Kenapa Kemampuan Mengendalikan Diri Pada Anak itu Penting?

​”Randomly open your favourite books. See the first sentence caught with your eyes..”

Tiba-tiba pagi ini teringat quote ini.

Katanya sih, semesta memberikan petunjuk lewat hal random yg kita lihat di jalan, lewat kita dengar selewat di radio, lewat halaman yg gak sengaja kita buka, lewat lagu yang gak sengaja kita dengar.
Katanya sih gitu.

Lalu daku ke rak buku. Random mengambil buku ini. Judul bukunya:
“Welcome to Your Child’s Brain.”


Udah lama punya buku ini. Tapi belum dibaca banget sampai habis. Dibaca random aja sesuai kebutuhan.

Daku random buka halaman buku. Dan pas banget yang terbuka adalah halaman di bab ini.

Tertulis:

“Hadiah terbaik yg bisa anda berikan ke anak: PENGENDALIAN DIRI”.

Waaa.. Kok bisa pas bangeeet topiknya. Hahaha. Emang daku lagi mengajari (ulang) ke Rana, how to control herself di area publik.

Quotenya mujarab deh. Langsung kena ke yang daku butuhkan.

Balik ke buku tadi. Tentang pengendalian diri pada anak.

Kenapa sih kok pengendalian diri disebut “hadiah terbaik untuk anak”?

Karena katanya, pengendalian diri ini adalah kemampuan dasar menuju sukses.

Jadi kata buku ini, ada riset tentang kemampuan pengendalian diri balita. Hasil riset tersebut mengatakan, kemampuan pengendalian diri, ternyata nantinya ketika si anak besar akan mempengaruhi dan mendasari prestasi akademik dan kesuksesan interpersonal mereka.
Pada balita di usia 3-4 tahun, katanya untuk menolak suatu godaan adalah perjuangan yang berat bagi mereka. Kemampuan pengendalian diri ini kadang kasat mata dan jarang dihargai.

Kata buku ini, mendorong anak dan menstimulasi mereka untuk mempelajari strategi pengendalian diri di usia dini, akan berbuah manis untuk bertahun-tahun setelahnya.

Jadi ada tes klasik nih yang dibikin para psikolog untuk anak. Namanya Tes Marshmallow.

Tesnya sederhana. Mekanisme tesnya begini. Di sebuah meja, diletakkan 1 buah marshmallow. Lalu si anak diberitahu bahwa dia bisa mendapatkan 2 buah marshmallow, kalau dia bisa menunggu beberapa menit, tanpa memakan marshmallow pertama.

Si anak diberikan sebuah lonceng untuk ia bunyikan jika dia merasa tidak bisa menunggu lebih lama. Si  anak bisa membunyikan lonceng kapanpun dia sudah merasa menyerah, dan akan mendapatkan 1 buah marshmallow saja. Ini semacam melambaikan tangan ke arah kamera ya? Hahaha..

Hasil riset menunjukkan, rata-rata anak usia 4 tahun bisa menunda (atau mengendalikan diri) untuk tidak membunyikan lonceng sekitar 6 menit.
Anak yang bisa menunda sampai 15 menit, dinilai menunjukkan kinerja pengendalian diri yang luar biasa. Dan langsung mendapatkan 2 buah marshmallow sesuai janji.
Setelah diteliti lebih lanjut, anak usia 4 tahun yg berkinerja baik pada Tes Marshmallow umumnya berusaha mengalihkan perhatian mereka dari godaan marshmallow. Mereka berimajinasi selama menunggu. Dan para psikolog menyimpulkan, bahwa penting juga untuk menstimulasi kemampuan berimajinasi anak, yang selanjutnya akan mendukung kemampuan pengendalian diri mereka.

Lebih dari 10 tahun kemudian, riset tersebut dilanjutkan. Skill “menunda” di usia prasekolah ini ternyata  lalu berhubungan erat dengan skor masuk ujian perguruan tinggi mereka.
Kata buku ini lagi, skill “menunda” di usia prasekolah juga berhubungan dengan kemampuan mengatasi stres dan frustrasi pada usia remaja. Tak kalah pentingnya juga, adalah menunjang kemampuan konsentrasi.

Anak-anak yang baik dalam hal mengendalikan perilaku diri sendiri menunjukkan kadar perasaan marah, takut,dan rasa tidak nyaman lebih rendah dibanding teman sebaya. Empati anak-anak inipun dinilai lebih tinggi dari teman seumurnya. Mengapa begitu? Mungkin ini karena mereka hebat dalam mengatur emosi mereka sendiri dan juga dalam memperhitungkan emosi orang lain.

Terus gimana dong tipsnya mendorong skill anak dalam hal mengendalikan diri sendiri?

Di buku ini sih sangat menekankan pada pengalaman bermain si anak, yang disertai aturan-aturan mengikat.

Buku ini menyarankan untuk merangsang anak melatih pengendalian diri sebanyak mungkin lewat permainan menyenangkan, menggunakan aturan.
Sebisa mungkin orang tua juga menahan diri untuk tidak terlalu ikut campur saat anak berproses.

Poin ini menurut daku penting. Karena mengajarkan anak untuk bisa mengendalikan diri, berarti orang tuanya terlebih dahulu yang harus belajar mengendalikan diri. Masuk akal sih ya. Hahaha.
Katanya, kalau orang tua terlalu sering ikut campur dalam setiap keputusan anak, maka pengalaman yang membentuk proses anak belajar mengelola tindakan akan terampas. Mereka tidak mempunyai bekal pengalaman yang cukup dalam mengolah rasa dan akal untuk pengambilan keputusan.

Banyak buku parenting lain sarankan ortu memberi pilihan, dan si anak bs belajar memutuskan.

Trs ada tips lain, utk merangsang kemampuan imajinasi atau berpura2.

Saat anak harus menunggu, ortu bs ajak anak berpura2 jd penjaga istana.

Kenapa ada tips utk “berpura-pura”?

Karena berpura-pura utk anak itu menyenangkan.

(Halah yg dewasa jg seneng sih ngayal2 gak jelas 😂)

Permainan berkhayal antara anak & ortu, disertai aturan serius katanya bs memotivasi anak utk mengendalikan diri.

Berguna bgt saat dewasa.

Lalu ada lg, soal hukuman yg berulang pd anak saat mrk gagal melakukan sesuatu. Malah memicu penolakan drpd peningkatan pengendalian diri.
Trs katanya gini.

Ketika anak merasa sukses mengatasi suatu tantangan, akan membangun mental mereka.

Tapi ketika anak gagal berulang kali..

Ketika anak berulang kali merasa gagal melakukan sesuatu, mungkin malah justru mengajari anak bahwa tidak ada gunanya mencoba. Wa..

Ya terus gimana dong? Katanya sih ukur jg kekuatan anak. Kalau standar sukses ortu terlalu tinggi, anak2 (sejak balita) bs stres.

Katanya, biarkan si anak memilih antusiasme mereka sendiri dalam kegiatan sehari-hari. Ada yg senang membangun kastil, ada yg senang menari.

Mungkin gak penting hal apa persisnya yg memicu anak. Selama mereka bs tertarik pd 1 kegiatan & konsentrasi ke situ, mrk akan mengatur diri.

Kalimat terakhir bab ini: “Permainan memiliki banyak manfaat bagi anak. Sebagaimana kami eksplorasi di bab berikutnya.”

Baiklah, kapan-kapan lagi daku baca bab berikutnya. Hahaha..

3 comments on “Kenapa Kemampuan Mengendalikan Diri Pada Anak itu Penting?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *