Perjalanan 2014 ituh..

Hari Jumat minggu lalu, tanggal 19 Desember 2014, daku dan Rangga diundang untuk makan malam dan ngobrol bareng sesama saudara seperbisnisan di bawah Pranala Group.
Ada 7 sister company di bawah Pranala yang diundang.

Nah kami masing-masing diminta untuk bercerita mengenai perjalanan yang dilalui di tahun 2014.
Dan diminta menuliskannya di kertas, untuk dibaca di acara makan malam tersebut.
Setelah ribet mikir, akhirnya ngebut di hari Jumat siang nulis.
Dan jadinya inilah Perjalanan 2014 yang daku bacakan malam itu :

————————–
*kasih liat video Rana sama Rangga main bareng siang-siang, main gitar pas mau tidur siang.
Pas hari kerja. Ada di instagram.*

Ini adalah rekaman, Rangga menemani Rana tidur siang, di suatu hari kerja.
Kalau Rangga gak ada meeting keluar dan gak ada deadline mendesak, Rangga hampir selalu menemani Rana tidur siang.

Kalau ditanya soal perjalanan tahun 2014, buat saya, 2014 itu adalah tahunnya Rangga belajar mengurus semua kebutuhan Rana.
Dan tahunnya kami berdua berjuang menghadapi hari tanpa Asisten Rumah Tangga.

Awal tahun 2014, dipenuhi dengan kegalauan menghadapi tawaran project sana-sini yang mengalir, tapi kami berdua terbatas tenaga dan waktu.
Awal tahun 2014 utk kami berdua, dibuka dengan perasaan surprise mengetahui bahwa staf dan tim kerja kami makin membengkak. Di bulan Desember 2013, lebih dari 15 orang yang harus kami transfer feenya.
Dan di awal tahun 2014, dimulai dengan munculnya pertanyaan dari saya ke Rangga.
“Mau sampai kapan sih ngerjain ini semua sebagai side job? Emangnya kamu sanggup ngerjain kerjaan ThinkWeb sekaligus ngurusin project klien-klien kita berdua?”

Daaan akhirnya setelah ngobrol sama banyak orang, curhat sama Ramya, ketemuan sama Pak Bri, dan banyak senior-senior lain yang kami kenal, akhirnya Rangga resign juga dari ThinkWeb awal bulan April 2014.
Dan lalu mendirikan badan bisnis baru bernama TRYS.

Yang lucu, ada 1 kebingungan yang muncul selama  Rangga menimbang dan memutuskan utk resmi “gak punya kantor”.

Gimana kalo ditanya orangtua kami masing-masing ya? 

Masalahnya orangtua kami berdua lumayan konvensional, bahkan dua-duanya adalah PNS..
Jadi di awal-awal, kami memutuskan untuk tidak bercerita apapun soal status Rangga.


Alhamdulillah ketika TRYS berdiri, yang kita berdua juga gak tau tanggal berapa tepatnya Trys didirikan, kita udah gak kesulitan dan melompati proses susahnya mencari klien.

Sudah ada beberapa klien yang memang dari tahun 2013 (bahkan ada yang dari tahun 2012) kita garap maintenancenya. Plus tawaran untuk ngurusin buzzer social media selalu
ada dari sana-sini.
Padahal kesempatan melakukan networking bisa dibilang tipis.

Alhamdulillah ya.

Rejeki anak soleh.
Dan juga berkat kekuatan sedekah. 

#tsaaaah


Jadi kami berdua cukup bisa pamer di depan orang tua kami masing-masing, bahwa memang jalan ini yang mantap kami pilih.
Rangga dan Tika, bekerja dari rumah.

Bulan Agustus 2014, baby sitter Rana (yg fungsinya juga sebagai Asisten Rumah Tangga) memutuskan berhenti membantu kami setelah lebaran.

Karena kelimpungan, awalnya kami ngungsi dong ke rumah eyang-eyangnya Rana.
Selama 2 minggu.
HAHAHA.


Tapi entah lupa juga gimana ceritanya, kami berdua malah berpikir, ya udah deh gak usah punya pembantu dan baby sitter dulu kali ya.

Kami, dengan sombongnya, berpikir bahwa, yah beresin rumah sendiri mah bisa kali yaaa..

Nemenin Rana main sendiri sambil kerja bisa kali yaaaa..
Toh kami punya baby sitter juga baru setelah Rana berusia 15 bulan.

Akhirnya bermodal nekat, kami memulai hari-hari bertiga saja di rumah.

Tanpa pembantu. Tanpa baby sitter. 

Mungkin buat orang lain biasa aja.

Tapi buat kita berdua yang biasa sehari-hari bepergian tanpa perlu khawatir kondisi rumah dan kondisi Rana, rada butuh nekat juga.

Jadi tiap hari, kami menghadapi list pekerjaan beres-beres rumah, list pekerjaan dari klien, mengurus dan menemani Rana main.

Kami juga harus melakukan monitoring hasil kerja tim LDR kami.
Disebut tim LDR, Long Distance Relationship, karena dari 15 orang yang membantu kami mengerjakan project sehari-harinya berdomisili dan berhabitat di luar kota.
Ada yang tinggal di Bandung, ada yang di Surabaya, dan ada yang di Jogja.

Rangga suatu pagi pernah bercerita, tentang visi-misi dan value yang dia ingin berikan untuk tim LDR kami.
Menurut Rangga, orang-orang yang tergabung dalam tim kecil kami ini, untuk mendapatkan uang tak perlu bekerja jauh dari anak dan keluarganya.
Seperti cara kerja yang sedang kami lakukan sekarang ini.
Tanpa harus bertemu muka tiap hari, pekerjaan bisa tetap berjalan, request klienpun bisa dipenuhi.

Apakah selalu lancar?
Tentu tidak.
Namanya juga hidup.
Kadang di bawah. Kadang di atas.
Kadang siang kemaren harus nggosok kamar mandi, kadang siang ini harus mantengin laptop bikin laporan buat klien.

Kadang malam ini harus ngepel lantai, kadang malam lainnya memutuskan makan di luar aja karena males masak.

(Dan lebih sering makan di luarnya dong daripada masak di rumah.. )

Kadang kami gembira mendapati tim LDR kami, yang walaupun kerjanya remote, tapi disiplin dan rajin.
Kadang juga merasa galau harus mengatasi orang-orang yang tidak perform dan tiba-tiba menghilang, tidak bisa dikontak, atau kerjanya lelet.
Kadang bingung gimana cara motong kontrak pekerjaan mereka.

Kadang pagi ini bisa bangun jam 8 dan mandi jam 11.
Kadang pagi lain harus bangun jam 5 pagi sambil ngantuk berat karena list deadline bertumpuk, padahal harus nemenin Rana yg histeris karena diganggu hal-hal mistis sampai jam 2 pagi.

Kadang lega tidak harus menempuh macetnya pergi ke kantor di pagi hari, kadang sirik juga liat teman yang sering nongkrong tanpa harus ribet mikirin bawa anak kesana-sini.

But anyway, saya merasa beruntung sekali punya suami dan partner kerja seperti Rangga.
Yang tidak malu dan tidak segan turun tangan cuci piring, nyapu dan ngepel, nganter jemput laundry, ngurusin Rana dari mulai bikinin makan, mandiin sampai urusan bersih-bersih pupnya Rana.
Sejak gak punya baby sitter dan pembantu, kami dipaksa survive menjalani semuanya bertiga.


Apakah seideal itu tiap harinya, Tik?

Ya tentu tidak dong.

Kami manusia biasa.

Bukan robot yang bisa disetel gembira dan positif 24 jam selama 7 hari.

Kadang bete juga, dan sirik liat temen-temen seumuran, sama-sama punya anak, bisa nongkrong kesana kemari bergaul dan meeting.
Kadang bosen banget di rumah, dan cucian piring numpuk 4 hari, lantai gak dipel seminggu, lalu badan gak mandi 3 hari.
HAHAHAHA.

Tapi sekali lagi, melihat perjalanan 2014, kami memang dipaksa survive.
Memikirkan jalan keluar.

Mencari cara agar bisa melewati hari.

Kalau saya lagi banyak deadline, Rangga yang menemani Rana makan pagi.

Kalau Rangga harus meeting kesana kemari, Rana nempel Mamanya.

Kalau kami berdua sama-sama sibuk gimana?
Ya udah, Rana nempel sama kucing.
Atau main sendiri.
Atau nonton film.
Kami cukup beruntung, Rana tumbuh dengan baik dan mandiri.
Dan cukup solitaire, karena tanpa teman, dia bisa asik main sendiri.


Keputusan kami untuk menerapkan teori-teori dari buku parenting ternyata cukup ada hasilnya.
Itu salah satu alasan kami berdua, untuk tidak mengambil baby sitter dulu sementara ini.
Cukup capek mencari baby sitter dengan karakter yang kami mau.
Tepatnya sih karakter yang Tika mau ya.
Hihihi..

Kesolidan kami juga diuji waktu Rana mendadak sering histeris tengah malam selama berhari-hari.

Rana tiba-tiba didiagnosa berbakat indigo.

Bukan hanya sekedar “sensitif” biasa, sekedar bisa melihat hal ghaib.
Bukan juga sedang melalui fase “sensitif” seperti yang dilalui banyak balita 2 tahunan lainnya.
Tapi Rana divonis memang berbakat indigo yang akan dibawa sampai besar.
Bengong juga waktu dengar vonis itu, karena emak dan bapaknya Rana sama sekali gak punya cerita-cerita mistis sejak kecil.


Rana divonis beraura terbuka dan terang, yang mengundang makhluk-makhluk astral untuk mendekat, bahkan mengikuti kemana saja Rana pergi.

Rana sempat tak mau makan dan minum berhari-hari, histeris sepanjang waktu.
Mukanya tirus, bibirnya pecah-pecah berdarah, tenaganya habis hampir tak ada energi.
Hampir tiap malam kami kurang tidur. 

Waktu itu, kami secara spontan membagi tugas dalam kepanikan.

Rangga yang menemani Rana, saya yang bergerilya mencari informasi kesana-kemari.
Alhamdulillah singkat cerita, akhirnya Rana bisa “normal” kembali, mau makan dan minum, dan bisa ceria kembali.
Auranya ditutup oleh seorang Pak Ustadz yang kami “temukan” di wilayah Bandung.
Aura Rana akhirnya tak menarik perhatian makhluk Astral lagi untuk mengerubunginya.
(Nanti kapan-kapan diceritakan lebih detil di postingan lain kali ya..)

Kepanikan sepanjang mencari solusi untuk Rana sepertinya masih kurang.
Tuhan masih memberikan kepanikan lain karena mendadak di waktu yang bersamaan, banyak deadline project datang tanpa bisa ditolak.

(Sebenernya sih bisa ditolak, tapi makan di restoran tiap malam kan butuh duit yaaa..)


Kesabaran menghadapi histerisnya Rana di masa-masa itu kayaknya jg masih belum cukup buat jadi ujian.
Tuhan masih memberikan cobaan komentar-komentar negatif yang cukup bikin mental ngedrop sepanjang perjalanan mencari solusi buat Rana.
Bahkan ada yang menuding kami melakukan praktek syirik.

Sekali lagi, saya beruntung punya suami seperti Rangga yang selalu mendukung, segila apapun ide yang ingin saya lakukan.

Apapun komentar orang, Rangga cuma bilang: “Aku percaya kamu. Aku dukung kamu. Ayo kita coba.”

Tapi memang benar ya kata pepatah yang basi itu.

Badai pasti berlalu.
Jangan berhenti. Jangan menyerah.

Perjalanan menuju puncak itu pasti banyak kerikil dan batu, yang sewaktu-waktu bisa bikin kita kesandung dan jatuh.
Tapi seperti yang sering kami katakan ke Rana, “Jatuh ya? Ada yang sakit? Bangun lagi yuk..”

Dan itulah tahun 2014 kami.

Semoga di tahun 2015, kami makin lincah menguasai dan menari dalam hidup.
Terima kasih.
————————–

Hihihi.
Panjang yaaaa..

13 comments on “Perjalanan 2014 ituh..

  1. Punya anak itu memang tantangan.
    Tantangan kesabaran, tantangan mengusir keegoisan untuk bisa tetep hangout atau sekedar nyalon.
    Tapi dirimu dan Rangga keren juga loh bisa kerja di rumah. Jadi lebih tau perkembangan Rana setiap harinya.
    Pengen suatu saat nanti saya akhirnya berani memutuskan u/ ga ngantor (tapi tetep berpenghasilan tentunya). :D

  2. Suka baca tulisan sharing kamu, Tika. Beneran hidup itu kadang di atas, kadang di bawah, dan kalau bisa melalui semua itu dan bisa menarik pelajaran dari semuanya… pasti senang dan membahagiakan :)

    Salut buat kamu dan Rangga, Tika! Kalian menjadi role model dan inspirasi juga lho, minimal buatku :) :)

  3. Tulisan yg menyenangkan.. Bikin ikut nostalgia ngapain aja aku setahun kemaren.:D

    Kamu, rangga dan rana saling bersinergi satu sama lain.
    Kekuatannya luar biasa ..hehe

  4. Perjalanan 2014 yg kereen! Ada klimaknya di bagian Rana yg teriak histeris itu.. trus grafiknya turun ketiak akhirnya nemu solusi..

    Udah kayak film kak Tik!

    Ayo bikin film! #BaladaRana HAHAHA…

  5. di bagian yg bilang kadang di dpn laptop kadang di ngosek wc itu bener2 ‘aakk gw banget’ seneng rasanya ketemu pasangan yg bekerja dari rumah jg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *