Politik Feses

Tau kan feses?
Mana ada yang suka liat, liat, apalagi pegang. Padahal itu kan dulunya makanan. Yang kita suka banget. Yang bahkan kita mau bayar mahal buat beli. Yang kita makan untuk memuaskan nafsu konsumsi kita. Yang kita nikmati banget waktu mengecapnya. Masuk mulut, lewat pencernaan, jadi feses deh.

Kayak gitu tuh macam politik kita. Politik feses.
Kenapa kok bisa dibilang politik feses? Dengan analogi di atas, gw gambarin jenis politik yang terlihat dengan jelas pada umumnya di Indonesia. Dan mungkin di negara-negara semacam kita lainnya.

Kekuasaan, sapa sih yang gak mau? Posisi empuk, banyak duit (biasanya sih..), dan jelas identik dengan “tunduknya orang lain pada si penguasa”. Dengan kekuasaan, seseorang bisa membuat segala macam keputusan dan kebijakan, di bidang apapun yang dia bisa kuasai. Nikmat, jelas. Pusing, mungkin. Banyak tekanan, tentu. Tapi kan dia pegang yang namanya kekuasaan. Dia bisa menekan segala ekses yang gak enak dengan seminimal mungkin.

Keputusan yang dibuat, akan melahirkan kebijakan, ditetapkan, mungkin sampe dibuat RUU, dijalankan oleh aparat dan pihak berwenang yang mendukungnya (atau terpaksa mendukungnya mungkin). Sampai di rakyat, entah apa yang terjadi. Kabur. Berkabut. Gak jelas. Dengan survey dan statistik sebagai laporan.

Disini Politik Feses terjadi. Ketika yang terkena kebijakanpun mengeluh dan meratap penuh harap, Kebanyakan sih yang terjadi, yang bikin kebijakan tutup mata, pers conference dengan berbusa-busa, dan melenggang menuju kebijakan berikutnya tanpa menyentuh substansial kepentingan kekuasaannya (yang katanya dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat).

Liat deh Impor Beras yang lagi marak diomongin koran-koran. Kayak gitu tuh. Alasan penyediaan stok beras buat ngimpor beras dari negara tetangga (gak tetangga juga boleh deh). Kata temen gw, alasan laennya sih biar harga beras murah. Tapi petani kita gimana dong? Kayaknya udah basi deh ngeluh bab status ke-agraris-an negara kita. Yang gw tangkep sih, DPR rame-rame nolak impor beras. Kalo gw pikir sih, mungkin yang lebih dibutuhin tuh semacam revitalisasi petani misalnya?
Gak tau ah.. Pusing mikirin petani.. (loh?!!)

Note :
Gw baca artikel bab Politik Feses ini di Bisnis Indonesia terbitan kapan gw lupa. Hehe.. Yang nulis Pak Toto. Ntar kalo korannya ketemu gw update deh bab penulisnya.. :)

2 comments on “Politik Feses

  1. semua politik berakhir kepada feses. he he he

    politik feses sangat-sangat kejam mempergunakan kelaparan sebagai
    senjata.

    ada berbagai macam politik
    – politik tuhan ( firaun )
    ingat jamannya suharto ( pernah mengalahkan politik feses, lantas memakai politik tuhan. menciptakan surga dan neraka. yg nurut di kasih surga. yg ngak nurut di gebuk he he he )

    – politik uang
    pikir sendiri

    – politik feses
    ya sekarang ini. maaf bukan berarti SBY. tapi lawannya sangat-sangat kejam mempermainkan kelaparan sebagai komuditas politik. untuk memancing masyarakat menurunkan hukumnya.

    – politik kemasyarakatan
    era sukarno. semua lapisan masyarakat bergerak membangun bangsa. cuman sayangnya beliau di kalahkan oleh cinta. ( SUKARNO JATUH CINTA ) ha ha ha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *