Antisipasi Gempa di Qinglong



Dia anak muda yang masih belia. Umurnya 21 tahun. Namanya Wang Chungqing. Tapi, dialah yang menyelamatkan Kabupaten Qinglong dari bencana besar. Tak satu pun orang meninggal di daerahnya. Padahal, akibat gempa terbesar di dunia selama satu abad ke-20 yang terjadi pada 1976 lalu itu luar biasa. Di Kota Tangshan, tetangganya, jumlah orang yang meninggal mencapai 280.000 jiwa (melebihi korban tsunami Aceh).

Yang dilakukan Wang Chungqing kini tercatat dalam dokumen internasional yang semestinya bisa menjadi pelajaran bagi negara-negara yang berpotensi terkena gempa. Dokumen itu lengkap menyebutkan apa yang diprogramkan Wang dan bagaimana menerapkannya dalam action plan. Memang, tercatat satu orang meninggal di Kabupaten Qinglong saat itu, namun ternyata akibat serangan jantung.

Dua tahun sebelum gempa, Wang ditunjuk sebagai kepala kantor penanggulangan gempa di kabupatennya. Memang, tidak ada penjelasan mengapa pemerintah berani mengangkat pejabat semuda itu. Saya sedang berusaha bertemu anak itu yang sekarang tentu umurnya masih 50 tahun. Tentu saya tidak bisa mencarinya dalam waktu singkat karena kesibukan saya di Tianjin saat ini. Kalau saja saya masih wartawan seperti zaman muda dulu, pasti orang tersebut sudah saya temukan.

Pemuda Wang yang tercatat dalam dokumen itu sangat memperhatikan informasi dari ahli-ahli geologi. Memang, saat dia diangkat menjadi pimpinan satkorlak gempa kabupaten tersebut, sudah ada informasi dari pemerintah pusat bahwa dalam waktu dua tahun kemungkinan akan terjadi gempa besar di kawasan utara Tiongkok. Namun, kapan waktunya dan di daerah mana saja yang terkena, tidak ada yang tahu.

Padahal, kawasan utara Tiongkok sangat luas. Pokoknya, pemerintah pusat hanya menegaskan bahwa gempa tersebut akan terjadi di kawasan tujuh provinsi di utara (Tianjin, Beijing, Hebei, Shanxi, dan sekitarnya).

Yang membedakan pemuda Wang dari pimpinan satkorlak (eh, apa tepat ya menggunakan istilah ini?) di kabupaten lain adalah: Wang sangat memperhatikan informasi itu. Sedangkan kabupaten lain tidak. Dia berusaha di kabupatennya dipasangi detektor sederhana. Lalu, diterapkan juga cara-cara tradisional.

Misalnya, setiap hari mengecek kualitas air di sumur-sumur penduduk. Berubah warna dan rasa atau tidak. Mengecek air sungai. Meletakkan gelas-gelas berisi air di atas tanah. Setiap hari dicek, apakah ada air yang tumpah akibat getaran atau tidak.

Tiap hari prosedur itu dilakukan. Tentu bisa sangat membosankan karena gempa tidak juga datang setahun setelah persiapan tersebut. Namun, pemuda Wang tidak bosan. Dia terus mengadakan kontak dengan ahli geologi, melakukan rapat dengan kelompok-kelompok masyarakat, mengajari cara-cara menyelamatkan diri, dan mempersiapkan tim pertolongan.

Ketika informasi akan terjadinya gempa mendekati dua tahun, usaha Wang semakin intensif. Sebulan sebelum terjadi gempa, langkah-langkahnya semakin konkret. Dia meminta agar masyarakat tidak lagi menutup pintu dan jendela waktu malam agar kalau terjadi gempa bisa menyelamatkan diri dengan cepat. Dia meminta satu di antara anggota keluarga tidak tidur secara bergiliran.

Namun dia tetap tidak tahu akan terjadi gempa. Bahkan, dia memprogramkan, pada 28 Juli, Wang akan mengadakan simposium besar untuk menyadarkan masyarakat mengenai bahaya gempa. Tentu simposium tersebut tidak terjadi karena gempanya ternyata sudah datang pada 26 Juli, dua hari sebelum itu.

Tapi, banyak program yang sempat dilakukan. Misalnya, sejak 25 Juli sekolah harus mengajar muridnya di luar kelas. Penduduk sebanyak mungkin berada di luar rumah. Dokter yang bertanggung jawab mengepalai penyelamatan sudah ditunjuk. Dan seterusnya.

Maka, di kabupaten tersebut, meski guncangan gempa juga hebat dan rumah yang roboh mencapai 180.000 rumah, tidak satu pun orang meninggal.


Keren. Caranya tradisional, membosankan dan butuh kesabaran, tapi efektif banget…
Mungkin gw bisa usulin ke Pak RT perumahan gw buat masang gelas isi air di tanah rumah masing-masing… Tapi, gimana cara ngecek sumur yah?
Di perumahan gw udah pada pake pompa air semua.. Malah ada yang pake PDAM..
Wah, berarti tugas ngecek sumur dititipin ke PDAM aja kali yaa..
Hehehe..

Link :

19 comments on “Antisipasi Gempa di Qinglong

  1. gile bener bisa nyelamatin nyawa sebanyak itu karna persiapan matang. Sayang negara kita ga bisa belajar dari masa lalu dengan seminar2 semacam itu. Kalo aja ada pengarahan tentang pembuatan detektor sederhana, setidaknya usaha itu tampak dan mengurangi kegelisahan atas ketidak-mampuan. btw Wang Chungqing ini pasti gede ya pahala nya tuh….

  2. Mbak Tika dan rekan-rekan blogger (serius nih..),

    Teman saya kebetulan thesisnya tentang penanganan bencana. Dia cerita ke saya kalau di Jepang, dimana juga rawan gempa kaya Indonesia, orang-orang di Jepang sana semata tidak mengandalkan teknologi canggih saja namun juga percaya pada “alat” ciptaan Tuhan yaitu Ikan Lele. Ya Mr. Lele. Ternyata Mr. Lele ini, punya perilaku yang aneh/gelisah jika akan terjadi gempa. Makanya banyak orang Jepang memelihara Lele untuk antisipasi sesaat sebelum gempa. Luar biasa bukan? Tuhan menciptakan Mr. Lele untuk menyelamatkan nyawa manusia.

    Selain itu, di Jepang juga sudah disiapkan jika sewaktu-waktu terjadi gempa, mereka sudah dipersiapkan untuk cukup membawa 1 tas yang berisi barang-barang berharga mereka dan keperluan mereka selama di pengungsian sementara.

    So, kita perlu belajar banyak pada Jepang dan Mr. Lele !

    *pengenpeliharaleledirumah*

  3. Menurut sy orang pinter dan banyak akal di negeri kita ini banyak koq, yang kurang itu orang pinter yang dengan penuh keikhlasan bekerja dan mengamalkan ilmunya untuk kepentingan bangsa dan negara. Intinya kurang maksimal usahanya…, lagi-lagi menurut saya masalah gaji yang belom memadai. Jaman sekarang mah kasarnya nih,Maap2 kate nih yah “Klo bisa geserin dudukan pantat aja ada biaya perjalanan dinasnya tuh…”

    Ahh lupain aja, gak ada gunanya kita ngeluh… mending sekarang sy promosi aja neh, btw “Ada yg mo beli Ikan Lele gak, saya punya peternakan Lele spesial mendeteksi gempa, klo gak manjur dijamin uang kembali… :D

    Ayoh silahkan hubungi saya langsung…inget langsung gak pake perantara orang maupun alat komunikasi… :D

    Cepetan “Ntar keburu Lele nya di bawa ke penggorengan”

  4. jadi, gempanya tetap terjadi kan? mungkin judulnya lebih tepat “Cara Tepat Selamatkan Diri dari gempa”, hehe

    “kabur dulu*

  5. Cara antisipasinya memang perlu kita tiru. Saya sendiri sekarang selalu terbiasa tidur di ruang tamu. Hehe.

    Tapi kisahnya ini beneran atau cuma hoax ya ?

  6. huebaaatttt niaannn….
    btw, klo misal jadi ngusulin ke pak RT, jangan2 ntar malah dijadiin pimpinan Satkorlak Gempa..hehe

  7. #robby
    yup bener, udah jadi rahasia umum kalo orang endonesia itu baru mau kerja kalo emang ada untungnya, susah cari orang yang seperti itu di endonesia sekarang.

    #cahyo
    kalo gitu ikutan perlihara ikan lele ah, btw kira2 seperti apa seeh tingkah laku aneh yang di perlihatkan tuh ikan jika akan terjadi gempa

  8. Wah.. Iya, gw jadi penasaran. gimana sih si lele bertingkah waktu mo gempa?
    Tik. Kamu tulis juga dong bab lele..

    Jangan ngomongin tempe penyet tapii..

  9. # Topan

    beneran kok mas Topan.
    Bukan hoax..
    Saya sudah membaca tentang si Chungqing ini beberapa kali di situs situs resmi Cina.

  10. Saat ini aku rasa baru dia yg bisa menyelamatkan warga tanggung jawabnya yg dilakukan dengan teliti, seksama, serius, dan ngga cuma komplain gaji kurang.
    Sayangnya secara teknis tidak ada publikasi detil apa saja yg dilakukan, dan catatan-catatan apa saja yg dia tinggalkan. Sehingga beberapa orang banyak yg menganggap dia “dibisikin sama dewa gempa”.
    Dalam statistik disebut “spurious correlation” sebuah kebetulan yg menguntungkan. Pernah dengar si beruntung nggak ? Ada tulisan Luck factor yg ditulis seorang kawan. Tapi luck factor ini bisa berulang-ulang sehingga bisa dipelajari.
    Nah sulitnya apakah Chungqing ini hanya beruntung ataukan bisa mengulangi.

    Secara science sulit dibuktikan “keberuntungannya”. Lah gimana mau ngulangi, wong gempa segede gitu perulangannya 50 tahunan :(

    gut story eniwei !

  11. Hmmm… melakukan pekerjaan yang rutin itu memang membosankan (seperti “penjaga” gempa) tapi pada saat terjadi gempa, maka pekerjaan yang membosankan itu “terbayar sudah”…

    Mudah2an orang2 di BMG senantiasa waspada dan tidak lalai apabila kondisi aman-aman saja, karena siapa yang bisa menduga kapan gempa datang?

    Nice article anyway =)

  12. info yg menarik thanks comrade.

    ps: Kalau Indonesia mana ada yg mau mengangkat pejabat muda belia!!!!!

    duit masih enak!

  13. hebat ya.. kalau indo nggak punya bagian khusus penanganan bencana ya? :(
    at least galakan budidaya lele di rumah2 rawan gempa!

  14. banyak juga sih mbak kasus orang2 yang ternyata punya ‘sense’ sebelum gempa terjadi, tapi sayang kebanyakan tidak ditanggapi serius.
    Salut buat mas eh pak Wang Chungqing atas usahanya.

  15. Pingback: teffd
  16. Thank you for every one of your effort on this website. Kim really loves working on internet research and it is obvious why. All of us learn all about the dynamic method you render efficient solutions by means of the website and even encourage participation from other people on that idea so my child is studying a lot. Take advantage of the remaining portion of the new year. You’re the one conducting a remarkable job.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *