SARA ah..

Mo ngomongin Si Sara..

hueheheh..
Dimiskol deh tu Sara, biar dia tau kita lagi arisan ngomongin dia..

Jadi, ketika ada blog yang bahas Met Natal tuh haram apa halal..

Si Momon langsung pm gw.
“Tik, baca..”

Dan langsung komen..

Dan komen gw waktu itu cuma gini :

  • -tikabanget- Says:

    wah.
    ini lagi..
    #Anang

    Im a moslem.
    My god is Allah.
    My Rasul is Muhammad.
    Kitab gw AlQuran.
    dan sebagai penjelas AlQuran ada hadits.
    dan MUI cuma lembaga yang ngatur fatwa di Indonesia.

    Okay?!

    Jangan diperbudak ama fatwa..

    Ajaran Islam tu intinya simpel.
    Buat menjaga keharmonisan semua elemen kehidupan.
    Masuk neraka ama masuk surga tu urusan Allah.
    Bukan urusan MUI.
    Kita tetep Islam kan walo MUI gak ada?

  • -tikabanget- Says:

    Jangan jangan abis ini ada fatwa, orang islam haram masuk gereja
    *gak abis pikir..*

*ditulis eh, dikopi paste seperti aslinya.. *

Dan Momon langsung pm lagi..
“Tik, atos banget sih…”

Dan gw jawab..
“Waduh, refleks ni, Mon… Dihapus aja po ya, Mon..”
*tanda tanda tidak keberprinsipan.. sisa-sisa peninggalan ketakberadaban komunitas elektro-noceng UGM..*

11 comments on “SARA ah..

  1. Sebenarnya yang gue tau seh nggak boleh, tapi mari deh be open minded kalo cuma ngucapin selamat ama mereka I think shouldn’t be a big deal. Kalo mau ngomongin masalah halal/haram nggak akan ada habisnya. Balikin aja ke hati nurani dan niat kita pasti beres.

  2. yg gampang dan simpel koq dijadikan ruwet ya. Toleransi apa tempatnya pada waktu gotong royong bersihin selokan, atau toleransi kala ada bencana. ini berucap koq diharamkan / tidak boleh, Justru itulah tidak tolerannya suatu sebab.

  3. saya rama, bukan blogger, cuma penggemar para blogger(orang-orang keren, n very inspiring)
    sedikit saya ingin berkomentar, dan maaf jika ada yang tidak berkenan dan/atau terkesan menggurui, hanya menyampaikan apa yang saya tau.

    mengenai fatwa haram MUI, dan kaitannya dengan toleransi.
    dalam islam, ada batas2 yang jelas dan tegas dalam hubungan dengan penganut agama lain.

    sebagai umat manusia, yang notabene merupakan elemen dari jagatraya, sepatutnya kita memelihara sinergi dan harmonisasi dengan segenap elemen jagat lainnya. begitulah islam mengajarkan umatnya. mengenai bagaimana bertoleransi dengan umat beragama lain, ada banyak cara yang tidak sampai “mengganggu” keimanan kita. misalnya dengan berinteraksi secara positif dalam aspek-aspek muamalah (non-ibadah).

    satu hal yang penting untuk dicatat disini, islam sangat mengajarkan toleransi. dalam islam, kewajiban seorang muslim adalah menyampaikan ajaran islam sebatas pengetahuannya, dan tidak untuk memaksakan islam kepada pemeluk agama lain. “Laa iqraa hafiddiin” –tidak ada paksaan dalam beragama– kemudian, bagi penganut agama lain yang hidup berdampingan secara damai (seperti umumnya di Indonesia) diharamkan untuk diganggu baik itu harta, kehormatan, maupun jiwanya, semuanya dilindungi dalam syariat islam. begitulah syariat islam menentukan cara bertoleransi.

    berkaitan dengan ucapan selamat hari raya. setahu saya (kalau salah silakan diralat ya…), ucapan itu haram karena dikarenakan hari raya merupakan representasi keimanan seseorang,saya merayakan iedul fithri karena saya meyakini nilai lebih hari tersebut, dari mana saya tau? dari kitab yang saya imani (al-qur’an), dari seorang penyampai yang juga saya imani (Rasulullah Salallahu Alaihiwassalam), sehingga, hari raya sangat kental (bahkan pada hakikatnya merupakan…) dengan nuansa ubudiyah. maka dengan mengucapkan selamat hari raya tertentu pada umat lain, secara tidak langsung kita mengimani hari raya tersebut, akibatnya bisa jadi sangat fatal bagi keimanan kita.

    lalu bagaimana bertoleransi dengan mereka di hari raya mereka? saya kira cukup dengan tidak mengganggu jalannya upacara keagamaan dan perayaan itu sendiri sudah menunjukkan bahwa umat ini menghargai perbedaan.

    saya tidak berkomentar tentang posisi fatwa MUI di sini, bagi saya, mereka adalah orang-orang berilmu yang tetep pantas dihormati jika mereka salah, dan harus diikuti jika mereka benar.

    saran saya bagi pembaca yang muslim, agar lebih menjalani agama ini berdasarkan ilmu, bukan semata nafsu.
    bagi yang non-muslim, silakan menjalankan hari raya yang diyakininya, dan saya harap tidak ada gangguan dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, yang hanya akan menjelekkan citra islam.

    bagi pambaca budiman sekalian, saya mohon maaf jika ada kesalahan, sesungguhnya itu datang dari saya, dan kebenaran datang dari ALLAH Azza Wa Jalla.

    P.S.:
    untuk jeno, beragama tidak cukup dengan niat dan hati nurani, ada satu lagi yang kurang,ittiba (mengikuti petunjuk, Rasul dan Sahabat tentu).
    Referensi lengkap silakan baca hadits arba’in imam nawawi-nomor satu.

  4. Pingback: ERIC
  5. Pingback: theone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *