#BaladaRana ituh.. (04) – Ketika Rana Disinar

Baiklah.
Ini sambungan dari cerita sebelumnya disinih ya..
Semoga belum bosen bacanya.. :D

29 Juni – Pukul 19.30
Saya di antara 2 kegiatan penting, yang saya sendiri bingung, mana yang lebih penting dan mana yang harus didahulukan.
Rangga dimana?
Oh, Rangga sedang di kantor.
Bekerja, mengejar beberapa hal yang dia tinggalkan selama menunggui saya melahirkan.
Padahal harusnya itu hari jatah cuti dia lho.
Padahal harusnya dia nemenin saya disini panik-panik bergembira.
Padahal harusnya Angel Lelga dan Machicha Mochtar kalo perlu jambak-jambakan aja sekalian kayak Jupe sama Dewi Persik.

Eh, jadi gimana tadi itu, tik?

Oh iya, jadi saya langsung sibuk dengan kecepatan tinggi dan perasaan terburu-buru melakukan update status di twitter tentang kondisi Rana yang butuh donor ASI,
mengontak orang-orang yang saya tau baru saja punya baby, membalas respon yang membanjir, bertanya satu demi satu para Ayah dan Ibu yang dengan ramahnya menawarkan stok ASI perahnya.

Sambil di antara pegang blekberi, saya berusaha memeras ASI.
Benar-benar 2 kegiatan yang sebenarnya bingung banget, mana yang lebih penting.

Alhamdulillah, saya langsung mendapat bantuan dari Amu, yang bersedia menyumbang 200ml ASI perah simpanan istrinya di rumah.
*ciyum-ciyum Amu dan istrinya*

Masalah baru muncul, gimana caranya ngambil stok ASI perah ke rumah Amu?

–BERSAMBUNG–

*Maap. Nanti abis sampe rumah lanjut lagi yah..*

3 comments on “#BaladaRana ituh.. (04) – Ketika Rana Disinar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *