

  17. wek knapa jadi kita bodoh ya, Rosul saja keluar masuk masjid diludahi orang masih bersabar.

    Memang Jelas Ucapan Rosul ISLAM akan terpecah.

    Wek

  18. saya sangat malu mengetahui berita ini, kok bisa2 nya gtuh, menurut saya kalo emang mo ngadain diskusi, ya yang apik gtuh, trus ne mah ngk da titik temu.wass

  19. Olaah…George Junus Aditjondro toh…
    Hanya orang yang super naif yang tidak bisa menembus tabir kebohogan nih orang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *