Alternatif Kata “Jangan” ituh..

Udah setahun ini latihan diet kata “jangan” dan “tidak”.
Berusaha memperbanyak kosakata kalimat positif daripada melarang dan mengeluarkan kalimat negatif ke Rana.
Awalnya beraaaaat..
Hahahaha.
Susah bangeeeet.
Pernah mikir,
“Mana mungkin menghilangkan kata ‘JANGAN’. Trus kalo mau ngelarang gimana dong caranya? Ini bulshit banget deh teori parenting..”

Tapi setelah latihan berkali-kali dan baca referensi parenting sana sini, makin kesini alhamdulillah makin merasa terlatih.
(Merasa doang sih..)
Yaaa gak instan yaaaa…
Butuh waktu lamaaaaa gitu buat membiasakan.
Karena gak ada yang instan kecuali indomie dan teh celup dan kopi sachetan…

Misalnya waktu Rana turun tangga, dia suka banget tuh lompat-lompat di tiap anak tangga.
Awalnya daku:
“Rana. Tidak lompat ya di tangga.”

Tapi yg ditangkep Rana ternyata cuma kata:
“Ompat! Ompat!”
Dan makin lompat-lompat.
Eeeerr..

Akhirnya setelah mikir-mikir, daku sama Rangga ganti dengan kalimat:
“Rana, kalo di tangga, jalan..”

Dan sukses banget. Dia menangkap kata:
“Jalan! Jalan!”
Lalu dia turun tangga dengan ‘berjalan’.
Hahaha..
YESS!
AKU MENANG!
#lah

Atau ketika Eyang-Eyangnya datang berkunjung.
Jadi kalo eyang-eyangnya Rana kan ya gitu ya.
“Jangan naik turun tangga! Jangan lari-lari! Jangan kesitu nanti kepleset! ”

Terus harus daku ulang:
“Rana boleh naik tangga, harus pegangan ya..”
“Rana boleh lari-lari, eyang, tapi hati-hati ya..”
“Rana, lihat lantainya. Lihat ke bawah. *tunjuk lantai sampe anaknya liat* Ada air. Licin. ”

Emang jd keriting sih.
Hahahahaahhaa.
Tapi mereka lama-lama paham aturan ngomong ke Rana kok.
Lama-lama.
Lamaaaaa…
*pukpuk*

Nah ini ada beberapa referensi contoh pengalihan kalimat negatif menjadi kalimat positif untuk disampaikan ke anak.

image

6 comments on “Alternatif Kata “Jangan” ituh..

  1. Di koridor sekolah anakku ada beberapa tulisan tertempel: “Berjalan di koridor.” Aku tadinya mikir, apa ya maksud tulisan ini? Baru pas ke sekolah pada jam istirahat aku ‘ngeh kalau maksud tulisan itu adalah bentuk positif dari ‘Jangan berlari di koridor’… hahaha…

    anak SD emang paling suka lari-lari dan susah dilarang ya, makanya sekolah menempel ajakan dengan kalimat positif, tidak memakai kata ‘Jangan’ :D

    1. Kenyataannya memang begitu sih., anak – anak dibilangin jangan malah seperti disuruh. Jadi memang harus terus berusaha mengurangi kata “JANGAN”..

      Jadi ingat, dulu waktu “JANGAN” masih sering terdengar di rumah. Sedikit-sedikit “JANGAN”.. akhirnya anak saya fasih sekali melarang orang lain dengan menggunakan kata “JANGAN”.

      Sebenarnya gak cuma kata-nya saja yang bermasalah. Tapi yang harus ditanyakan terlebih dahulu adalah apakah yang dilakukan anak tersebut harus kita larang (meskipun dengan kalimat positif). Seperti anak sedang memukul mukul sesuatu seperti seorang tukang. Bisa jadi hal tersebut gak ada masalah, biarkan saja jika memang tak ada yang terganggu. Kalau memang akan ada orang lain yang terganggu, misal adik yang bisa terbangun gara-gara suara pukulan, silakan dilarang dengan kalimat positif. Namun terkadang kita memang sukanya sedkit-sedikit melarang. Sehingga kreatifitas anak pun terhalang.

      O iya, tapi bagaimanapun menurut saya kata “JANGAN” dan “TIDAK” atau yang semisal, tidak mutlak dilarang untuk digunakan. Hanya saja saya belum tahu kapan hal tersebut diperbolehkan untuk digunakan. Yang jelas di dalam AlQuran, Allah menggunakan kata “JANGAN” untuk melarang hambaNya dari suatu perbuatan. Dan juga di dalam AlQuran, Luqman mewasiatkan kepada anaknya “Janganlah kamu menyekutukan Allah”.

      Oleh karena itu, menurut saya kata “JANGAN” tetap boleh digunakan, hanya saja tempat dan waktunya yang harus tepat. Dan seringkali pada prakteknya kita salah dalam menggunakannya.

      Maaf kalau komentarnya kepanjangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *