Buku “THE ART OF THINKING CLEARLY” ituh…

Saya barusan dapet buku ini dari Toko Buku Periplus.
THE ART OF THINKING CLEARLY.
Katanya sih buku ini adalah ‘The International Bestseller’.

 

Waktu itu sih penasaran pengen punya buku ini gara-gara baca di cover belakang bukunya. Nih begini katanya..

Buku ini ndak biasa.
Ndak sok moralis.
Ndak sok ngajarin ini itu.
Ndak sok paling bener.
Malah menurut saya kadang terlalu terus terang dan terlalu jujur.
Saya tuh baca buku ini, kadang manggut-manggut mikir, “WAH IYA JUGA YA…”
Tapi ya kadang lalu mengerutkan dahi mikir, “AH MASAK YA GITU SIH..”
Hihihihi…

Jadi di dalam buku ini ada 99 bab yang ditulis oleh Rolf Dobbeli.
Dimana di masing-masing bab, kita akan membaca kisah dan pengalaman lahir batin yang dialami oleh Rolf Dobbeli.
Pikiran-pikirannya tentang hal-hal yang menurut dia terlalu bias dalam hidup ini.
Bias, tapi menjadi keseharian banyak orang dan lalu dianggap hal yang wajar.

Nah, untuk Mas-Mas dan Mbak-Mbak yang terbiasa baca buku tebal dimana cerita mengalir dengan pembahasan analisa mendalam, kayaknya bakal sedikit kecewa sama buku ini.
Soalnya ya 99 bab di buku ini ditulis dengan padat.
Hanya 3-4 halaman untuk 1 bab-nya.
Singkat dan padat.

Contohnya, adalah di bab 99.
Bab terakhir.
Judulnya : “Why You Shouldn’t Read The News. ~ news illusion”

Rolf Dobelli bertanya begini di bab itu, “Kalian beneran butuh update semua berita terkini? Berita itu candu lho..”
2 abad lalu, kata Rolf, ditemukan suatu bentuk ilmu racun yg disebut “news”. Kabar berita. Yang sifatnya kayak gula pada tubuh. Gula itu kan kalau kena lidah rasanya menyenangkan. Mudah dicerna oleh badan. Tapi punya sifat destruktif/merusak untuk jangka panjang. Nah kata Rolf Dobelli, efek “news” pada otak manusia mirip dengan efek gula pada tubuh.

Rolf lalu bercerita bahwa dia pernah mengadakan eksperimen pada dirinya sendiri untuk menghentikan konsumsi berita.
Dia membatalkan semua langganan majalah dan koran. Radio dan TV disingkirkan. Aplikasi berita di iphone miliknya dihapus. Pokoknya si Rolf berusaha menghindari segala macam update berita.

Seminggu pertama, Rolf mengaku sangat berat. Sakaw. Seperti ada yang hilang. Seperti ada yang dicari-cari.
Menurut Rolf, “diet berita” ini bertahan sampai 3 tahun. Efeknya, dia mulai menemukan insight kehidupan yg lebih bermakna. Rolf mulai merasakan pandangan kehidupan yg baru. Pikiran jadi lebih jernih, dan ia bisa mengambil keputusan lebih baik juga lebih cepat. Dan juga banyak waktu tersisa untuk melakukan hal lainnya yang tadinya dihabiskan untuk membaca segala macam berita disana-sini.

Rolf menulis: “The best thing is, I haven’t missed anything important. Facebook works as a news filter and keeps me in the loop.”
Wah.. Jadi inget kalo Paman Tyo pernah berkata ke saya bahwa kita manusia era social media ini membaca berita yang terfilter oleh teman-teman kita.. Hmmm..

Rolf Dobelli lalu memberi 3 alasan utama mengapa kita membutuhkan perilaku “diet berita”.
Satu, otak kita sebenarnya bereaksi tidak pada proporsinya pada informasi-informasi yg berbeda.
Karena rata-rata kan ketertarikan kita sebenernya pada hal-hal dan gambar yang ‘sensasional’.
Yang heboh. Lalu dari heboh satu ke heboh yg lain.
Kita ini sangat suka pada hal-hal yang berbau selebrasi.

Alasan kedua, menurut Rolf “news” itu kadang ndak relevan dengan kehidupan kita.
Saya sebenernya rada ndak setuju sih sama alasan satu ini. Tapi ya sudahlah mari kita simak saja isi bukunya.

Rolf bertanya, “Coba tunjuk 1 berita yang kalian baca selama 12 bulan terakhir, yang membantu kalian mengambil keputusan lebih baik dalam hidup. Atau dalam pekerjaan. Atau dalam kisah percintaan.”
Lalu kata Rolf lagi, “Organisasi-organisasi pemuat berita selalu bilang pada kita, bahwa mengonsumsi banyak informasi itu akan memberikan keuntungan yang besar pada manusia”.
Nah kalau logikanya begitu, maka jurnalis yang selalu punya berita baru mestinya ada di “top of the income pyramid” dong. Tapi kan realitanya gak begitu. Jadi ya teori itu salah.
(Itu Rolf Dobelli yg bilang ya..)

Lalu alasan ketiga Rolf Dobelli untuk melakukan “diet berita” adalah : membaca berita itu membuang waktu.
Hahaha.
Rolf Dobelli menyuruh kita menghitung berapa waktu kita sehari membaca update berita terkini. Lalu jumlahkan seminggu. Dan setahun. Waktu yang dihabiskan untuk membaca berita ini menurut Rolf adalah waktu produktif yang hilang.
Rolf lebih menyarankan membaca artikel-artikel yang penuh latar belakang riset dan buku-buku daripada membaca berita update terkini.

Kata Rolf Dobelli: “Nothing beats books for understanding the world” ^^

Seru yaaa..
Itu baru 1 bab lho dari buku THE ART OF THINKING CLEARLY ini.
Masih ada 98 bab lain yang seru-seru…
Cuma kok ya pake bahasa inggris..
#halah

6 comments on “Buku “THE ART OF THINKING CLEARLY” ituh…

  1. saya malah rada alergi yg terjemahan, suka ngga pas :D enak mbaca sesuai bahasa pengarangnya aja. Btw news memang sering diplintir, apalagi yg berhubungan dg capital market, sampai hoax2 juga masuk BC huhuhu, dan hebohnya bisa nggerakin pasar. Sekarang news bisa di drive sama yg punya kepentingan mba, jadi ga anyak news memang jadi jernih hahahaha

  2. kalo beli buku ini musti bawa buku satu lagi: kamus. hehehehe..

    tapi aku kok setuju ya sama mas Rolef. Semakin lihat berita, kok pikiranku sedikit gak tenang soalnya jadi tau ini itu, iya kalo ini itunya nambah pengetahuan, kalo cuma nambah ati dongkol itu loh..

    *baca novel aja deh daripada baca berita #eh*

  3. jadi pengen beli dan baca.. tapi pasti butuh tenaga ekstra, karena saya blm begitu faham bahasa inggriss..
    tapi, bs jadi.. setelah baca buku ini. bukan sekedar 99 bab yg saya dapat, tp skill bhs inggris pun juga..

    beli aaahh..
    makasih infonya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *