7 Hakim untuk Mahkamah Agung

Adalah seorang Sebastian Pompe, pengamat hukum Indonesia berkebangsaan Belanda yang menulis desertasi tentang Pengadilan Tertinggi di Indonesia, yaitu Mahkamah Agung.
Desertasi si Pompe ini beredar 10 tahun dalam bentuk potokopian, tapi akhirnya dibukukan dengan judul :
“The Indonesian Supreme Court : A Study of Institusional Collapse”.

Banyak hal menarik dari buku ini menurut gw. Stigma dan citra kebobrokan hukum di Endonesa yang melegenda buat gw, ternyata ada masa-masa dimana MA (Mahkamah Agung) menjadi lembaga yang sangat independen dan bebas dari korupsi. Hebat kan?
Ternyata Endonesa yang lumayan busuk ini pernah punya lembaga yang sangat kereenn..
*hehhee.. maap, gw emang rada gak cinta endonesa.. (siul siul..)*

Berikut beberapa kesimpulan dari contekan interview Om Pompe dengan Gatra.

MA pada masa Orde Baru?

Menurut Om Pompe, MA pada masa Orde Baru dipengaruhi banyak tekanan politik. Pihak yang menekan itu seringnya atasan mereka sendiri. Karena itu, selama 15 tahun ketua MA selalu dijabat oleh orang militer. Budaya MA waktu itu menjelma menjadi administrasi militer.

Kondisi MA sekarang?

Secara umum kemajuan antara 1998-sekarang luar biasa besar. Misalnya ketika Bagir Manan masuk ke MA, membuat rencana reformasi secara menyeluruh. Rencana reformasi MA itu juga melibatkan lembaga luar seperti LSM. Luar Biasa.. (menurut Om Pompe..) Di luar negeri aja gak ada yang kayak gitu, mereformasi diri dengan melibatkan pihak luar.

Jumlah hakim di MA?

Sekarang kita ukur aja jumlah hakim berapa, jumlah perkara berapa. Berdasarkan studi MA, jumlah hakim terlalu banyak. Kebutuhan hakim di MA itu sebenernya hanya sepertiga atau seperempat dari jumlah sekarang..
*hahh? dikit banget?*
Dari studi MA tahun 2004, intinya mereka harus memecat 60% hakim. Ketika Bagir Manan menyampaikan hasil studi itu, semua hakim bilang that’s crazy..
*wakakakakkk.. ya iyalah.. mana ada orang mau diPHK.. *

MA pernah jadi lembaga independen?

Ini nih pertanyaan favorit gw.
Om Pompe bilang, sampai tahun 1959, MA sangat independen..
Sampai 1970-an tidak ada korupsi.
Jadi sampe tahun 1970-an, MA masih bisa dibilang lurus. Padahal gaji mereka sangat jauh lebih kecil dari gaji hakim di MA sekarang..
*waooww..*
Ketua MA jabatan 1952-1966, Wirjono Prodjodikoro, milih untuk meng-obyek-kan mobil dinasnya jadi taksi daripada nyogok perkara.
Ketua MA jabatan 1966-1968, Soerjadi, juga sangat punya prinsip dan bukan orang yang gampang diajak kompromi. Soerjadi pernah bilang gak mau orang-orang dari golongan tertentu masuk MA (walaupun akhirnya masuk juga sih.. Dan waktu itu Soerjadi langsung mengundurkan diri).
Pengganti Soerjadi, namanya Pak Soebekti. Pak Soebekti ini menurut Om Pompe is the person who absolutely straight and absolutely honest.

MA pasca 1974?

Nah, pada tahun 1974, ada peristiwa Malari. Orde Baru yang gelisah mulai menempatkan orang-orangnya di segala elemen pemerintahan, seperti MA dan DPR.
Abis itu, perubahan sangat tampak.
Pertama, korupsi mulai masuk. Kedua, jaringan korupsi juga mulai terbentuk.
Contoh yang disebut jaringan korupsi adalah ketua MA mulai diamplopin oleh hakim tingkat I (pengadilan).

Gimana soal tunggakan perkara di MA?

Pada 1970-an mulai ada tunggakan perkara di MA, terus semakin banyak pada tahun 1980-an. Akhirnya jumlah hakim ditambah.
Tahun 1990-an, tunggakan tambah banyak lagi.
Jumlah hakim ditambah lagi.
Padahal sebenernya, ini masalah efisiensi kerja si hakim.
Apalagi dengan jumlah hakim agung sekarang yang jumlahnya hampir 50 orang, dinamika internal jadi semakin rumit.
Menurut Om Pompe, MA hanya perlu 7 hakim saja.

Hah?? 7 hakim sajaa?!

Jumlah perkara yang masuk ke MA sekarang sama dengan Supreme Court di Belanda. Di sana, jumlah hakim agung cuma separohnya disini. Padahal prosedurnya jauh lebih rumit.
Tapi kerja Supreme Court disana sangat jauh lebih ketat dari disini.
Disini bisa santai.
Ada workshop, kunjungan luar negeri, dan berujung ke tunggakan perkara.
*ooo.. panteesss……*

Masih menurut Om Pompe, waktu jaman Orde Baru dulu, malah ada hakim yang sama sekali gak pernah pegang satu perkara pun selama 15 tahun.. Karena dia dekat dengan ketua MA..
Whaatttaa…??
Trus dia digaji buat apa doong..?!!!

27 comments on “7 Hakim untuk Mahkamah Agung

  1. Tik, kamu sadar gak ini agak-agak berbau memuja Bagir Manan?
    Perlu dicurigai gak ini?

    *lirik kanan kiri..*

  2. Dek,
    Ko agak2 kurang cinta Indonesia, sih? :-O
    Emangnya cintanya pada siapa? Hati2 jangan2 ntar ada yang jemput, kaya si Momon. ;))

  3. postingnya asik. habis baca, jadi bingung, nggak tau harus bangga atau malu.. yah, namanya juga endonesa.. untung masih ada yang gue cinta! soto bu pri sama perkedel jagungnya nasi rames bu RT.. :)

  4. Wah..semakin berbobot nich dek Tika (eee..sorry masksudnya tulisannya.)
    Bulan April lalu dalam satu sesi kursus, ada Hakim Agung yang jadi pengajar.
    Kata beliau,” Orang Indonesia itu aneh, Katanya berprinsip musyawarah mufakat, tetapi kenyataannya setiap ada masalah selalu diselesaikan lewat pengadilan. Dan karena engga ada batasan untuk banding, maka jika para pihak tidak puas dengan putusan PN maka akan naik banding terus….terus…hingga ke MA, akibatnya kasus menumpuk di MA, dan para HA harus kerja 25jam sehari, kalo sakit cuma dapet fasilitas askes”.

    Gue lihat di infotainment, kasus perceraian Tamara Blesynski – Rafly dilakukan banding oleh Rafly. Walah bisa mengendap 10 tahun nich di MA

  5. *hehhee.. maap, gw emang rada gak cinta endonesa.. (siul siul..)*
    Gwe maafkan :D

    Semoga BANGSA YANG SAKIT ini segera sembuh ;)

  6. Weh no comment deh… :
    Koq orang Elektro ngomongin Hukum…
    Gak nyambung….
    # Kabur…. #

    Btw Thanks bantuannya….
    Mbak Tika yang maniezt….. ;;)

  7. Bukaann..
    Tika tu kuliah di elektro UGM..
    Eh?
    Bener kan, tik?

    Weh no comment deh… :
    Koq orang Elektro ngomongin Hukum…
    Gak nyambung….
    # Kabur…. #

    hehhee.. maap, gw emang rada gak cinta endonesa.. (siul siul..)*

    mbak tika ini lulusan S1/S2 hukum???

    >>Komentar2 macem gini..pliss deh

    TETAPLAH MENULIS KAWAN…
    BANYAK GUNANYA KOK KAMU NGE-BLOK TIK….salute

  8. Luar Biasa.. (menurut Om Pompe..) Di luar negeri aja gak ada yang kayak gitu, mereformasi diri dengan melibatkan pihak luar.

    endonesia geto loh

    Ketika Bagir Manan menyampaikan hasil studi itu, semua hakim bilang that’s crazy..

    kita kan mau bagi bagi duit hasil rakyat

    50 orang, dinamika internal jadi semakin rumit.
    Menurut Om Pompe, MA hanya perlu 7 hakim saja.

    sisa pada demo ntar kalo di phk

  9. Ah..
    Si Sebastian Pompe itu kalo menurut Pakdhe, jadi corongnya Bagir Manan buat mengkampanyekan dirinya untuk pemilihan ketua MA yang akan dateng.
    Gimana menurut Nak Tika?
    Mungkin perlu ditambah fakta-fakta lain yang mendukung?
    Jangan terpesona berita dari satu sisi saja lho..

  10. Wah..
    Iya Padkhe..
    Mungkin ada benernya tuh Pakdhe..
    Beberapa orang juga ngomong kayak gitu sama saya..
    Makanya, di tulisan saya itu selalu saya sertakan : “..menurut Om Pompe..”

    Hehehe..
    Jadi biar ndak rancu tuh Pakdhe.. :p

  11. Sekali-sekali, boleh dong kita membesarkan diri kita dengan berita bagus mengenai bangsa kita sendiri. Gimana pun juga pemerintah dan judikatif kita sekarang masih jauh lebih baik daripada dulu. Buktinya, kita sudah bisa maki-maki, mengkritik dan mengkritisi mereka tanpa takut didatangi brimob atau intel. Proses terus bergulir, meski sekarang belum sempurna. Anak-anak muda seperti Tika yang peduli sebagai warga negara yang melek hukum (walaupun background elekro?) bisa menjadi motor penggerak perubahan selanjutnya, menuju civil society.. Salut, Tika!

  12. Pingback: hhjyr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *