Senjata dan Perisaimu ituh..

Suatu malam yang gundah dan gulana, saya mengundang Simbah datang ke rumah.
Mencoba mencari teman ngobrol dan teman tertawa.

Simbah Edian Ra Rampung Rampung namanya.
Tapi kepanjangan, jadi saya panggil dia Simbah Ed.
Sosok yang meneduhkan, tapi kadang jailnya minta dikemplang.
Saya kangen.
Lama sudah saya ndak bertegur sapa.

Simbah datang, memeluk saya.
Mengacak-acak rambut saya (yang memang udah acak sih ya..)
Menjawil dagu saya dengan genit.
Mengelus-elus punggung saya dengan nyaman.
Memandang mata saya dengan penuh kasih.

Ah.. Simbah..
Sayang deh sama Simbah..

Malam itu kami ngobrol dan tertawa, berbusa-busa.
Dan di tengah obrolan kami, seperti biasa, banyak ucapan Simbah yang rasanya pengen saya coretkan besar-besar di dinding.
Suami saya sih ndak bakalan ngamuk, kalo betul-betul saya coret itu dinding.
Cuma yaaaa.. Gimana yaaaa…

Tika : Mbah, dulu temenku ada yang pernah ngomong lho mbah, kalo pinter dan cerdas itu sebenernya bakat. Ndak semua orang itu pinter gitu lho, mbah. Tapi mosok gitu tho, mbah?

Simbah : Hmm.. Simbah rasa itu bener, nduk.. Ada orang yang memang dikaruniai otak cerdas. Tapi ada orang yang bisa menyamai hasil si otak cerdas dengan kerja keras.

Tika : Hmm..

Simbah : Tapi begini, nduk. Kamu harus tau bahwa apapun itu di dunia ini, pasti butuh senjata dan perisai. Begitu juga otak.

Tika : Eh? Gimana itu, mbah?

Simbah : Otak itu media, nduk. Cerdas atau ndak cerdas, itu kondisi. Senjata otak, adalah ilmu pengetahuan. Sedangkan perisai otak, adalah budi pekerti.

Saya menatap Simbah lekat. Berusaha mencerna. Dan Simbah tergelak menyadari mata saya yang memicing mencari tahu.

Tika : “Jadi senjatanya otak yang cerdas itu ilmu pengetahuan ya. Mmm. Sekolah gitu, mbah?

Simbah : “Simbah ndak bilang harus sekolah. Pengetahuan itu, bisa didapat dengan membaca, nduk. IQRA. Menjadikan otakmu penuh dengan referensi tentang dunia dan isinya.”

Saya nyengir. Malu. Masak beginian aja mesti nanya.

Tika : “Lalu perisainya otak? Budi pekerti?”

Simbah : “Budi pekerti akan menjadi perisai yang mantap untuk otak yang berilmu. :)

Tika : “Kalau keluarganya udah ngajarin dari kecil. Lha kalo ndak ada yang ngajarin, cara belajarnya gimana, mbah?”

Simbah : “Belajarlah dengan menyimak sekitarmu, nduk. Dengan mendengarkan sekelilingmu. Mengasah rasamu..”

Aih..

Sejuk sekali rasanya.
Simbah memang paling bisa..

40 comments on “Senjata dan Perisaimu ituh..

  1. Nice Tik. Bikin kita mikir.. Kali punya senjata emang harus dilengkapi perisai. Sedangkan kalo hanya punya senjata/perisai doang.. Ya gak bakal total jadinya dan jadi orang yang setengah2..

  2. Good, mbahnya dalam bnget ngomongnya….wah bisa ajari yang lain ni….hidup emg perlu senjata dan perisai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *