Apa Guna Sekolah Rana Buat Daku?

​Ini dari komentar daku di status Path si Kapkap kemaren malam.
Panjang amat gitu lho.
Ya udah dijadiin postingan baru aja di blog.

πŸ˜‚πŸ˜‚

—————-

Beberapa malam lalu, daku sama Rangga ngobrol.
Tentang apa target kemajuan Rana setelah lepas umur 6 tahun.
Ketika dia mulai masuk SD.

Sementara ini, selama balita, target kami ya cuma tentang karakter Rana. Tentang good attitude, tentang hukum sebab akibat, konsekuensi perbuatan, mengasah pola pikir universal, mengasah mental mau berusaha, mau mencoba ini itu, dan juga membentuk kemampuan berkomunikasinya Rana.

Aktivitas seperti sekolah justru cuma bonus pengisi waktu senggang dan Rana melakukannya sejauh dia happy aja.
Rangga kemarelin bercerita tentang apa yang terbersit di pikirannya ketika mengantar Rana ke sekolah tiap pagi.

Di sekolah Rana, Rangga melihat anak-anak kok happy bener ya masuk sekolah tuh. Main bola, lari-lari, main ini, main itu.

Lalu Rangga jadi kilas balik umur-umur dia bersekolah dulu.
Dia jadi merenung, kapan ya terakhir dia senang dan excited pergi ke sekolah?
Kami lalu jadi ngobrol panjang lebar soal masa-masa sekolah kami.

Menertawakan bahwa kok ya sedikit amat ya materi pelajaran yg kami ingat, padahal menjalani sekolah belasan tahun.

πŸ˜‚

Lalu Rangga bilang,
“Coba sejak SD atau SMP aku dikasih wawasan soal bagaimana berbisnis. Kayaknya lebih berguna deh buatku ketimbang belajar biologi. Dan pasti aku lebih powerful lebih awal.
Aku ke sekolah kayaknya cuma happy kalo bisa main bola sebelum masuk sekolah dan pulang sekolah doang.”

Hahaha.. πŸ˜‚

Lalu entah bagaimana, kami lalu sepakat tentang satu hal. Kami kayaknya gak begitu peduli Rana mau berprestasi secara akademis di sekolah atau gak.
Malah, kalau Rana memang sudah tau minatnya apa, dan kami tau bakatnya, sebisa mungkin difokuskan sejak dini.
Jika dia gak berminat dengan sekolah konvensional, maka mau skip di jenjang sekolah konvensional pun gak masalah.

Rangga juga punya rencana jangka panjang baru buat Rana.
Kalau bisa Rana mengenal apa itu bekerja, bagaimana cara mendapat uang dengan fun sejak kecil.

Entah bagaimana kami sepakat tentang satu hal. Bahwa justru karakter Rana yang utama untuk bisa survive di sepanjang hidupnya kelak.
Kesimpulan ini kami ambil dari pengalaman hidup kami sehari-hari, mengamati diri kami sendiri, mengamati teman-teman di sekeliling kami, mencermati cerita orang-orang yang kami kagumi.

Pengetahuan dan wawasan?
Ini jaman digital. Bahkan dakupun belajar psikologi anak melalui buku dan internet. Tanpa menempuh jenjang pendidikan formal.
Bisa kok didapatkan dari buku dan atau kami kenalkan ke expert langsung.
Jika memang anaknya tak tertarik dengan sekolah konvensional.

Jadi bahkan sekarang ini, daku menganggap dia homeschooling.
Lalu untuk hiburan, penambah wawasannya dan pengasah rutinitasnya, tiap pagi dia berangkat ke sekolah.
Bertemu temen-temennya.
Bertemu gurunya.
Bertemu lingkungan di luar rumah.

Di sekolah, buat daku, Rana harus berjuang menghadapi orang-orang asing dan belajar bagaimana menghadapi karakter-karakter yang berbeda dengan dia, pun berbeda dengan Papa Mamanya.

Dia harus beradaptasi.
Dia harus bernegosiasi.
Dia harus membuka dirinya.
Dia harus bertoleransi.
Dia harus membuka pikirannya.

Yang lainnya?
Entah bagaimana sekarang ini gak terlalu penting buat daku dan Rangga.

Tapi senang juga lho kalau tiba-tiba Rana pulang dan bercerita ini itu.
Senang kalau tiba-tiba Rana membawa hal baru untuk dinyanyikan, atau hal lain yang Papa Mamanya gak kepikiran untuk mengajarkan.
Sekolah adalah vendor yang kami bayar, untuk membantu perkembangan Rana.

Rana jadi melatih dirinya berkomunikasi dengan orang asing.
Semisal dia harus minta ijin sendiri kalo gak masuk sekolah.
Semisal dia harus mengungkapkan rasa tak suka ketika diganggu temannya, atau bahkan ketika dia tak suka perlakuan gurunya.

Rana belajar mempertahankan teritorinya sekaligus belajar apa itu teamwork. Dia belajar mencoba ini itu dan membuka dirinya terus-menerus tentang hal baru di luar rumahnya.
Dia belajar tentang konsekuensi di luar sana, hukum sebab akibat yang lebih bervariasi ketimbang yg mampu diberikan Bapak Ibunya.

Kan malah karakter-karakter itu ya yang nantinya dicari dalam manusia dewasa?

Kalau karakter-karakter itu sudah dibina dan dicicil sejak dini, daku dan Rangga membayangkan, hidup remajanya Rana mungkin akan lebih survive dan lebih tangguh ketimbang masa remaja orangtuanya.

Kalau karakter-karakter itu sudah bisa lulus di diri manusia sejak dini, dia mungkin gak perlu mengalami gegar budaya dan gap kenyataan yang terlalu jauh rentangnya, ketimbang yang dialami orangtuanya.

Apakah kami lepas Rana seutuhnya di sekolah?
Oh tentu tidak.
Justru daku dan Rangga harus terus memantau tantangan-tantangan yang didapat Rana selama di sekolah. Karena kami juga jadi belajar hal baru. Karena kami harus menggawangi Rana agar tetap sejalan dengan visi misi pengasuhan kami.

Karena kami memutuskan, bagaimanapun juga pendidikan karakter Rana adalah terutama dari orangtuanya.
Kami harus menggawangi pembentukan pola pikir Rana. Karena kami sepakat, pola pikir adalah basic karakter seseorang.

Pola pikir yang seperti apa sih?
Wa itu bisa jadi postingan blog baru.
Hahahaha..

Sekolah buat Rana, sampai detik ini, buat daku (dan Rangga) gunanya adalah seperti di atas.

SUMPAH INI KOK YA PANJANG AMAT NULISNYA.
Terima kasih Ismet dan Kapkap sudah mengangkat topik ini. 😘

2 comments on “Apa Guna Sekolah Rana Buat Daku?

  1. Keren banget loh kak. Aku dari tadi serius baca dari awal sampe akhir sambil manggut manggut setuju.. Soalnya anak jaman sekarang, di tempatku sini, temenku kebetulan ada beebrapa yg masih SMA, dan dia masih bingung menentukan arah hidupnya akan ke mana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *