Penikmat Trotoar yang Tergusur ituh..

surat pembaca SINDO

Sayah masih ingat betul, pertama kali sayah menikmati trotoar Plaza Indonesia di daerah Bunderan Hotel Indonesia adalah ketika Muktamar Blogger tahun 2007. Setelah muktamar, ada beberapa kali lagi sayah mampir ke tempat yang identik dengan Jumat Malamnya blogger Jakarta nongkrong.

Dulu, sayah selalu takjub, tempat semewah Plaza Indonesia trotoarnya bisa dibikin tempat nongkrong sampe pagi anak-anak BHI. Kadang, sayah takut juga itu kena garuk dan dapet tuduhan makar karena bergerombol di tempat umum. Wakakak.. Berasa jaman Soeharto..

Tapi selama beberapa minggu terakhir, mereka mengeluh. Tak lagi bisa nongkrong dengan tenang. Kenapa? Karena ada saja petugas memperingatkan mereka. Bahkan kadang diusir. Sayah blom ngerasain sendiri. Dan keluhan mereka ditulis dengan sopan oleh Bapak Lurah BHI, Sodara Bahtiar Rifai, berikut ini.

Saya, Bahtiar Rifai, dengan ini ingin menyampaikan sedikit uneg-uneg sekitar ruang publik di taman depan Plaza Indonesia.

Sejak 17 Mei 2006, saya yang asli Solo, bersama teman-teman dari daerah yang nyasar bekerja di Jakarta mencoba mencari sepenggal ruang untuk tempat kami bercengkrama sambil menikmati suasana malam. Kami menemukan tempat yang cocok, pada marmer setengah lingkaran tepat pada tulisan Plaza Indonesia di depan air mancur Bundaran HI.

Seiring berjalannya waktu, saya dan rekan-rekan yang rata-rata memiliki blog dan berasal dari daerah sekitaran Jateng dan Jatim, mengadakan acara rutin nongkrong bareng setiap Jumat malam. Kami berbaur bersama orang-orang yang juga menikmati sepotong ruang publik di Jakarta yang amat sangat jarang ini.

Memang tidak banyak yang kami lakukan selain bercerita dan berkumpul layaknya orang-orang yang biasa berbaur di kafe. Namun dari hasil obrolan kami, beberapa acara sosial berhasil kami galang, seperti Bloggers for Bangsari dan Gerakan 1000 Buku.

Bloggers for Bangsari berhasil mengumpulkan total dana RP 20.625.000 dan kami belikan indukan kambing untuk membantu anak-anak disana melanjutkan sekolah mereka (kunjungi http://bloggersforbangsari.blogspot.com untuk keterangan lebih lanjut),
sementara Gerakan 1000 Buku berhasil menggalang 3000 buku yang kami sebar ke perpustakaan sekolah sekitar Cilacap, Kebumen, Jogja dan Semarang (silahkan kunjungi http://1000buku.dagdigdug.com untuk lebih lengkapnya).

Namun, empat kali Jumat malam kami sekarang tidak pernah lagi damai karena kami selalu ‘diusir’ oleh bapak satpam dari Plaza Indonesia. Alasannya tidak pernah jelas.

Saya sebagai orang daerah yang mencoba menemukan keramahan Jakarta merasa bingung mengapa kami harus terusir. Memang, kami sering makan kacang dan minum kopi yang dijual pedagang keliling, namun kami selalu membersihkan sendiri sampah-sampah yang kami buat. Kami selalu meninggalkan tempat kami berkumpul kembali bersih.

Memang, saya tidak pernah menemukan larangan dan anjuran untuk nongkrong di tempat itu. Saya hanya heran, sejak 2006 kami rutin ada di marmer setengah lingkaran, mengapa baru sekarang kami dilarang? Saya mohon penjelasan dari pihak Plaza Indonesia terkait masalah ini. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

Bahtiar Rifai
Perum Mutiara Serpong Blok G2 No. 1
Serpong – Tangerang
[email protected]

Keluhan mas Bahtiar ini telah dikirimkan ke surat pembaca, dan dimuat di koran Seputar Indonesia. Jadi, kapan sayah bisa ngerasain nongkrong di trotoar BHI lagi sampe subuh pagi menjelang?

Surat Pembaca laennya yang sukses dikirimken :

56 comments on “Penikmat Trotoar yang Tergusur ituh..

  1. Hmmm… memang di Jakarta semakin sempit untuk orang2 “bawah”.
    Suatu kenyataan (ironi) untuk ibukota negara yang konon banyak calon pemimpin akan datang sering menyuarakan “kesejahteraan” untuk raktyatnya.

    Sejahtera opo…??? Jalan or nongkronk aja ndak boleh ck…ck…ck…. :-(

  2. Tidak ada ruang publik untuk masyarakat di jakarta lagi.
    Bahkan trotoar pun udah ada yang punya. sampe2 ga boleh di injak apalagi buat nongkrong…

    Serakah banget tu pengurus Plaza Indonesia….

  3. waaa akhirnya saya bisa juga komen ke 11 yaaa…….waa senang sekali rasanya bisa berkunjung di blog yang indah ini….alhamdulillahh……

    salam kenal mbak tika

  4. Aku kadang2 suka ke Plaza Indonesia, kantorku jg deket bgt sama Bunderan HI, tapi ga pernah nongkrong sama orang2 BHI nih… kayaknya ga ada orang BHI yang aku cukup kenal XD

  5. terima kasih atas masukan dari dek tika. sebenarnya saya juga suka nongkrong di sana, tapi apa boleh buat. petinggi PI meminta saya dan konco-konco saya untuk menggusur tempat tersebut. mohon dimaafkeun…

  6. untuk BM (Blogger Madiun) blom pernah diusir sama yg punya rumah, la udah nongkrong dirumah orang, cari hotspot gratis makan cari gratisan wekekekek… *itu aku* untungnya lagi yg aktif nongkrong cuman 3-4 orang kalo udah ratusan ya mungkin aja gak cuman diusir ditendang juga wekekekek…

  7. MENGGUGAT PUTUSAN SESAT HAKIM BEJAT

    Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
    Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap di Polda Jateng.
    Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak ‘bodoh’, lalu seenaknya membodohi dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung di bawah ‘dokumen dan rahasia negara’.
    Statemen “Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap” (KAI) dan “Ratusan rekening liar terbanyak dimiliki oknum-oknum MA” (KPK); adalah bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah terlampau sesat dan bejat. Dan nekatnya hakim bejat ini menyesatkan masyarakat konsumen Indonesia ini tentu berdasarkan asumsi bahwa masyarakat akan “trimo” terhadap putusan tersebut.
    Keadaan ini tentu tidak boleh dibiarkan saja. Masyarakat konsumen yang sangat dirugikan mestinya mengajukan “Perlawanan Pihak Ketiga” untuk menelanjangi kebusukan peradilan ini.
    Siapa yang akan mulai??

    David
    HP. (0274)9345675

  8. aku yo tau mbak diusir karo satpam, wektu iku aku khan dolan nang Delta Plaza Suroboyo, trus aku hanya mengendarai seontel sepeda. Nah, aku nang delta plaza wi arepe tumbas klambi tak gawe kerjo (mbiyen aku tau kerjo nang tabloid Nganjuk sebagai layouter)

    Malam itu, saya berangkat dari Gebang ke Delta plaza dengan riang gembira walau ditengah-tengah kebulan asap polusi di mana-mana, di tengah epotan para sedan yang dengan sengaja mendahului dan belok ke kiri dengan tiba-tiba, yang membuat diriku yang rapuh ini terhuyung-huyung karena rem sepeda tidak bisa langsung berhenti dalam sekejab.

    Nah, sampai Delta, saya dengan pedenya ikut ngantri memarkir sepeda bersama jejeran sepeda motor. Ketika giliranku tiba, si satpam bilang kalau sepeda tidak ada parkirannya. Saya ngotot dengan sopan, “Ndik kono, dicepitne khan kenek?!” sambil menunjuk ruang kosong di antara sepeda motor.

    Satpam masih ngengkel, “Nggak bisa mas.. sampaian lewat sini aja… ”

    Wow, akhirnya satpam itu memersilahkan aku untuk memarkir sepedaku. Aku pun dengan lihai memarkir sepeda di sekitar kantor satpam.

    Satpam itu melotot dan bilang, “Mas, maksud saya itu, sampean keluar lewat sini!!!”

    Dieng!! saya langsung kaget setengah mati.. ternyata saya sedang diusir!! di antara ratusan pengendara sepeda motor yang ngantri… Ou Em JI.. OMAGAAAAD!!!

    Saya pun dengan muka memerah menahan malu *lebih banyak menahan marahnya sih* menuruti sambil ngedumel, “adoh adoh teko Gebang kok diusir to pak… ”

    Pengendara motor yang ngantri pun semua memandangiku dengan pandangan bermacam-macam, ada yang kasian ada yang senyum-senyum.

    Dan waktu itu, detik itu, saya kapok ke Delta Plasa pakek sepeda. Mending Ke Galaxy Mall yang notabene lebih gedhe dan mewah tapi mengizinkan pengendara kendaraan cinta lingkungan seperti sepeda ontel untuk parkir. Malahan karcisnya ekskelusiv! terbuat dari kertas berwarna! bukan kertas buram kayak karcis parkir sepeda motor.

    fiuh… kepanjangan apa nggak ya komenku??

  9. wah aku ngalamin di usir satpam pas ngantar lamaran kerja di sebuah perusahaan, nah ini di halaman plaza ternyata juga ngalamin di usir juga ya ? mungkin hrs beli sesuatu dulu di plaza itu trs yg jelas yg ada kantong gedhe nya, biar satpam tau kl abis belanja disitu kecapean trs nongkrong duyu…

  10. Kalo kami dulu bukan diusir tik, cuman dimintain “uang jaga” ama satpol pp. Kejadian dah lama banget sih, 2 taun yang lalu mungkin :).
    Lokasi : Taman Engku Putri Batam.
    Ah.. jadi membuka kenangan lama..
    Yo wis.. buat BHI.. lanjutkan perjuangan “menduduki HI”, sampai titik darah penghabisan :). MERDEKA !!

  11. You’ll find some fundamental psychological factors connected with sex. For possessing profitable sex, a person needs to become ready mentally first.

  12. A palace is a luxurious residence, predominantly a viscountess habitation or the diggings of a head of governmental or some other high-ranking dignitary, such as a bishop or archbishop.] The intelligence itself is derived from the Latin superstar Palatium, looking for Palatine Hill, a woman of the seven hills in Rome

    A manor house is a notable abode, especially a peer royalty residence or the diggings of a administrator of state or some other high-ranking big wheel, such as a bishop or archbishop.] The intelligence itself is derived from the Latin superstar Palatium, proper for Palatine Hill, a woman of the seven hills in Rome

    A castle is a notable residence, predominantly a viscountess stay or the residency of a leadership of state or some other high-ranking big wheel, such as a bishop or archbishop.] The in short itself is derived from the Latin rank Palatium, looking for Palatine Hill, a woman of the seven hills in Rome

    A palace is a grand habitation, noticeably a peer royalty stay or the diggings of a headmaster of governmental or some other high-ranking superstar, such as a bishop or archbishop.] The data itself is derived from the Latin rank Palatium, looking for Palatine Hill, a woman of the seven hills in Rome

    A palatial home is a notable abode, especially a superb residence or the residency of a administrator of state or some other high-ranking dignitary, such as a bishop or archbishop.] The word itself is derived from the Latin rank Palatium, looking for Palatine Hill, solitary of the seven hills in Rome

    A palace is a luxurious residence, predominantly a royal residence or the diggings of a administrator of governmental or some other high-ranking lady muck, such as a bishop or archbishop.] The in short itself is derived from the Latin name Palatium, fit Palatine Hill, one of the seven hills in Rome

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *