Apakah sayah akan ikut dituntut seperti Bu Prita ituh..

Berita heboh betul minggu-minggu belakangan ini, tentang korban baru UU ITE.

Orang kayak sayah yang rendah inih ya ndak mungkin melawan Kejaksaan tho ya. Maka sayah menempuh jalur lain untuk membantu Bu Prita. Dengan cara mengkopi paste bulat-bulat surat pembaca yang ditulis Bu Prita untuk ditulis ulang di blog sayah.

Kita liat, sayah ikut ditangkep apa ndak abis nulis blog ini..

Tentang seorang Ibu yang mengirim surat keluhan ke Suara Pembaca milik detik.com. Bu Prita Mulyasari menulis bahwa dia menerima perlakuan medis dari RS Omni yang bukannya bikin dia jadi sembuh dan sehat, tapi malah jadi tambah sakit dan gak jelas diagnosanya.

Bukannya menanggapi dengan bijak dan menyelesaikan persolan dengan cara komunikatif, RS Omni menggugat Bu Prita ini, dan akhirnya Bu Prita pun masuk tahanan kejaksaan. [-(

Bikin jengkel? Sayah sih jengkel.

Malah sebel sama RS Omni? Sayah sih jadi sebel.

Ndak adil? Buat sayah sih begitu.

Tapi hidup ini memang ndak adil kok, Tik..

UU ITE inih kok ndak jelas banget sih.. Surat pembaca yang ditulis Bu Prita sama sekali adalah keluhan semata. Perkara dia jadi jengkel dan terkesan menjelekkan RS Omni, ya memang jengkel itu yang dia rasakan.

Jadi, begini isi surat pembaca yang ditulis Bu Prita.

RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif

Jakarta – Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi.  Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas.  Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
[email protected]
081513100600

…………………………………………………………………………..

Dulu, koh Fahmi pernah mengeluh tentang sepatu yang dia beli di Edward Forrer. Ngamuk-ngamuk di blognya, dan bahkan sampe bilang gak bakal beli sepatu bermerek Edward Forrer lagi.
Apakah koh Fahmi dituntut dan dipenjarakan oleh Edward Forrer?

Ndak.

Edward Forrer menghubungi koh Fahmi secara pribadi. Meminta maaf, berterimakasih atas kritikan koh Fahmi, dan memberikan sebuah sepatu produk baru mereka untuk dicoba dan diberikan cuma-cuma untuk koh Fahmi.

Nah.
Itu baru gentleman.

…………………………………………………………………………..

Sejumlah gerakan untuk mendukung Prita Mulyasari :

293 comments on “Apakah sayah akan ikut dituntut seperti Bu Prita ituh..

  1. Saya ndak bermaksut mbela sapa-sapa, tapi tidakkah tulisan Prita itu sedikit berlebihan?
    Barangkali kalo kritiknya sedikit lebih halus, ceritanya bisa laen.


    _______________________________________________
    Kalo baca blognya koh Fahmi, itu lebih berlebihan lagi, Pak..
    Ini masalah kemampuan berkomunikasi dengan pelanggan..

    -tikabanget-

    1. “tapi tidakkah tulisan Prita itu sedikit berlebihan?”

      Kalau terkait nyawa / kesehatan seseorang, kritik / protes seperti ibu Prita itu sudah sangat cocok / pantas.

      Industri kesehatan di Indonesia ini sudah sangat keterlaluan.
      Tapi, mayoritas kita tidak tahu, dan tidak menyadarinya.

  2. menurut saya OMNI ga punya hak buat nuntut. Itu hak kita untuk mengkritik kan, aneh2 aja…rmh2 sakit besar begitu malah patut dicurigai :|

  3. mbak Tik, Mbak Prita sudah says sms, isinya begini, “yang sabar ya mbak, semua ada hikmahnya kok…”

    wekekek.. nyampek kok.. Ayo beri dukungan ke Mbak Prita… lumayan lo, menambah kekuatan spiritualnya…


    _______________________________________________
    Ndop kenal? Salam dari tikabanget ya..


    -tikabanget-

  4. sealian merupakan bentuk dukungan, kita uji seberapa kuat UU ITE itu. apakah RS Omni juga akan melakukan hal yg sama (kepada para bloger yg kopas)?

    RS Omni boleh menang melawan Bu Prita, tapi kalo semua blogger?

  5. lama2 orang salah cari. Nyari bu Prita, nulisnya Pitra.. Tika pun typo di komentar di atas


    _______________________________________________
    :)) udah aku beneriiiinnn…


    -tikabanget-

  6. ajukan sponsor ke telkom utk pasang wifi di kejaksaan!!

    *membayangkan status di fb, plurk, dan twitter isinya kondisi di kejaksaan*

  7. tidak ada cara lain kah? yang mungkin lebih asyik?

    kalau memang benar2 tidak ada cara lain, saya juga ikut.

  8. Hmmm… saya juga pernah seperti itu…
    Dulu sewaktu orang tua saya sakit stroke ringan, tanpa konfirmasi, pihak RS di bilangan cempaka putih yang konon mengatasnamakan agama tertentu (tapi tidak beragama) main suntik berbagai macam obat-obatan dosis tinggi ke orang tua saya (alm).

    Sebelumnya orangtua saya masih bisa berbicara, setelah beberapa hari berbagai suntikan dan infusan GA JELAS, ortu saya jadi KOMA selama 1 bulan lebih yang akhirnya meninggal.

    Saran saya :
    HATI-HATI terhadap RS!
    RS itu PASTI tidak akan pernah berfikir atas dasar menyehatkan pasien tapi berfikir atas dasar BISNIS (walopun katanya ada tapi saya masih sangsi).

    Dokter yang tergabung IDI sudah lebih dari 10.000 dokter. Seandainya masing-masing dokter menyumbangkan Rp100.000 dari pendapatannya perbulan (untuk profesi dokter uang Rp100.000 kecil laah…) berarti perbulan sudah Rp1.000.000.000 (1 Milyar).
    Dengan jumlah yang sebegitu besar perbulan, saya yakin tidak akan ada anak-anak kecil dengan sakit parah atau orang-orang miskin yang sampe detik ini masih dalam keadaaan sakit karena kesulitan biaya.

    Artinya :
    RS = Bisnis
    RS = Kumpulan Dokter
    RS = Kumpulan Dokter = Bisnis

    Just think it!


    _______________________________________________
    :( Ikut sedih, mas..


    -tikabanget-

  9. saya pernah sakit perut banget banget banget sampe masuk UGD. di sana saya divonis USUS BUNTU AKUT dan harus segera dioperasi dengan biaya sekitar 6juta++ (belum berikut penginapan).

    kaget karena gak punya duit segitu (masih mahasiswa bok!) saya akhirnya ke dokter lain (dokter langganan) walaupun gitu mahal). lalu dokter langganan saya bilang saya cuma maag akut, nyaris infeksi usus, jadi mesti banyak istirahat, dan TIDAK ADA SATUPUN YANG MENUNJUKKAN GEJALA USUS BUNTU.

    fyuh… sejak itu saya cuma mau ke dokter langganan. gak mau ke RS, walaupun itu adalah RS besar.

    TAPIIII…

    tetap hormati dokter, jangan menggeneralisasi bahwa semua dokter tidak baik. kakak saya juga (calon) dokter kok… :P
    itu juga bercita-cita jadi dokter karena kakek meninggal akibat faktor RS… 8-|

  10. eh ya ampun…+_+
    buset disuntikberkali???

    jadi inget kasus mama dulu…
    3 kali dipekriksa dokter…didiagnosa sakit liver,DB….

    :((
    aku dah mo nangis ….mama dah pasang ancang2 klo bakal ninggalin aku ma papa…

    terakhir priksa ke dokter…ga tau nya mama HAMIL!!
    gila ga sih…di kasih obat dosis tinggi…
    alhamdulillah ade ku masih bisa bertahan waktu itu :(

  11. saya pernah sakit perut banget banget banget sampe masuk UGD. di sana saya divonis USUS BUNTU AKUT dan harus segera dioperasi dengan biaya sekitar 6juta++ (belum berikut penginapan).

    kaget karena gak punya duit segitu (masih mahasiswa bok!) saya akhirnya ke dokter lain (dokter langganan) walaupun sempat diinfus dan diberi obat (untungnya gak gitu mahal). lalu dokter langganan saya bilang saya cuma maag akut, nyaris infeksi usus, jadi mesti banyak istirahat, dan TIDAK ADA SATUPUN YANG MENUNJUKKAN GEJALA USUS BUNTU.

    fyuh… sejak itu saya cuma mau ke dokter langganan. gak mau ke RS, walaupun itu adalah RS besar.

    TAPIIII…

    tetap hormati dokter, jangan menggeneralisasi bahwa semua dokter tidak baik. kakak saya juga (calon) dokter kok… :P
    itu juga bercita-cita jadi dokter karena kakek meninggal akibat faktor RS… 8-|

  12. CUBA , one of the best country there is..
    Free Health Care (seriously!)
    Perfect Communist System , and a president feared by theamericans :)

    ^^
    kapan yah indonesia bisa punya pengobatan gratis…

  13. Tanpa bermaksud menafikan arti Rp 1 Milyar/bulan, itu tidak berarti semua orang di Indonesia dapat sembuh begitu saja. :) Rp 1 Milyar “kecil” dibandingkan sekian banyak persoalan kesehatan nasional. Bukan bermaksud berdebat kusir, melainkan agar kita tidak terjebak retorika “sebuah solusi yang seolah-olah menyelesaikan semua masalah.”

    Seperti halnya obat juga tidak ada yang bersifat panasea. :)

  14. deja vu jaman orba …

    rasanya ini cuma testcase aja buat ngetest UU ITE, dan kalo ini berhasil, siapa yang tahu akan digunakan ke siapa kedepannya …

    bekal yang menarik untuk pemerintahan berikut, bukan :))

  15. semua akibat pasti ada sebab.
    sebab ibu prita dirawat inap karena trombosit didiagnosa tidak sebagaimana mestinya. berdasarkan hasil lab, maka diberi tindakan medis. ternyata, hasil lab salah sehingga perlu direvisi.

    dari sini, saya melihat adalah sangat wajar ibu prita komplain. dan sangat wajar bila ibu prita meminta catatan (rekam medis / medical record) segala macam tindakan yang sudah diberikan kepada dirinya.

    logikanya … lah wong mau masak rawon tapi diberi racikan resep soto babat. yo jelas beda toh … !

    dan yang lebih aneh lagi, koq pihak RS melakukan tindakan begitu. apakah tidak seharusnya, pihak RS tinggal memberikan saja catatan medis yang sudah dilakukan kepada ibu prita baik itu obat maupun suntikan apa saja yg sudah bersemayam dengan sukses ke dalam aliran darah ibu prita.

    saya betul2 ndak ngerti soal yg beginian. cuma itu logika sederhana saja.

  16. Aku DUKUNG ibu prita!! Udah dia yg dirugikan, eh dirugikan lagi.. eh anaknya nangis2.. tambah dirugikan deh. Dasar lacuuuur ini birokrasi!!! CIH!! *menatap dari kejauhan Tika yg diangkut pasukan berbaju hitam* Halah.

  17. pernah ngamuk2 juga di emax gara-gara fan komputer yang jebol, ngumpatin mereka gara-gara ga ada respon, walhasil tiap hari mereka telpon tiap hari dan minta maaf….

    sikap bijaksana adalah menyikapi semua kritik dan saran sebagai sebuah lecutan untuk maju…

    ikut kopas ah besok

  18. Amit-amit.
    InsyaAlloh saya nggak ke Omni kalau ada apa-apa
    Kalau begini saya jadi merasa emosi,
    makasih mbak tika, saya dukung dah gerakannya

  19. Itulah dunia dokter Indonesia. Kalo dr.G pas sekolah mungkin ga ketrima,tapi akhirnya ketrima gara-gara bayar. jadi biar BEP bikin-bikin alasan supaya dapat duit banyak.
    Dukung Bu Prita…
    Kasihan kedua Anak-nya yang masih balita.

  20. Adakah yang punya file nya, bahwa malpraktek di Indonesia ada yang dinyatakan bersalah? Seingat saya, kasus dokter (mantan isteri Mendikbud) yang akhirnya meninggal, putusan pengadilan menyatakan dokter yang mengoperasinya tak bersalah.

    Persoalannya, seharusnya rumah sakit bertemu baik2, bukankah kalau mereka menuntut sama saja merusak image nya?

    Apapun putusan pengadilan nantinya, anak-anak bu Prita sudah menjadi korban. Bagaimana pendapat mas Anggara dan mas Ajo dalam kasus ini, langkah apa yang bisa dibantu oleh para blogger?

  21. ayo ktia slain rame-rame. biar RS nya bakrut karena bayar pengacara dan tikus-tikus peradilan. biar tahanan penuh sama kasus pencemaran nama baik, pusing-pusing dah penjaganya.

  22. gila ya.. sombong banget tu dokter2 dan manajemen OMNI.. sucks.. masa orang komplain ditanggepin masuk penjara? mestinya ya di liat dulu, ngaca dulu lah.. kejadiannya beneran gitu apa ngga. mreka jadi rugi sendiri, hanya memenjarakan 1 ibu-ibu, tp nama baiknya tambah tercemar (dobel). selamat siap-siap tutup deh..

    mestinya media makin blow up dari segi si ibu prita.

    btw.. si ngkoh jadi tambah beken nih..

  23. Saya dukung mbak tika!!
    RS OMNI hanya akan menjelekkan nama mereka sendiri kalau sampai menuntut para blogger.
    Kritik Bu Prita seharusnya ditanggapi bukan dg menuntut dia, tp meminta maaf pada Bu Prita kalau memang RS itu profesi0nal. Dg menuntut, mereka sebenarnya membuka aib sendiri kalau mereka nggak profesional dan takut kasus serupa terbongkar dg munculnya surat pembaca lain dari para korban RS itu.

  24. mungkin bukan sekadar boikot rs omni int itu.
    hal paling mendesak sekrng adalah mengeluarkan ibu prita dari tahanan kejaksaan… masak kejaksaan tidak punya pikiran, bagaimana kalau yang menghadapi kasus itu Ibu dari jaksa agung, ato ibu dari kejati DKI, ato ibu dari kejari tangerang?
    Kalo kasusnya kasus teror ato korupsi, yah tahanlah tersangkanya.
    Lho iki lak kasus yang sangat sumir…. ibu dg dua anak lagi…. Oh.
    Atau nanti ujung2nya kasus ibu prita akan jadi persaingan para capres/cawapres untuk berebut simpati masyarakat? Hayah….

  25. hehehe.. jaman edaaan.. sing sopo sopo ora edan ora kebagian.. kesimpulannya kata bang Haji.. *terlaaaluuuu*.. pokoke entar aku besuk neng Tika yaaa.. :mrgreen:
    Salam Sayang

  26. ada pengalaman saya membeli rumah RSH lewat KPR,
    di janjikan oleh pengembang besar( jaya land, jawa timur )akan realisasi setelah uang muka lunas, ternyata setelah satu tahun baru realisasi.

    Setelah realisasi pihak pengembang tidak memperhatikan pelayanan pasca realisasi. Listrik yang tidak 7 bulan, belum tahu kapan akan disambung? padahal saya sudah tanya ke pihak PLN Sidoarjo, katanya malah belum didaftarkan ke PLN.

    Kualitas bangunan yang sangat jelek ( yang ini mungkin masih bisa ditolerir, kerena rumahnya tipe SSSSSSS ).

    Lingkungan, jalan, fasum yang dibiarkan saja.

    Jika saya tanyakan ke kantor pemasarannya, beribu alasan di kemukan.

    Semoga yang lain tidak demikian.

  27. Seratus persen mendukung kebebasan bicara.

    Milis dan blog adalah bersikap subyektif, beda dengan media massa.

    Semua org berhak punya pandangan subyektif atas persoalan apapun disekitarnya.

    Maju terus mbak, jangan takut.

  28. saya jadi ikut geram baca tulisan ini. Juga ikut geram sama Tika. Kok bisa-bisanya bikin orang jadi nambah geram. Si ibu Prita musti dapat dukungan dari kita semua. Supaya kezaliman tidak terus merajalela. Kayaknya banyak deh kejadian model begini, cuma yang terkspose tidak banyak, karena hanya sedikit orang yang berani seperti ibu Prita. Apalagi kalo yang jadi korban orang susah, orang miskin. Bukannya melawan, malahan mereka dapat tekanan. Yang ada malah jadi tambah takut. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

    Mudah-mudahan ga ada yang jemput Tika, karena tulisan ‘keren’ ini.

    Salam

  29. @Ibu Prita dan Keluarga: Semoga kasusnya cepat selesai dan Ibu Prita bisa bebas. (jadi kebayang, sama anak saya yang juga masih ASI)

    @Untuk RS Omni: Masih belum terlambat kok untuk berbesar hati.

  30. kasus ini menjadi pelajaran bahwa kita harus kritis dalam menghadapi masalah, apalagi menyangkut kesehatan kita. tanyakan sejelas2nya sebelum mengambil tindakan dan klo ternyata ga puas dengan penjelasan yang diberikan, cek di tempat lain sebagai pembanding untuk menghindari salah diagnosa atau malpraktek.

    btw, semoga bu prita diberikan ketabahan dan jalan keluar yah.. :)

  31. Sayah pasang bannernya sajah dehh..

    Ndak ngerti mau posting apaan…Sekali masuk rumah sakit karena DB baik2 aja layanannya…hehehehe…

    *bersyukur*

  32. asliii parahh bangett…
    gila ya, RS udah hampir ngilangin nyawa orang
    bukannya minta maaf, malah nuntut?
    gak ngerasa malpraktek ya? ckckck
    bu Prita, tuntut balik aja atas tuduhan malpraktek bu…

  33. Ini yang gak becus hakimnya atau UU ITE itu sendiri yang gak jelas batasannya? Saya sendiri sih tidak tahu semua secara rinci isi dari UU ITE itu sendiri. Tapi kalau sampe UU ITE tidak bisa membedakan antara yang murni keluhan konsumen dengan yang memang benar2 masuk kategori pencemaran nama baik, berarti UU ITE ini BENAR-BENAR HARUS DIKAJI ULANG.

    Untung belum ada UU yang mirip2 UU ITE tapi mengatur media cetak, seperti koran. *)Ato udah ada ya?
    Kalo ada berarti seharusnya orang2 yg kirim di kolom pengaduannya surat kabar, bisa ditangkap semua dong dengan tuduhan pencemaran nama baik?? Gimana coba..??

    Tanyakan hatimu..

  34. punya otak gak sih orang2 itu..kaya gak pernah skolah ajha.hidup orang dimaen2in…

    kalopun mereka punya otak..
    kayanya .hati yg gak mereka punya.ksian..!!!

    sabar bu prita.Tuhan tidak tidur

  35. Pingback: Another Side of Me
  36. MAU BOIKOT KOK SUSAH.. BOIKOT AJA.. MASAK IYA LP-NYA MUAT KALO SEMUA MASYARAKAT DI INDONESIA DIPENJARA?
    AYO, JANGAN TAKUT! SAY WAT YOU WANNA SAY! BERPENDAPAT MERUPAKAN HAK ASASI, JANGAN LUPA ITU!

  37. Berita kasus lainnya:

    http://hukumonline.com/detail.asp?id=21899&cl=Berita


    Rumah Sakit Gugat Pasien
    [5/5/09]

    Anggap tagihan rumah sakit tidak wajar, keluarga pasien RS Omni Internasional menolak membayar. Keluarga merasa tidak mendapat informasi medis memadai hingga pasien meninggal dunia. Rumah sakit akhirnya menggugat ke pengadilan

    PT Sarana Meditama Metropolitan (RS Omni Internasional) meradang. Setelah melakukan perawatan dan pengobatan terhadap Abdullah Anggawie selama tiga bulan, keluarga pasien tersebut menolak membayar tagihan. Diwakili dokter Sukendro selaku Presiden Direktur RS Omni Medical Center, rumah sakit itu melayangkan gugatan terhadap keluarga pasien ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 24 November 2008. Sasarannya adalah Tiem F. Anggawie, PT Sinar Supra Internasional dan Joesoef Faisal, masing-masing sebagai tergugat I, II dan tergugat III.

    Majelis hakim yang diketuai Sugeng Riyono menggelar persidangan lanjutan perkara No. 396/Pdt.G/2008/PN/JKT.PST itu Selasa (28/4) pekan lalu dengan agenda pemeriksaan ahli. Dalam gugatan dijelaskan bahwa almarhum Abdullah Anggawie adalah pasien di RS penggugat kurang lebih sejak tahun 1990-an. Abdullah kembali dirawat di RS Omni pada 3 Mei 2007 hingga 5 Agustus 2007 dan akhirnya meninggal.

    Saat Abdullah meninggal, ia masih mempunyai tagihan biaya perawatan sebesar Rp427,268 juta dan belum dibayar hingga gugatan diajukan. Nilai itu dihitung dari keseluruhan tagihan sebesar Rp552,268 juta dikurangi dengan uang muka yang dibayarkan Rp125 juta. Setelah itu, rumah sakit menagih biaya perawatan pada para tergugat.

    Hal itu sesuai dengan surat pernyataan persetujuan dirawat tanggal 3 Mei 2007 dan surat pernyataan tanggal 5 Agustus 2007 yang ditandatangani Tiem F. Anggawie. PT Sinar Supra Internasional berperan sebagai penjamin berdasarkan surat jaminan tanggal 28 Juni 2007. Joesoef Faisal bertindak sebagai penanggung jawab perawatan pasien Abdullah selama di RS hingga almarhum meninggal berdasakan surat tanggal 7 Agustus 2007.

    Berdasarkan surat itu, penggugat menyatakan para tergugat berkewajiban membayar uang jaminan perawatan minimum sesuai dengan peraturan yang berlaku, melunasi seluruh biaya perawatan untuk pasien pada waktunya, dan jika melakukan kelalaian dalam memenuhi kewajiban tersebut akan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

    Selain itu, para tergugat juga dinilai bertanggung jawab untuk mengganti semua kerusakan yang diakibatkan pasien (kalau ada) selama perawatan, menyetujui pengobatan lain yang dianggap perlu sesuai dengan prosedur dan peraturan tindakan medis yang berlaku. Pasien juga diwajibkan mematuhi perawatan dan tata tertib perawatan yang berlaku di rumah sakit.

    Sebagaimana terungkap dalam gugatan, penggugat baik secara lisan maupun tulisan telah beberapa kali mengajukan penagihan dan peneguran agar para tergugat melunasi biaya perawatan. Misalnya, surat tertanggal 20 September 2007, 9 Juni 2008 dan 24 Juni 2008. Penggugat dan para tergugat telah beberapa kali mengadakan pertemuan. Namun para tergugat tidak juga membayar hingga tenggat waktu 1 Juli 2008. “Cukup bukti bahwa para tergugat telah wanprestasi kepada penggugat sehingga terpaksa harus diajukan gugatan ke pengadilan,” papar kuasa hukum penggugat, Heribertus S Hartojo, dalam berkas gugatan yang salinannya diperoleh hukumonline.

    Akibat wanpretasi itu, penggugat mengalami kerugian lantaran biaya operasional rumah sakit terganggu. Karena itu, penggugat menuntut para tergugat secara tanggung renteng untuk melunasi biaya pengobatan dan perawatan sebesar Rp427,268 juta. Selain itu sesuai dengan Pasal 1250 KUHPerdata, penggugat menuntut pembayaran bunga 6 % per tahun dari total tagihan, mulai gugatan diajukan hingga biaya dilunasi.

    Pada 10 Maret 2009, tergugat mengajukan bantahan atas gugatan kepada majelis hakim yang dietuai Sugeng Riyono. Kuasa hukum tergugat membenarkan bahwa sejak 1990 almarhum mengalami kecelakaan yang berakibat patah tulang

    Gugat Balik

    Pada 10 Maret 2009, melalui kuasa hukumnya Sri Puji Astuti para tergugat mengajukan gugatan balik (rekonvensi). Dalam rekonvensi disebutkan justru RS Omni Internasional yang melakukan melakukan perbuatan melawan hukum dengan tidak memberikan informasi medis dan mengkalrifikasi tagihan. Para tergugat menilai tagihan penggugat tidak wajar. “Bukan tergugat yang wanprestasi,” ujar Sri Puji Astuti dalam gugat rekonvensi.

    Ketika Abdullah dirawat di RS Omni Internasional, para tergugat selalu meminta informasi medis penyakit Abdullah. Sebab tergugat II yang memiliki hubungan kerja dengan pasien serta tergugat I dan III selaku keluarga berhak mendapatkan informasi itu. Untuk mengklarifikasi hal itu, pada 25 Februari 2008 diadakan pertemuan antara para tergugat dengan sembilan jajaran RS Omni Internasional yang dipimpin dokter Mariyana.

    Dalam pertemuan itu penggugat berjanji memberikan informasi medis pasien. Setelah ditunggu-tunggu hingga gugatan bergulir, informasi itu tak jua diperoleh tergugat. “Sejak awal justru penggugat yang tidak beritikad baik dengan menutup-nutupi cara penanganan pasien hingga meninggal,” ujar kuasa hukum tergugat.

    Akibat meninggalnya pasien, para tergugat mengalami kerugian karena itu tergugat meminta penggugat melakukan permohonan maaf di media nasional atas pelayanan yang tidak baik dari penggugat pada almarhum dan pencemaran nama baik para tergugat. Para tergugat juga menuntut ganti rugi immateriil Rp5 miliar lantaran kehilangan almarhum selaku tulang punggung keluiarga.

    Dalam jawabannya, tergugat membenarkan pada 1990 mengalami kecelakaan yang mengakibatkan patah tulang. Namun hal itu tidak berkaitan dengan penyakit yang diderita Abdullah hingga akhirnya meninggal. Sejak awal masuk RS, pasien hanya bertujuan untuk check up kesehatan, tapi oleh penggugat pasien langsung diarahkan untuk dirawat inap pada 3 Mei 2007.

    Lantaran tidak mendapat jawaban, para tergugat mencari pendapat lain (second opinion), baik dari kerabat maupun dokter lain terkait tagihan penggugat pada tergugat. “Hasilnya banyak yang ganjil,” ujar kuasa hukum tergugat. Misalnya, dalam tagihan disebutkan penggugat melakukan cuci darag (hemodialysis) setiap hari mulai 19 hingga 31 Mei 2007. Selain itu, terjadi pergantian resep dokter tiap hari mulai 4 – 31 Mei 2007. Padahal, satu resep obat berlaku untuk jangka waktu tiga hingga enam hari.

    Lantaran menolak membayar, penggugat dalam surat tanggal 20 September 2007 bahkan melaporkan para tergugat kepada Ikatan RS Jakarta Metropolitan (IRSJAM) dan Persatuan RS Seluruh Indonesia (PERSSI). Menurut kuasa hukum, seharusnya tergugat yang melakukan upaya hukum untuk melakukan tuntutan terhadap penggugat atas indikasi malpraktek yang berakibat pasien meninggal dunia.”

  38. Judulnya emang sesuai dg UU ITE Pasal 27 Ayat 3
    “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama
    baik.”
    Berarti yg mendistribusikan juga akan dijerat hukum tersebut juga, termasuk link sumber juga bakal dijerat, wah bakal byk deh yg dihukum. kalau ibu itu dihukum semua yg menyebarkan melalui apapun harus dihukum juga dong, menurut UU itu juga.
    tapi harus diteliti lagi ini “mencemarkan nama baik” atau memang hanya bercerita tentang pengalaman hidup yg nyata.

  39. Tnang aj bu’ tika… ga bakal dtangkap ap2 kq… saya lbih konsen pd mslh praktek RS trsbut… karena patut dicurigai ad praktek2 uji coba ilegal pd manusia… kasus kek gini dah rame di kancah medis internasional, lazim na lab2 internasional yg tak memiliki izin praktek uji coba pd manusia akan mngalihkan tmpat ujicoba mereka pada RS” di negara2 dunia ketiga… harus di usut tuntas RS omni yg mlakukan mal praktek trsbut, krna kasus ini tdak hnya dlkukan oleh satu org… bahkan sdh shrus na izin praktek dokter2 trsbut d atas ditinjau kembali… JANGAN ADA YG TAKUT DISINI… TAKUT HANYA BWAT ORG YG MRASA BRSALAH!!!

  40. Harusnya Detik.com juga ambil suara buat melindungi penulis, lah wong detik.com yang menampung itu.

    UUITE memang diperlukan, tapi pelaksananya juga harus ngerti internet dan hak asasi manusia.
    kalau aparat mau nyari mangsa ya pergi aja ke kaskus tuh disana banyak yang saling menghujat

    “repot kalo pembuat UU ITE nggak ngerti internet”

  41. tika… saya link ya.. ikut sebel ama rumah sakit itu dehhh… apalagi setelah nantangin ga takut diboikot… huuuuuuuuuu… nyebelin!

  42. Kalau semua yang tulis di suara pembaca seperti detik bisa terancam penjara, berarti yang komen2 di sini bisa dipenjara. Yuk kita rame2 masuk penjara aja.

  43. eleuh eleuh .. rumah sakit .. dulu gue juga pernah tuh .. masa baru duduk, perut dipencet, GUE DIBILANG USUS BUNTU DAN SURU PUASA BESOK OPERASI.

    DOKTER ZAMAN APA YANG HEBAT GILA SEKALI PENCET PERUT LANGSUNG BISA TAU GUE USUS BUNTU. *ups emosi*

    huah yasudahlah ..

    dukung ibu prita!!

  44. onde mande… sepertinya negeri ini sangat butuh ‘rekreasi’.

    jadi pengin tau siapa pengambil keputusan di rs tersebut untuk menuntut prita atas tuduhan pencemaran nama baik.

  45. ikut nimbrung nih mbak tika….
    lha si ibu prita itu sebelumnya ngomong dulu ke pihak rumah sakitnya nggak?lha kalo belum ngomong ke pihak rumah sakit trus ujug-ujug nulis di media umum ya nggak etis juga beliaunya…….
    he2 sori klo salah

  46. Pingback: paydjo.net
  47. wakakakakak …………….ternyata selama ini dokter cuma cari duit aja ……pengorbanan dan pengbdiannya sama sekali tidak mencerminkan nilai2 kemanusian.
    JARI TENGAH UNTUK RUMAH SAKIT OMNI TANGGERANG

  48. INDONESIA SUDAH MIRIP AMERIKA!!!

    Inilah akibat dari ekonomi pasar bebas yang kebablasan. Terlihat bahwa Indonesia mulai menganut politik right-wing konservatif pro-kapitalisme seperti di Amerika, dimana konsumen boleh diinjak-injak oleh perusahaan-perusahaan besar. Seperti di Amerika, freedom of speech dan kebebasan individu ditindas dan diinjak-injak demi kepentingan kapitalisme.

    Seandainya gua tidak golput sekalipun, gua tidak sudi memilih Presiden dan Capres yang pro ekonomi pasar bebas.

    Eropa dengan sistem ekonomi terkontrol berhasil melindungi kebebasan warga -nya dari penindasan kapitalisme. Sementara itu kebebasan individu sangat dijamin (left-wing liberal). Beda banget dengan Amerika. Amerika membuat gua jijik dan pingin muntah.

    Pokoknya gua tidak mau memilih Presiden dan Capres yang pro-Amerika dan pro pasar bebas!

  49. Sy ikut merasakan apa yg dialami Prita, sudah mendapatkan pelayanan yang tidak baik dr pihak RS , malah skrg di tuntut dan di bui..
    Benar kata blogger2 sblmnya,kalo semua memposting ulang postingan Prita tsb, apa pihak Omni akan menuntut smua blogger itu smua? wah bisa rame dong penjara n kejaksaan…

    Dan salut buat Edward Forrer yang sudah bijak dan gentlemen menanggapi keluhan customernya..justru hal tersebut bikin orang simpatik, harusnya Omni berkaca dong dari kasus2 spt ini..

    I am supporting you Prita…

  50. suatu dukungan adalah sebuah wujud kepedulian kita terhadap sesama, kita lihat sendiri pemerintah tak pernah bisa memberikan kepeduliannya kepada rakyatnya. maka dari itu mari kita dukung sesama(di baca ibu prita) karena pemerintah telah buta dan mati rasa.

    negara demokrasi adalah negara yang bebas untuk mengeluarkan pendapatnya. apakah para blogger juga akan dipenjara dengan pendapat mereka di blognya?

  51. jadi bingung nih sama UU & pemerinyah kita.
    urusan kedaulatan negara aja ga serius,
    makanya di”olok2″ tetangga terus, apalagi
    bwt urusan warga negara.
    Seorang bunda Prita yg ga ada niat jelek cuma curhat gitu loh,
    cuma curhat, sekali lagi cuma curhat ke e-mail temen2,
    bukan dipublikasikan ke Media massa atw media elekto…?
    sekarang dari yg ga tau apa-apa akhirnya masyarakat luas tahu lebih dalem “kebobrokan ” R S xxxx itu…
    ya ga ?

  52. ayo dukung bu prita. mungkin dengan ‘gerakan sosial’ para blogger, di milis, juga di fesbuk, pihak2 yang berwenang bisa membuka mata.

    selamatkan ibu prita!

  53. ayo kopas bareng2…

    wah baru kali ini semangat kopas .a..a.a.a..a.awakakkaka didukung semua blogger, hihihihih

    kalo ketangkep, bareng2 kopdaran :))

  54. mungkin itu trik sensasi seperti biasanya….
    ketika pada awalnya menuntut blablabla….biar pihak RS Omni lebih dikenal duluuuu….

    kloo udah beberpa waktu akhirnya bisa berdamai dan berbaik hati membebaskan ibu Prita….namanya bisa kembali keangkaat
    huhuhu….

    *jangaaan tangkap saya pak polisii……

  55. hua.. iyya .. ayo bersatu !!! melawan melawan pemimpin dan penguasa dholim… demi komunitas kita, komunitas blogger indonesia ^_^

  56. Saya nggak tau persis kronologi sampai terjadi penahanan, dan bagaimana proses pengadilan itu berlangsung. Saya pegang saja asa praduga tak bersalah.
    Tapi dalam hal kemanusiaan, tentu lebih manusiawi kalau ibu prita bisa bebas mengasuh anak-anaknya.
    Ada pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini.

    Cara Aman Menyampaikan Opini Di Media Massa

    .

  57. PERADILAN INDONESIA: PUTUSAN SESAT HAKIM BEJAT

    Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan Klausula Baku yang digunakan Pelaku
    Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
    Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku
    Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap Rp.5,4 jt. (menggunakan uang klaim asuransi milik konsumen) di Polda Jateng
    Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak ‘bodoh’, lalu seenaknya membodohi dan menyesatkan masyarakat,sambil berlindung di bawah ‘dokumen dan rahasia negara’.
    Maka benarlah statemen “Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap” (KAI) dan “Ratusan
    rekening liar terbanyak dimiliki oknum-oknum MA” (KPK). Ini adalah bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah terlampau sesat dan bejat.
    Keadaan ini tentu tidak boleh dibiarkan saja. Masyarakat konsumen Indonesia yang sangat dirugikan mestinya mengajukan “Perlawanan Pihak Ketiga” untuk menelanjangi kebusukan peradilan ini.
    Sudah tibakah saatnya??

    David
    HP. (0274)9345675

  58. PERADILAN INDONESIA: PUTUSAN SESAT HAKIM BEJAT

    Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan Klausula Baku yang digunakan Pelaku

    Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
    Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk

    menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku

    Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap Rp.5,4 jt. (menggunakan

    uang klaim asuransi milik konsumen) di Polda Jateng
    Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak ‘bodoh’, lalu seenaknya membodohi

    dan menyesatkan masyarakat,sambil berlindung di bawah ‘dokumen dan rahasia negara’.
    Maka benarlah statemen “Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap” (KAI) dan “Ratusan

    rekening liar terbanyak dimiliki oknum-oknum MA” (KPK). Ini adalah bukti nyata moral sebagian

    hakim negara ini sudah terlampau sesat dan bejat.
    Keadaan ini tentu tidak boleh dibiarkan saja. Masyarakat konsumen Indonesia yang sangat dirugikan

    mestinya mengajukan “Perlawanan Pihak Ketiga” untuk menelanjangi kebusukan peradilan ini.
    Sudah tibakah saatnya??

    David
    HP. (0274)9345675

  59. gara2 mengungkapkan ketidakpuasan atas pelayanan dari RS OMNI, seorang ibu ditahan dan terancam dipenjara 6 tahun. malu, tidak berkaca pada kinerja malah menuntut…apa yang RS OMNI pikirkan, sudah tidak tahu malu, dah GOBLOG ga mau ngaku

  60. Turut prihatin atas matinya hari nurani RS Omni (tidak pantas menyandang status) International. Kritik itu kan membangun kan kalau ditanggapi secara serius? Lha, kalau arogan gitu dan langsung “main tangan”, sudah persis kaya preman aja. Dua jempol untuk RS Omni (tidak pantas menyandang status) International. Tapi jempolnya dibalik ke bawah ya… :))

  61. Sudah banyak kasus malpraktik kayak RS Omni itu.Makanya semua yang berduit ga berani berobat di Indo, malah ke Singapura semua. Nah saya sebagai orang miskin, sakit dilarang. Kalo sakit?, ya berobat ke RS. Kalo kena malpraktik?Ya diemin aja? Wah sakit saya bertambah parah neh? Rasain Lu…Emang gw pikirin. Susah bangat hidup di negri ini!!!!

  62. Kalo saya sakit keras dan hanya ada 1 RS yait RS Omni..
    Saya milih ke dukun aja…
    Kalo engga saya malah milih cepat dipanggil Tuhan..

    hohoho….

  63. Semalam nonton yang di Metro TV. Lihat pengacara Omni yg super bodoh dan jelas2 mengada-ada dengan tuntutannya. Lagipula kok anehnya mereka dah pake UU ITE ini yg konon baru akan berlaku 2010.
    Yuk rame2 boikot Omni International Tangerang biar bangkrut sekalian.

  64. Duuh.. tidak rumah sakit daerah, tidak juga yang bertaraf internasional. Kalau pihak2 pengelolanya bukan orang yang mengedepankan pelayanan terhadap pasien-pasiennya, tetapi hanya keuntungan semata-mata yang dicari.. yaa, beginilah akhirnya.
    Terhadap rumah sakit2 semacam ini, selayaknyalah kita lakukan pemboikotan..

  65. Semangat mbk Prita.banyak yg mendukungmu….salah satu jalan untuk mengungkapkan kekecewaan pada sebuah pelayanan ya lewat surat eletronik ini…….klw diem2 aj, pazti akan ada korban lagi.

  66. KEBENARAN, KEBAIKAN DAN KEADILAN TIDAK AKAN PERNAH BISA DIPISAHKAN. SETELAH TAK BERDAYA BERUSAHA MENCARI KEBENARAN, ADALAH HAK PRITA UNTUK MENYAMPAIKAN KELUHANNYA MELALUI MEDIA BUKAN MERUSAK NAMA BAIK. MASAK PRITA TERIAK2 KELANGIT SIAPA YG MO DENGAR. BERDOA HARUS TAPI MENYUARAKAN HAK JUGA HARUS. APALAGI DENGAN NIAT ANGAN SAMPAI JATUH KORBAN LAGI SEPERTI YG PRITA ALAMI. BERARTI NIATNYA BAIK.

    AYO DUKUNG. BEBASKAN PRITA! SEMOGA BELIAU CEPAT DAPAT MENEMUI BUAH HATINYA DAN CEPAT SEMBUH. AMIN

    http://belajar-desain-grafis.blogspot.com/

  67. “Edward Forrer menghubungi koh Fahmi secara pribadi. Meminta maaf, berterimakasih atas kritikan koh Fahmi, dan memberikan sebuah sepatu produk baru mereka untuk dicoba dan diberikan cuma-cuma untuk koh Fahmi.”

    Lho masa OMNI niru gini, minta maaf terus kasih suntikan gratis..?

    ntar salah suntik lagi…

  68. kasian mbak prita, gara2 mengeluh pelayanan yg kurang bagus harus “di penjara”…
    padahal kan itu memang kenyataan yg dialami oleh mbak prita di RS OMNI tsb, knapa itu dibilang menghina/menjelek2an nama baik??? mbak prita kan hanya mengeluhkan pelayanan RS OMNI tsb…
    klo menurut gw, klo mbak prita nya ga pernah di rawat di RS OMNI tsb, kemudian mbak prita berbicara seperti itu, nah itu baru namanya menghina/menjelek2an…

  69. Wah..
    Kalo semua yg kebangetan ini pd copas bulat-bulat surat pembaca mbak Prita dan ikutan dijemput ke hotel prodeo, penjaranya bakalan penuh dwuonks! *ngakak*

    Saya ikut berduka cita buat mbak Prita.
    Buat Tika?
    Hm..
    *garuk-garuk kepala*

  70. menurut saya ibu prita mengatakan yg sebenarnya ttg kata “Penipuan” yg menjadi masalah buat pihak omni…
    Bahwa penipuan yg dimaksud oleh ibu prita adalah “JANJI” pihak rs Omni untuk memberikan hasil lab “27K” yg tidak kunjung terpenuhi, kalaupun selama ini pihak rs omni (lawyer pak Hb) slalu mengatakan tidak bisa memberikan hasil karena tidak valid, but why u tell ibu prita akan memberikan hasil lab tsb??? (Mending om lawyer baca dulu email dg lebih jelas) bahkan dalam email bu prita jg menjelaskan bahwa rs omni telah “menipu” dengan mengatakan telah mengirimkan kurir untuk memberikan hasil tsb..
    Kalau tidak bisa memberikan hasil kenapa dulu berjanji omm bahkan sampe repot2 bilang udah kirim segala ???
    buat omni rasanya Seperti menggaruk gatal dengan pisau…Tanya kenapa ????????

  71. kita dukung terus mbak prita yg lg memperjuangkan hak keadilan untuk rakyat kecil…(kaya kampanye)…jgn sampai orang2 besar nindas mulu dengan kekuasannya,harta dan nama besar mereka…mbak prita yg berobat kerumah sakit kok malah di tuntut bukanya disembuhin sakitnya….AAAANNNEEEHHH…..TENAN REKKKKK…

  72. saya ndak mau komen,sebelum jelas isi UU ITEnya.takut saia kena ciduk..
    ternyata UUD45 ttg kebebasan mengeluarkan pendapat bisa dikalahkan sama UU ITE

    simpati saya yg terdalam untuk mbak Prita.

  73. wah kalimat pertamanya serem banget… mungkin gara2 kalimat pertama yang bikin ibu prita di gugat. seharusnya langsung ke pokok permasalahan saja, tidak pakai paragraf pertama…

  74. Memang harus dilawan semua hal yang tidak benar di negeri ini, tidak hanya RS omni aja yang harus dipersalahkan dalam kasus ini, tapi jg penyidik (aparat) yang menahan, kenapa delik seperti itu saja bisa dijadikan alasan untuk menahan seseorang apalagi seorang ibu yang memiliki dua anak balita yang masih membutuhkan ASI.
    Ayo tuntut balik semua saja yang terlibat kasus penahanan ini dari mulai dokter sampai manajemen rumah sakit dan parat yang menahannya.
    Banyak yang bisa dijadikan dasar untuk menuntut balik :
    tidak profesional, ingkar janji, salah diagnosa, sampai menelantarkan anak yang masih membutuhkan ASI dari ibunya.
    Ayo bikin rekening peduli untuk membayar pengacara melawan ketidakadilan, sisihkan Rp. 5.000 maka akan terkumpul cukup untuk membayar pengacara yang mau menuntut balik semua yang terlibat penahanan bu prita.

  75. Waduhhh parah banget itu manajemen RS OMNI.. padahal konsumen itu nyawa mereka juga.. Lagian ga bener banget.. masa ujug2 ditahan aja..

    Sebagai salah satu staff di Edward Forrer, kami disini selalu diingatkan bahwa konsumen adalah raja dan it is a pleasure to make our customers happy… Makasih ya mbak Tika :-)

  76. Rasa kemanusiaan sudah gak ada lagi, yg ada duit duit duit…
    trus mau menang sendiri, gak mau denger apa kata orang lain.
    Arogan banget sih…..

  77. hmmm, anegh2 orang indo. pihak terkait gak tau, gak mau tau, pura pura ngerti, atau pengen biar ada kerjaan aja sii ? Terus pernyataan mentri di kompas

    itulah bedanya jelita dan jelata katanya..

    waghh waghh para para…

    Di US spam itu gak boleh, di indo mala masalah ginian yang laris ? agusss agusss…

    Dipertanyakan kredibilitas pihak terkait dengan kasus ini. nasibkah mereka mendapatkan jabatan ? agussss agusss…

    Maen tangkep karena apa ? dituntut pasal apa ? pencemaran nama yang gimana ? agusss aguss….

    kalau gw jadi presiden, yang Tika banget yang pertama gw tangkep masukin ke kamar, poto poto bareng :D

    *cekikikan*

  78. iya harus hati, nanti dipenjara lho, sayah juga sebenarnya mau bilang MANAJEMEN OMNI Bloon…, namun takut jadi saja diam saja..

  79. kalau mau periksa kesehatan apalagi operasi,lebih baik konfirmasi ke lebih dari 1 dokter(karena tidak semua dokter pintar dan punya moral, sebagian hanya nyari uang). adik saya pernah diperiksa oleh dokter THT dan diwajibkan operasi karena infeksi telinga(sambil ditakut-takuti, kl gak bisa tuli).. Kemudian setelah dikonfirmasi ke dokter lain, ternyata hanya infeksi ringan, setelah dikasih obat, Alhamdulillah sekarang sudah sembuh.
    Sebagian rakyat Indoensia masih menganut faham feodal peninggalan Belanda, “Yang Lebih Tua selalu Benar, Yang Kuat Selalu Menang, Yang Pintar Selalu Benar!!!” sehingga tidak pernah mau mengalah kepada orang yang lebih lemah walaupun sudah jelas2 salah..
    Semoga Bu Prita dapat tawakal, berserah diri, dan diberi kekuatan oleh Allah SWT karena telah dijadikan “tumbal demokrasi” di negeri ini..

  80. Benar2 gak mutu nih RS. Pasti saat ini RS OMNI menyesal telah memperkarakan Ibu Prita. Soalnya Ibu Prita telah mendapat dukungan dari seluruh elemen masyarakat. Apalagi sekarang masa2 kampanye pilpres, dimana semua calon berlomba memberikan dukungan. Bahkan sala satu calon pilpres memberikan bantuan tim advocat.

  81. copot tuh ijin kedokterannya..bisa” lbh byk mnghabiskan korban..
    *yakin dokter”nya lulus dgn ipk.terendah..ataw nyogok tuch,,ataw sering tidur dikelas pas kuliah..ataw lagi krn mrka” ituh pnipu yg bilang ahli di bidangnya lagi??*

    *kaboorrr aghhh,,ntar dpenjara juga lagi*
    cuih..

  82. RS Omni seperti menelanjangi diri sendiri dengan dia “takut” dan menggugat bu prita, semoga ini pelajaran buat semua rumah sakit di indonesia. Dan kasus ini jgn sampe tenggelam, biarin Omni tutup, dan dokternya gak ada pasien!, ini bukan DOA tapi cuma sekedar ungkapan kekesalan.

  83. Mungkin dokter2 yang di OMNI lagi niru dokter HOUSE yang di erial HOUSE tuh,,,tapi ga berhasil….

    wakakakakkaka,,,,

    Diagnosa berubah2 tiap menit….

  84. beda tik…
    EF tau apa itu ‘beyond the expectation’, sedangkan Omni tidak. di situlah perbedaan pondasi dasar yang akhirnya berlanjut bagaimana tindakan mereka ketika menyikapi konsumen yang protes :D

  85. Jadi kesimpulannya itu, habis disuntik, tangan dan leher bengkak, minta hasil tes lab, terus dipenjara 20 hari…!!!
    ckckckck….

  86. wah-wah… padahal koran lokal di kota saya (Bandung)… setiap hari selalu ada kolom khusus yg disediakan untuk menyampaikan unek-unek dan keluhan macam Ibu Prita… malah lebih parah.

    kalo keluhan lewat e-mail aja ditindak, apalagi di koran?
    tapi kok keluhan di koran malah aman-aman saja tuh? respon dari si penerima keluhan pun malah positif dan cepat tanggap.

    huah… aneh.

  87. kalo gitu kita tulis bareng2, biar ditangkep semua..
    kalo gak bisa ngelawan hukum, pake kekuatan tekanan sosial.

    setujuuuuu….
    bikin tekanan sosial….

  88. Ah.. kampret tuh rs..! kampret.. kampret!
    kyk tu Rs paling laku se indonesia aja.. dia gak nyadar apa, kalau mengeluarkan petisi kyk gitu bukannya ngebuat RS tersebut laku, malah nggak ada yg mau lagi yg berobat disana.. mudah2an tu RS bangkrut ampe anak cucunya.. bu prita syg,, sabar yah T_T innama’al shobirin..

  89. Kalau ke RS Omni Ngak sembuh, tapi malah masuk penjara. Minum aja PONARI sweet produk dari dukun cilik Jombang, yang kata MENKES ngak rasional.
    Tapi kalau orang curhat tentang pelayanan RS, terus dipenjara apa itu juga namanya juga ngak rasional.
    MENKES malah membela RS Omni yang katanya takut RS Omni tutup gara-gara orang curhat.
    Tapi yang bener RS omni bisa tutup karena ulah oknum RS omni yang tidak profesional, malah komersial yang dikedepankan, biasa ngejar target setoran.
    Buat aparat hukum, jangan asal main tangkap orang curhat, itu koruptor dan perman berdasi masih banyak yang perlu ditangkap.

  90. Weh, masak kebanyakan kok ndukung prita terus, mendingan mulai sekarang dukung rs Omni ajah… dukung pencabutan izin operasi dan praktek rs Omni..!!! hehe, kan lebih seru. Paling2 ntar makin banyak pengacara bayaran rs Omni berkoar2, dan makin banyak tulisan yg bisa kita muat di blog, kebaikannya, makin mempererat silaturahmi sesama blogger. Mantap yak?

  91. Wah… panjang bgt mbak surat dr bu Prita, hehehehe….. Mending komen yg aman2 aja ah…. Edward Forrer berlaku profesional tuh ;)

  92. Semoga ke depan rumah sakit di Indonesia bisa memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik lagi daripada komersialnya. Saya ikutan dukung ibu Prita dan semoga bebas.

  93. permainan uang yang tidak rapi.
    pesen buat yang maenan uang, belajar dulu yang rapi.
    kayak tertulis dikaca2 sekolahku “sudah rapikah anda?”

    mbak tika kok ga masuk2 koran ni? :p

  94. Kalau ditangkap polisi, saya akan menyanyikan lagu dangdhut yang syairnya udah tak gubah.

    Apa yang kau minta
    rok mini atau mercy
    kemana kan kucari
    merampok atau mencuri
    rela aku ditangkap polisi

    Kalau Tika ditangkap polisiiiiiiiii
    rela aku mengirim nasi
    Kalau Tika sampai masuk buiiiiiiiiiii
    aku kan segera cari pengganti.

    Mantap tho, enak tho nduk.

  95. JANGAN SAKITI HATI MASYARAKAT

    Niat Omni mencabut gugatan terhadap Prita adalah bukanlah perkataan jujur, yang jelas OMNI sudah takut bangkrut, sebab cepat atau lambat banyak Pasiennya yang meninggalkan OMNI untuk bergabung dengan masyarakat, sebab perbuatan OMNI Hospital tidak saja menuntut Prita, tetapi juga menuntut ganti rugi ratusan juta terhadap Pasien lainnya yang belum bayar biaya rumah sakit serta pihak OMNI telah menyebabkan kebutaan salah satu pasien yang lahir ditempatnya;

    Yang jelas akibat kasus di Rumah Sakit OMNI tersebut Tuhan telah menurunkan hidayahnya dengan memberi keadilan kepada Prita melalui tangan masyarakat luas tanpa membedakan kasta atau golongan yang secara antusias menolak penindasan dengan cara mengumpulkan uang logam untuk membantu Prita;

    Maka oleh karena itu saran saya agar Prita jangan menyakiti hati masyarakat karena suara mereka adalah suara Tuhan, tetaplah melanjutkan perkara di Pengadilan, dan keadilan yang paling tepat adalah agar OMNI menghitung uang logam atau koin hingga tuntas, biar OMNI sadar kewajibannya adalah menyembuhkan orang sakit bukan membuat orang sakit, apalagi yang disakiti orang kecil, kan akibat perbuatannya OMNI Hospital sekaranga kena tulahnya sendiri;

  96. Konsumen adalah raja. KOnsumen yang memutuskan jadi beli atau tidak barang yang dijual produsen. Barangsiapa jahat terhadap konsumen, maka konsumen akan lari terbirit-birit dan mencari produk lain yang sejenis yang dijual oleh produsen lain. Yang rugi siapa ya ? Barangsiapa yang bermain api maka akan panas terbakar dan barang siapa menggali lobang akan terperosok sendiri kedalamnya. Makanya jangan main api atau menggali lobang kalo gak tahan panas dan gak bisa jatuh.

  97. Pingback: MILTON
  98. Pingback: DWAYNE
  99. Aneh memang. Sudah salah tapi malah nuntut.

    Tapi bukannya mayoritas orang indonesia seperti itu?

    Gampangnya, liat aja di jalanan. Supir angkutan umum dan banyak dari pengendara motor juga seenaknya kalo mau belok atau berhenti. Kalo di tegur, malah galakan mereka khan?

    yah itu lah moral orang indonesia.

  100. Pingback: JESSIE
  101. Attractive section of content. I just stumbled upon your web site and in accession capital to assert that I acquire actually enjoyed account your blog site posts. Anyway I’ll be subscribing to your augment and even I achievement you access consistently fast.

  102. Menurutku sih konsumen adalah raja. Konsumen yang memutuskan jadi beli atau tidak barang yang dijual produsen. Barangsiapa jahat terhadap konsumen, maka konsumen akan lari terbirit-birit dan mencari produk lain yang sejenis yang dijual oleh produsen lain. Yang rugi siapa ya ? Barangsiapa yang bermain api maka akan panas terbakar dan barang siapa menggali lobang akan terperosok sendiri kedalamnya. Makanya jangan main api atau menggali lobang kalo gak tahan panas dan gak bisa jatuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *