JP Morgan dan Denda 100 Juta ituh..

Jumat, 22 Februari 2008 | 02:12 WIBJakarta, Kompas – Bursa Efek Indonesia akhirnya menjatuhkan sanksi denda kepada JP Morgan Securities Indonesia sebesar Rp 100 juta.

Hal itu terkait dengan kesalahan pencatatan harga saham PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) pada perdagangan Jumat lalu. Sanksi ini diharapkan bisa menjadi peringatan bagi JP Morgan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Sayah ndak sengaja baca artikel Kompas hari inih. Jadi beginih kayaknya ceritanya..

Bursa Efek Indonesia, mempunyai sistem perdagangan bernama Jakarta Automatic Trading System atau JATS. JATS inih, katanya, ndak mengenal angka desimal.

Lha, JP Morgan ngakunya, pihaknya melakukan kesalahan teknis dengan memasukkan angka di belakang koma pada saat menginputkan data harga saham milik PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR).

Harusnya, harga saham BNBR ituh Rp 362, lha kok yang muncul di papan transaksi BEI ituh Rp 3.620.287. Kalo cuma salah ketik trus pencet tombol Control-Z sih ndakpapa.. Lha gara-gara salah input inih, total nilai transaksi juga jadi berubah. Dengan 10 juta saham BNBR, total transaksi BNBR semula ya harusnya :

Rp 362 x 10 juta saham = Rp 3,6 miliar

Tapi gara-gara salah tulis, total nilai transaksi berubah menjadi :

Rp 3.620.287 x 10 juta saham =RP 36, 202 triliun.

Ini berarti, ada selisih sampai Rp 36,199 triliun.

Pakar hukum pasar modal, Indra Safitri, mengatakan, kesalahan input itu menunjukkan wakil perantara pedagang efek JP Morgan yang bertugas di lantai bursa (floor trader) tidak paham dengan sistem JATS.

Seorang floor trader selain harus memiliki pengetahuan pasar modal juga harus mahir menggunakan teknologi yang diterapkan di sebuah bursa.

Nah, waktu nggedabus bareng Gage siang inih sambil nyomot ayam bakar, kita ngobrolin tuh denda 100 juta. Yang asik, Gage ngomong beginih nih..

“Wah, kalo aku jadi JP Morgan, aku bisa nuntut balik si BEI. “

Loh?? Lha kok…??!!!

“Iya. Udah tau sistem BEI gak kenal angka desimal, harusnya ada pencegahan di sistem berupa warning kepada pengguna sistem tersebut. Sistem yang baik kan harusnya mencegah kesalahan output. Kita juga gak tau kan ada bug misalnya di JATS ituh?” (disadur ndak lengkap dari sumbernya)

Wakakakak… Bener juga. Bisa dibolak-balik begituh ya.. :))
Dan ituh bisa berarti kesempatan buat sodara-sodara yang biasa melacurkan diri dengan coding buwat kirim ke proposal pembuatan sistem baru ke BEI .. Hihihi…
Siapa yang tau tho..

45 comments on “JP Morgan dan Denda 100 Juta ituh..

  1. walah…gede banget perbedaan nilai saham na.
    :D

    yang ngasih masuk data itu harus di training pake keyboard dech.

    kamu aja yg training,tik. lumayan khan duitnya bayarannya buat traktir aku.

  2. jadi inget saya tik,..
    bos : kamu gila yah, di sistem gak kamu tambahin dua ngka di belakang titik
    teman : errg (??)
    bos : jadi,.masalahnya setelah uji coba sistemmu ini ada customer yang transfer seratus rebu. yang kecatet di sistem kita cuma 1000,.. lha yg 99rebu kemanaaa??
    teman : ke rekening saya kali pak *nyengirkuda*
    bos : *ngegaplok*

    hihi,..
    udah mendarat di surga dunia yah jeung? nitip arak zero alkohol nya yah :D

  3. Apa mungkin yang ngetik (bule) sudah biasa pake titik untuk desimal, dan koma untuk memisah ribuan…

    Padahal JATS mengenal titik untuk pemisah ribuan, dan koma untuk desimal?

    Mohon diklarifikasi tik.

  4. Rp 362 x 10 juta saham = Rp 3,6 miliar
    Tapi gara-gara salah tulis, total nilai transaksi berubah menjadi :
    Rp 3.620.287 x 10 juta saham =RP 36, 202 triliun.
    Ini berarti, ada selisih sampai Rp 36,199 triliun.

    ini sih bukan selisih . . . yang ngitung bukan akuntan
    tapi rampok . . . :P

  5. system sekaliber microsoftpun tidak lepas dari bug, makanya coba dibaca lagi EULAnya setiap akan install system pasti ada ketentuannya: jika menyebabkan data rusak atau hilang maka pembuatnya tidak bisa dituntut hehehe… :P

  6. kesalahan di sistem… serius deh… :D
    tapi kalo masalah gini sih biasanya bakal lempar2an tanggung jawab… dunia kerja itu identik dengan dunia pelemparan tanggung jawab cari selamat… *sigh*

  7. Hmm, jadi inget kasus Livedoor di Jepang, sebenarnya yang salah itu dengan profl clientnya apa bidder di lantai bursanya yah? Bawa ke meja hijau aja, jangan2 ada yang “main di belakang” lagi. Kalo bisa diakali, kenapa tidak buat kelihatan harganya “decent” gitu.

  8. Pingback: bsdfse

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *