IPDN Dibubarin? Terus..?

Tadi malem, masnya satu ini tanya sama saya, “Kamu setuju gak IPDN dibubarin?”
Saya jawab, saya gak gitu setuju. Debat akhirnya berujung ke arisan, dengan topik :
BUBAR GAK?
:))

Peserta arisan laennya adalah cecunguk-cecunguk a.k.a masnya, dan Pakdhe Ndobos. Satu lagi cecunguk diculik secara dadakan adalah Dimas, temen saya yang kuliah di Fakultas Hukum. Huehhehe.. Pas ini..



Saya berpendapat, membubarkan IPDN bukanlah solusi yang tepat. Karena kadang usul pembubaran terdengar kayak emosional sesaat, ato kalo kata Paman satu ini, reaksi semusim gituh. Solusi yang ndak solutif, gituh.. Emang abis dibubarin, orang-orang yang dengan marah menuntut pembubaran, masi mau tau gimana kelanjutan paska pembubaran? Kita-kita ini kadang cuma mau liat satu petak dadu dari keseluruhan sisi dadu yang ada. Kita-kita ini kan istilahnya orang luar yang mengenali masalah dari kulit luarnya aja, karena masalah itu di blow up sedemikian hingga oleh media. Dan kita-kita ya bisanya cuma kasi komentar, kasi usul, dan marah-marah.. Hehe..

Kita orang luar ini, yang emang bukan terjun langsung di bidang tersebut, kan ndak tau pasti gimana sebenernya sistem yang melingkupi seputaran pembentukan Pamong Praja. Gimana birokrasinya buat perekrutan para pegawai yang nantinya bekerja di seputaran anak tangga Pemerintahan. Walopun sebenernya saya tu binun juga sih, apa kalo mo jadi Camat itu harus bener-bener pernah sekolah di IPDN dulu gituh.. Lha Bapaknya temen saya, jadi Bupati aja ndak pake sekolah di IPDN dulu tuh? Hayyooow…

Perubahan yang mendadak di alur suatu sistem, pasti akan berefek panjang dan merancukan sistem yang sudah ada. Bukannya menolak suatu hal yang fresh dan baru. Tapi dengan kondisi bangsa yang carut marut, dan pesimisme terhadap Pemerintah sendiri, menurut saya kok malah tambah ndak sehat kalo IPDN dibubarin. Bukan solusi yang tepat.

Momon berkata, bahwa IPDN itu harus dibubarin, biar gak ada siswa mati lagi di IPDN. Mending dibubarin, lalau sisanya suruh kuliah di UGM. Biar sadar kalo mereka besok itu kerjanya melayani masyarakat, bukan ngompasi masyarakat, dan menghasilkan Camat-Camat yang lebih egaliter dan peka sosial. Siswa IPDN yang sekarang ditransfer ke institusi pendidikan yang tidak punya track record kekerasan. Soal stratifikasi, gampang itu. Minimal tidak ada resiko nyawa.

Si Pakdhe bilang, membubarkan IPDN itu cuma kayak cut of the iceberg. Pucuk yang keliatan di atas lautan aja yang diilangin. Yang bawahnya, yang lebih gedhe, tetep aja dibiarin. Ya Titanic tetep aja bakal tenggelam.
“Kalo IPDN harus bubar karena ada yang mati karena kekerasan, maka ada banyak yang harus bubar,” gitu kata si Pakdhe.

Fokus utama adalah kekerasan. Dan merubuhkan satu pohon gara-gara satu cabangnya berkutu, kok kayaknya harus dipikir-pikir gitu.

Kemudian, Dimas yang diculik dadakan, berkomentar.

“Menurut aku harus dibubarin tik, ya minimal biarkan sampe angkatan terakhir lulus. Penyelesaiannya bisa dibuat sekolah profesi aja, mereka bisa jadi birokrat dengan sekolah IPDN setahun stelah lulus S1, itu lebih bagus. Karena itu kayak korupsi, dah jadi budaya, memang harus diputus satu generasi supaya hilang sama sekali. Makanya setidaknya biarkan yang sudah ada sekarang dibiarkan sampe lulus dulu (lagi pula kan daya tampung asrama mereka dah kelebihan 500 mahasiswa sekarang 1500 mahasiswa), terus sambil konsep profesi birokrat itu.”

Sampe disini, sisa cecunguk laennya manggut-manggut. Solusi yang solutif. Tuntutan pembubaran yang menyediakan rencana paska pembubaran. Idenya mirip Momon. Saya dan Pakdhe setuju tentang rencana paska pembubaran ini.

Satu hal yang bisa menjadi catatan, kami semua cecunguk-cecunguk arisan ndak setuju tentang pendirian IPDN di masing-masing daerah. Ini bisa menjadi kasus tersendiri di depan kelak. Chauvinism bisa berkembang, dan isu putra daerah bisa jadi tambah tajam.

Well, sekali lagi, kita-kita ini cuma bisanya komentar, berdiskusi sana-sini, tapi ya ndak tau gimana ituh nanti yang berkuasa menjalankan.. (Yang berkuasa blom tentu yang punya jabatan loh yaaa.. ;))) Hehe..

Dan arisan ditutup dengan ngomongin harga pecel yang kian melambung… B-)

Read More

11 comments on “IPDN Dibubarin? Terus..?

  1. ada yang lebih esensi soal pembubaran yang anda anggap emosi sesaat ini. Yaitu pertanyaan besar: apakah kita memerlukan IPDN? Apakah keberadaan IPDN lebih banyak manfaat dibanding mudarat?

    IPDN diperlukan karena menjadi sumber proyek dan KKN bagi pejabat2 Depdagri dan pemda. Boleh cek.

    Apakah IPDN memberi manfaat? Lha ini pertanyaan super naif. Siapa yang pernah dilayani dg profesional oleh PNS lulusan IPDN? Ada juga dipalaki sama lurah, camat dsb.

    Satu lagi: kasus2 yang mencuat di IPDN bukanlah oknum tetapi kejahatan yang telah “dilegalkan”. Baca saja pengakuan bbrp praja. Pernahkah ada permintaan maaf? Sama sekali tidak. Mereka telah dicuci otak. Ini yang mengerikan. Saya belum pernah lihat ada sekolah segoblok dan sejahat ini.

  2. setujuh kalau pembubaran itu adalah emosi sesaat yang nantinya malah menimbulkan masalah baru, pembenahan system di lingkup IPDN secara menyeluruh dan transparan kayaknya lebih mumpuni.

  3. Klo meurut saya sih bubarin aja, terusannya suruh mikir sendiri. Coba bisa gak mereka survive hidup di alam nyata? ndak ada senior yunior, ndak ada eksklusivitas, yang ada cuma persaingan hidup. Pecat juga pengurus2nya, dosen2nya, pengasuh2nya hehehe. Bahkan sampai yang terakhir tetep aja mereka bungkam gak mau mengakui bahwa sudah ada kesalahan. Aku malah yakin jikalau dari kasus ini mereka tetep dibiarkan seperti ini maka liat aja besok, pelajaran yang mereka petik bukanlah perasaan bersalah karena telah bunuh orang, tapi perasaan bangga karena mereka telah mampu lolos dari jeratan hukum dan tetep survive, akhirnya kalo sekarang bisa kenapa besok harus berhenti? pasti besok bisa diakalin lagi. heuehuheu

  4. kalau keputusan didasari emosi biasanya belumlah matang adanya. Didiamkan pun jangan!… Terbayangkah…asset milyaran yang sudah ada kemudian di stop begitu sajah?….apa bedanya koar-koar isu laptop di para kalangan badut?… Sadar juga lah karakter manusia Indonesia ini masih banyak yang duableg!..gak perlu menyangkal…..belajar dari pengalaman adalah guru yang terbaik…cuman..jangan sampe kesandung lagih!

  5. kl Q rasa biarkan tim evaluasi menyelesaikan tugasnya dulu.

    dan soal pembubaran, ini menyangkut masa depan para mahasiswa disana. karena jika mahasiswa disana dipindahkan ke institusi pendidikan lain, artinya mereka harus beradaptasi lagi, dan itu bukanlah hal yang mudah.

    dan saya rasa tidak semua mahasiswa di IPDN digambarkan seperti dalam video.

  6. Pingback: wedsd
  7. Pingback: hhjyr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *