Si Iko ituh..

Jadi di kompleks rumah sini banyak banget anak kecil.
Lalu ada anak cowok berumur 3.5 tahun, namanya Iko.
Entah kenapa, Iko belum bisa ngomong. Belum bisa mengutarakan apa maunya dengan bahasa yang proper. Banyak momen ketika Iko lewat rumah bersama susternya, cuma liat Iko teriak dan nangis dan banyak gerak. Udah kayak tarzan aja ketika menyampaikan maksudnya. Dan anaknya sangat hiperaktif.

Susternya pernah bilang, kalo ngomong sama Iko itu harus diliat matanya. Karena anaknya acuh sekali pada sekeliling.
(Tapi susternya Iko sendiri suka teriak2 aja dan nyeret2 Iko.. Mmm…)

Tadi pagi, ketika daku lagi nemenin Rana duduk di teras buat ngeliat langit dan mendengarkan suara burung dan menunjuk-nunjuk kucing yang bermalas-malasan, si Iko dan susternya lewat depan rumah.

Daku reflek menyapa dan dadah-dadah, “Hai Ikooo…”

Iko menoleh dan lalu berlari menuju teras rumah.
Biasanya si Iko ini ya anaknya nyelonong aja gitu. Bener-bener gak nganggep ada orang di sekitarnya.

Susternya sibuk berteriak dan menunjuk-nunjuk: “Ayo iko duduk. Duduk itu disitu. Disitu.”

Mmm..
Lalu aku coba ikut ngajak Iko duduk di teras.
Dengan nada suara rendah yang template kalo lagi ngomong ke Rana, cuma lebih pelan ngomongnya.

“Ikoo.. Duduk sini.. Duduk sini..”

Daku tepuk-tepuk lantainya sampe Iko menoleh ke suara tepuk2.
Lalu Iko pelan2 mendaratkan pantatnya dan duduk dengan manis.

Batinku, “Lha wong iso ngene lho, mbak.. Ora usah bengok-bengok..”
*jawa mode on*

Daku ajak ngobrol pelan-pelan.
Mencari dan menatap mata Iko.
Tersenyum. Menunjuk sesuatu sampai Iko melihatnya juga.
Anaknya agak menahan diri mau ngapa2in.

Ketika Iko mau rebut buku yg sedang dipegang Rana, daku tahan bukunya, menoleh ke Iko dna bilang,
“Iko mau pinjam buku? Iko mau pinjam buku yang ini ya? Sebentar ya tanya Rana. Rana, Iko mau pinjam buku yang ini boleh gak? Boleh?”

Dan Rana pelan-pelan menyodorkan bukunya ke Iko.

“Silakan, Iko.. :)

Terus tadi si Iko akhirnya juga pulang tanpa perlawanan. Susternya juga jadi ikut-ikutan ngomong pelan dan nada rendah.
Dan Iko jadi lebih memperhatikan.

Seneng ya liatnya.
Moral story: tidak ada gunanya berteriak-teriak pada bayi dan balita (dan anak-anak umur lainnya)

#halah #sokbijak #cuih

*cerita ini sudah diceritakan di facebook status tadi pagi sih.. maapkan cross posting..*

4 comments on “Si Iko ituh..

    1. Mmmm..
      Aku pernah punya niatan gitu tapi harus mikir-mikir juga caranya yang pas dan gak menyinggung, Eka.
      Masing-masing orangtua punya ego tentang anaknya soalnya..
      Dan takut juga kalo dibilang menggurui.
      Susternya sendiri ya menurutku udah sabar banget sebenernya. Cuma clueless aja mungkin ya menurutku soal how to treat him.

  1. Barusan aku praktekkan ke ponakanku (yg sudah kelas 2 SD!) , dia disuruh ibuknya untuk makan, tapi bandel dan masih tetep main sama temen2nya.

    Trus aku inget postingan ini (di facebooknya kak Tika), aku praktekkan dengan nada rendah dan pelan namun tegas.

    Eh, lha kok anaknya langsung ngambil makanab di piring yg daritadi dianggurin, trus dimakan deh..

    Aku masuk kamar lalu kembali lagi melihat apakah dia tadi makan beneran atau cuma ekting. Ternyata dia makan sampe habis..

    Huwaaah.. aku berhasil.. nada rendah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *