#BaladaRana ituh.. (03) – Ketika Rana Disinar

Warning awal ya.
Tulisan ini bakal sangat puanjaaaang. Hahaha.
Ya maap. Nanti dibikin bersambung deh ke tulisan berikutnya.

28 Juni – 06.00
Hari Kedua setelah Rana dilahirkan, suster mengabarkan bahwa seperti bayi lainnyan Rana harus menjalani tes bilirubin.
Tes darah untuk mengetahui tingkat penyakit kuning yang diderita bayi baru lahir.

Dokter Laktasi yang berkunjung tiap pagi menenangkan saya, dan berkata bahwa Rana terlihat cukup sehat. Jauh dari gejala penyakit kuning seperti bayi penderita lainnya.
Saya sendiri juga ndak ada firasat apa-apa.
Toh ASI saya terbilang cukup lancar untuk Ibu yang baru melahirkan. Mbrebes mili top markotop.

Hari itu juga, rencananya sih kami semua mau check out dari kamar rawat di Kemang Medical Care.
Iya. Kami semua.
Secara yang nginep di kamar itu bisa sekampung. Ada saya dan Rana (yaiyalah), Rangga, ibu saya, dan Sita adek saya.

28 Juni – 09.00
Pengambilan darah sudah dilakukan.
Buat saya yang baru 2 hari punya anak, baru bungah-bungahnya punya baby, baru meledak-ledaknya rasa ingin melindungi si baby, rasanya ndak tega betul liat Rana nangis kejer-kejer waktu disuntik..
Apalagi si suster nyuntik di 2 tempat pula, karena menurut dia darah Rana di tempat suntikan pertama dikit banget.
Huhuhu..
Sabar ya nak..
Ini Mama ndak jauh-jauh koook..
*cubit susternya*

Entah kenapa saya kok pede banget hasil tes bilirubin Rana baik-baik saja. Semua barang saya beresi dan lempar ke koper dan tas untuk dipacking.
Si Nyonyah Besar pun udah nyempetin pulang ke rumah buat beres-beres rumah menyambut bayi kecil bakal penghuni baru.

28 Juni – 11.30
Sesaat sebelum jam check out, saya mampir ke meja jaga suster, bertanya hasil tes bilirubin.
Eh lha kebetulan kok ya dokter anak Rana (yang juga memeriksa Rana sesaat setelah lahir) pas ada disitu juga.

Tika : “Gimana, dok, hasil tes bilirubin anak saya?”
Dokter Anu : “Begini, Bu. Ini hasil tes menunjukkan anak Ibu ada di angka 13,5. Ini rendah, Bu. Yang normal itu di angka 10. Anak Ibu harus disinar 48 jam.”
Tika : “Eh? Disinar? Dipisah ruangan gitu, dok?”
Dokter Anu : “Iya. Ibu kalau mau pulang dulu, gakpapa. Ini bayi Ibu harus minum 30ml susu setiap 2 jam ya, Bu, selama disinar.”

HAH.
APA-APAAN.
BARU JUGA PUNYA BAYI KOK UDAH DIPISAH-PISAH.
APA-APAAN.
APA-APAAN.
APA-APAAN.
*yak. Sekali lagi dpt piring cantik, tik*

Si dokter sepertinya merasakan saya yang mulai menegang.
Tanpa melihat ke arah saya, dia menyodorkan tabel bilirubin.

Dokter Anu : “Boleh. Boleh kalau mau tanya yang lain. Pasti jawabannya sama juga. Ini kalau Ibu ndak percaya, silahkan lihat sendiri tabelnya. Ini lho, Bu. Dilihat, Bu..”

Tiba-tiba si dokter jadi terlihat jahat.
Apalagi si dokter Anu ini ngomong sambil TIDAK menatap mata saya. Sambil sibuk nulis entah apa.
Seolah ndak peduli kalau saya ini baruuuuu aja melahirkan. Ndak peduli kalau saya lagi rapuh-rapuhnya. Ndak peduli kalau saya ini wanita lemah tanpa daya. Ndak peduli kalau Nassar menikahi Musdalifah.
*maksudmu gimana ya, tik?*

Dokter Anu : “Ya ibu kalau gak percaya boleh tanya sama dokter lain. Ini lho Bu, chartnya. Coba dilihat sendiri tuh. Tapi ya kalau gak mau ya gakpapa. Semua kan terserah Ibu ya.”

Uh. Sebal. Sebal.
Saya ndak mau pulang ke rumah tanpa Rana.
Ndak mau meninggalkan Rana sendirian di ruang sinar.
Ndak mau.
Ndak mau.

Dengan gundah saya balik ke kamar, meraih blekberi, dan dengan cepat bertanya ke beberapa orang sekaligus meminta pendapat.
Maunya saya sih, rana dibawa pulang aja gitu. Dijemur-jemur di rumah. Disusuin terus. Ntar kan lama-lama bilirubinnya naik ke normal.
Ndak usah pake acara dipisah-pisah segala.

Ah, tapi semua bilang, sebaiknya disinar saja.
Walaupun kalau saya ngotot bawa pulang ke rumah, ya ndakpapa juga. Cuma pastinya akan ribet bolak-balik ke dokter untuk periksa bilirubin lagi.
Uh. Saya memang mempersiapkan diri dengan banyak referensi untuk proses melahirkan.
Tapi saya kok ya ndak siap-siap juga dengan referensi bacaan setelah bayi lahir.
Sigh.
Baiklah. Saya menyerah.

28 Juni – 13.30
Mau nangis rasanya melepas Rana yang digeledek dalam box-nya menuju kamar penyinaran. Kamar penyinaran ada di lantai 2. Sementara kamar rawat inap ada di lantai 4.
Huhuhu.. Jauhnya kita terpisah naaaak..
Huhuhu.. Jauhnyaaaaaa..
*apa sih, tik. Lebay lu.*

Ya maap. Emang waktu itu berasa sedih banget jeh. Ndak tega mbayangin Rana sendirian, ndak ada emaknya. Huhuhu..

Seorang suster lalu mendatangi saya. Memberikan sebuah cup feeder, untuk menampung perahan ASI saya.
Untuk nantinya diminumkan ke si bayi.
Dan dikasih target, harus 30ml yang diminumkan ke bayi. Tapi entah kenapa, susternya lupa ngasih tau kalau harus diminumkan SETIAP 2 jam sekali.

Dalam kondisi badan baru melahirkan, mental ngedrop, dan tangisan yang rasanya mau tumpah ruah, memerah payudara biar mancur ASI sebanyak 30ml itu kok rasanya syusyaaaaah banget waktu itu.

Untung ada Indi. Yang sedang menengok, dan lalu menyemangati saya dengan cara memijat payudara saya dengan teliti.
Sumpah ya. Pijetan Indi itu sakiiit banget. Tapi Indi pintar betul menyentuh bagian-bagian dimana payudara saya mengeras karena ASI berkumpul.

Mental saya semakin ndak karuan karena Nyonyah Besar dan Nyonyah Mertua berkomentar macam-macam.
Mulai dari “kamu dulu gak anu sih..” sampai “kok diperiksanya waktu mau pulang sih? Harusnya kan waktu lahir langsung dicek, langsung disinar.”

Fiuh.
Susah untuk semakin ndak panik dalam kondisi begitu.
Lalu semakin panik, semakin sedikitlah ASI yang mengucur. Duh.

Akhirnya karena sepertinya ASI yang diperah ndak ada kemajuan, Indi menyarankan saya tidur dan beristirahat. Melepaskan penat. Melepaskan panik. Melepaskan gundah. Dan mendorong untuk bangun dalam kondisi segar dan siap mengucurkan ASI.

Saya menurut. Situasi hati lumayan cair karena Indi dengan sigapnya ngajak becanda melulu.
Akhirnya saya tidur deh.

28 Juni – 18.00
Suster membangunkan saya.
Saya diminta datang ke ruang penyinaran, karena bayi saya menangis lapar.
Dengan terburu-buru, saya berpakaian dan setengah berlari turun ke lantai 2, ditemani Sita.

Begitu masuk ruang sinar, hati saya rasanya seperti berlubang besar.
Mencelos luar biasa.
Rana menangis histeris di box sinar.
Badannya dibiarkan telanjang. Cuma sehelai penutup mata dan diapers plastik yang menutupi tubuhnya.
Air mata saya tiba-tiba menggenang, mengaburkan pandangan.
Tapi saya ndak biasa nangis depan orang. Terlalu gengsi untuk itu.

Suster mulai bicara.
“Ibu, bayi Ibu butuh minum susu 30ml SETIAP 2 jam lho. Tadi sore Ibu cuma setor ASI sejumlah 5ml. Sangat gak cukup, Bu. Sekarang Ibu susuin langsung ya.”

Haaaa..
Kenapa ndak ada yang bilang kalau harus setor SETIAP 2 JAM?!!!
Eh, kayaknya tadi dokternya sempet bilang deh di awal banget. Ya udah. Cuma itu aja.
TAPI KENAPA NDAK ADA SAMA SEKALI YANG NGINGETIN LAGI?!!!
GUE KAN TADI LAGI PANIK, MEEEEN..
GUE MANA INGEEEEET, MEEEENN..
GUE KAN BARU PUNYA BAYI YA SATU INIIIII, MEEEN..
GUE MANA TAHU HARUS NGAPAIN AJAAA, MEEEENN..
DUUUUUUHHHH!

Tau gitu kan dari tadi udah itung-itungan jumlah ASI yang harus tersedia selama Rana disinar.
Tau gitu kan saya tadi ndak usah tidur gitu.
Tau gitu kan..
Tau gitu kan..

Aish.
Kesal.
Sedih.
Jengkel.
Pengen nangis.
Pengen nyakar-nyakar orang.
Pengen bawa kabur Rana.

Suster mulai mengatur kursi untuk tempat saya duduk. Dan mengangkat Rana dari box sinar, diserahkan ke pangkuan saya. Alat sinar dengan lampu neon biru 2 biji diatur agar tetap bisa mengenai bayi.

Saya memeluk dan menyusui Rana dalam diam.
Diam karena ndak tau harus berkata apa.
Diam karena akhirnya bisa menikmati tubuh kecil Rana yang masih sangat merah.
Diam karena sedih membayangkan Rana yang masih harus berada disini sendirian untuk 2 hari ke depan.
Diam karena panik memikirkan cara menyediakan jumlah susu yang harus diminum Rana dalam 2 hari ke depan.

Dengan gemetar, saya memandangi dan mengelus tubuh mungil merah Rana yang seperti kalap menghisap payudara.
Duh. Kamu lapar ya, nak?
Maafin Mama ya..
Mama ndak tau..
Maafin Mama ya, nak..
Pulang aja yuk sama Mama..? Yuk?

Air mata saya mulai mengalir.
Begitu saja.
Dalam diam.

Pundak saya disentuh. Ada tissue terulur. Dari Sita yang dari tadi menunggu dan memandang dari luar kamar.

Setelah Rana kenyang dan tertidur, suster mengembalikannya ke box sinar.
Saya mulai mengedarkan pandang ke penjuru ruangan.
Oh, ternyata ada bayi lain disini yang disinar juga.

Saya tanya ke Suster, “Sus, kalau bayi yang itu gimana susunya?”
Suster : “oh. Dia pake donor ASI.”

Wah! Bener juga! Donor ASI!

Tika : “Baik. Kalau gitu saya cari donor ASI saja, sus..”
Suster : “Eh, sebentar. Saya harus tanyakan dulu ke dokter Anu ya, minta ijin dulu, Bu. Ndak bisa sembarangan..”
Tika : “lho? Biasanya kalo dokter Anu memberikan solusi apa kalau si Ibu gak cukup perahan ASI-nya untuk bayi disinar?”
Suster : “Ya nanti kita bisa kasih susu formula.”

Gubrak.
Pikiran kalap saya menyimpulkan buta.
Jadi kalau donor ASI harus tanya dokter Anu, trus kalo susu formula ndak perlu minta ijin ke si dokter?
Waduh.

Tika : “kalau gitu tolong tanyakan ya, sus. Saya tunggu disini. Saya mau cepet-cepet cari donor ASI buat anak saya.”

Sita menepuk-nepuk pundak saya, menenangkan saya yang (mungkin terlihat) gusar dan keruh.

Ndak lama, si suster kembali pada saya dan mengabarkan bahwa dokter mengijinkan saya memberi ASI dari pendonor.
YAELAH. KALO SITU NDAK KASIH IJIN, GUE BAWA KABUR JUGA NIH ANAK GUE!
Hih.
*ngacungin parang*
*entah parang dari mana*

Saya ndak anti susu formula.
Toh saya sendiri juga pernah mengonsumsi susu formula ketika balita.
Tapi saya akan mengusahakan yang terbaik untuk Rana.
Saya akan mengusahakan ASI.
Semampu saya.
Sekuatnya tekad saya, Rana tetap harus minum ASI di hari-hari pertama hidupnya.

Tolong bantu saya, Ya Allah.
Tolong.
Saya panik.

—-BERSAMBUNG—-

11 comments on “#BaladaRana ituh.. (03) – Ketika Rana Disinar

  1. eng…

    aku juga nangis ik. padahal dulu aku juga ngalamin. dua malah. iya Tik. dua bayi sekaligus. dua bayi yang kecil banget, sampai dijadikan satu box waktu disinar. juga telanjang, dan hanya ditutup matanya. langsung dipisah dan disinar sejak lahir, dan aku datang meres susu juga tiap beberapa jam. dan mereka itu kecil banget.. mulutnya juga kecil. terlalu kecil untuk bisa ngemut penthil. jadi mereka minum pake selang. iya. selang yang dimasukkan dari hidung langsung ke lambung. lalu susternya akan memompakan ASI pelan-pelan. padahal mereka juga harus diselang oksigen. karena paru-parunya kecil, takut suplai oksigen ga cukup.

    *sik. ngelap iluh sik*

    tiga hari aku nginep walaupun pisah kamar. setelah itu aku ngga nginep. tapi tiap pagi dan sore aku datang setor ASI. dan untung mereka udah mulai bisa netek. Ir, yg lahir belakangan, nyedotnya kenceng banget… iya… meres ASI itu awalnya susah. sampai setengah jam keringetan cuma dapet seiprit. tapi lama-lama jadi pinter kalo nemu titik yang pas…

    sekarang bayi-bayi kecil itu udah gede. hampir segede aku (eh ndak ding. masih jauh). dan sampai sekarang, biar udah dibeliin ranjang sendiri-sendiri, mereka tetep ga mau pisah ranjang. lebih suka untel-untelan dan tendang-tendangan jadi satu kasur…

    sehat ya Rana…

  2. Jadi teringat waktu Java disinar,matanya ditutup,telanjang cuma pakai diaper.duhhh..rasane diiris-iris hatine..beruntung dapat donor ASI.Java waktu itu terpaksa sambung sufor karena ASI ku gak cukup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *